TANYA DONG, DOK: Anak Saya Punya Alergi. Apakah Imunisasi Aman atau Harus Ditunda?

Anak Saya Punya Alergi. Apakah Imunisasi Aman atau Harus Ditunda?

Pertanyaan

Dok, anak saya punya alergi sejak kecil. Kalau makan telur kadang muncul bentol, kulitnya juga sering eksim, hidungnya mudah meler dan bersin, bahkan pernah sesak saat batuk pilek. Saya jadi takut memberikan imunisasi karena banyak yang bilang anak alergi tidak boleh divaksin, nanti bisa syok, alerginya semakin parah, bahkan ada yang mengatakan vaksin bisa memicu penyakit lain. Benarkah anak yang memiliki alergi makanan, eksim, asma, atau rinitis alergi tidak boleh diimunisasi? Kapan imunisasi tetap aman diberikan, dan kapan memang harus ditunda atau dihindari?

Jawaban

Kekhawatiran seperti ini sangat sering disampaikan oleh orang tua, tetapi berdasarkan bukti ilmiah, sebagian besar anak dengan penyakit alergi tetap dapat menerima imunisasi sesuai jadwal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), American Academy of Pediatrics (AAP), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa alergi makanan, dermatitis atopik atau eksim, rinitis alergi, urtikaria, maupun asma yang terkontrol bukan merupakan kontraindikasi pemberian vaksin. Penyakit alergi terjadi karena sistem imun bereaksi berlebihan terhadap zat tertentu seperti makanan atau alergen lingkungan, sedangkan vaksin bekerja dengan merangsang pembentukan kekebalan spesifik terhadap kuman penyebab penyakit. Mekanisme imunologinya berbeda sehingga keberadaan penyakit alergi tidak membuat vaksin menjadi berbahaya. Justru anak dengan penyakit alergi tetap memerlukan perlindungan terhadap infeksi karena beberapa penyakit infeksi dapat memperberat gejala asma, memperburuk eksim, meningkatkan risiko rawat inap, bahkan menyebabkan komplikasi yang serius.

Reaksi alergi berat setelah imunisasi sebenarnya sangat jarang terjadi. Berbagai studi epidemiologi menunjukkan angka anafilaksis akibat vaksin hanya sekitar satu hingga dua kasus per satu juta dosis vaksin yang diberikan. Sebaliknya, jutaan anak di seluruh dunia menerima vaksin setiap hari tanpa mengalami efek samping yang serius. Efek samping yang paling sering muncul hanyalah nyeri di tempat suntikan, kemerahan, bengkak ringan, atau demam yang akan hilang dalam satu sampai dua hari. Penelitian yang melibatkan jutaan anak juga menunjukkan bahwa imunisasi tidak meningkatkan kejadian alergi, tidak menyebabkan asma, tidak memperberat dermatitis atopik, dan tidak menyebabkan autisme. Karena itu, manfaat imunisasi dalam mencegah penyakit seperti campak, difteri, pertusis, hepatitis B, meningitis, pneumonia, maupun polio jauh lebih besar dibandingkan risiko terjadinya reaksi alergi yang sangat jarang.

Hal yang perlu diperhatikan bukanlah riwayat alergi secara umum, melainkan apakah anak pernah mengalami reaksi anafilaksis terhadap dosis vaksin sebelumnya atau terhadap komponen tertentu yang terdapat di dalam vaksin. Beberapa komponen yang diketahui dapat menimbulkan reaksi alergi pada individu yang sangat sensitif antara lain gelatin, neomisin, polyethylene glycol (PEG), polysorbate, atau protein telur dalam jumlah yang sangat kecil pada beberapa jenis vaksin tertentu. Namun, alergi terhadap susu sapi, udang, ikan, kacang tanah, kedelai, gandum, maupun sebagian besar alergi makanan lainnya bukan merupakan alasan untuk menunda imunisasi. Bahkan anak dengan alergi telur saat ini tetap dapat menerima sebagian besar vaksin influenza berdasarkan rekomendasi terbaru karena kandungan protein telur sangat rendah dan terbukti aman pada hampir seluruh penderita alergi telur. Sebelum imunisasi, dokter akan melakukan skrining mengenai riwayat alergi, riwayat reaksi terhadap vaksin sebelumnya, dan kondisi kesehatan anak saat itu untuk memastikan vaksin diberikan dengan aman.

Orang tua tidak perlu menunda atau menolak imunisasi hanya karena anak memiliki penyakit alergi. Keputusan untuk tidak memberikan vaksin hanya berlaku pada kondisi yang sangat terbatas, yaitu apabila pernah terjadi anafilaksis yang terbukti disebabkan oleh vaksin yang sama atau salah satu komponen vaksinnya. Setelah imunisasi, setiap anak biasanya diobservasi selama sekitar 15 menit, sedangkan anak dengan riwayat anafilaksis karena penyebab apa pun dapat diobservasi sekitar 30 menit sebagai langkah kewaspadaan. Dengan prosedur skrining yang baik, tenaga kesehatan yang terlatih, serta ketersediaan penanganan kegawatdaruratan, imunisasi tetap merupakan tindakan yang sangat aman. Bukti ilmiah selama puluhan tahun menunjukkan bahwa manfaat vaksin dalam mencegah kecacatan, komplikasi, dan kematian akibat penyakit infeksi jauh melampaui risiko efek samping yang sangat jarang terjadi. Orang tua sebaiknya mendiskusikan setiap keraguan dengan dokter, sehingga keputusan yang diambil didasarkan pada bukti ilmiah, bukan pada informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *