VAKSINASI ANAK USIA 1–12 TAHUN: PERLINDUNGAN BERKELANJUTAN, JADWAL IMUNISASI, PILIHAN VAKSIN, EFEK SAMPING, DAN BIAYA DI JAKARTA 2026
Imunisasi tidak berhenti setelah masa bayi. Anak usia 1–12 tahun tetap membutuhkan imunisasi lanjutan, booster, imunisasi kejar, dan pada kondisi tertentu vaksin tambahan. Tujuan vaksinasi adalah mempertahankan kekebalan terhadap penyakit infeksi serta memberikan perlindungan sebelum anak mengalami paparan. WHO menyatakan bahwa vaksinasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif untuk mencegah penyakit berat, kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Pada kelompok usia ini, vaksin yang perlu dievaluasi meliputi vaksin difteri, pertusis, tetanus, polio, campak-rubela, serta vaksin tambahan seperti varisela, Hepatitis A, influenza, tifoid, pneumokokus pada kelompok tertentu, Japanese Encephalitis sesuai risiko, dengue pada kelompok usia dan wilayah tertentu, serta HPV mulai usia 9 tahun. Tidak semua vaksin tambahan diperlukan oleh setiap anak. Pemilihannya harus mempertimbangkan usia, riwayat imunisasi, kondisi kesehatan, risiko paparan, serta rekomendasi dokter.
Setelah anak melewati usia 12 bulan, sistem imun terus berkembang dan anak mulai mengalami paparan lingkungan yang lebih luas. Anak mulai masuk kelompok bermain, sekolah, kegiatan olahraga, perjalanan, serta berbagai aktivitas sosial. Kondisi tersebut meningkatkan peluang kontak dengan berbagai mikroorganisme.
Vaksin bekerja dengan melatih sistem imun mengenali antigen tertentu sehingga tubuh dapat memberikan respons yang lebih cepat ketika kemudian menghadapi mikroorganisme penyebab penyakit. Vaksin tidak menyebabkan penyakit yang dicegahnya.
Pada usia sekolah, imunisasi juga memiliki fungsi penting dalam mempertahankan perlindungan yang diperoleh sejak bayi. Program pemerintah Indonesia menjalankan Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS untuk memberikan imunisasi lanjutan pada anak sekolah dasar dan kelompok usia sekolah tertentu.
Karena itu, pemeriksaan buku imunisasi menjadi langkah pertama sebelum memberikan vaksin tambahan. Anak dengan imunisasi yang belum lengkap dapat menjalani imunisasi kejar berdasarkan vaksin yang telah diterima sebelumnya.
JENIS VAKSIN PADA ANAK USIA 1–12 TAHUN
- DPT, DTaP, DT, Td, DAN Tdap
- Kelompok vaksin ini memberikan perlindungan terhadap difteri, pertusis, dan tetanus. Anak memperoleh seri dasar pada masa bayi, kemudian membutuhkan dosis lanjutan atau booster sesuai jadwal.
- Pada program BIAS, anak kelas 1 mendapatkan vaksin DT dan anak kelas 2 serta kelas 5 mendapatkan Td sesuai kebijakan program nasional.
- Vaksin kombinasi seperti DTaP-IPV juga tersedia di fasilitas swasta. Pemilihan vaksin bergantung pada usia dan riwayat imunisasi.
- POLIO
- Poliovirus dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Perlindungan terhadap polio membutuhkan imunisasi yang lengkap.
- Anak yang belum mendapatkan seri polio lengkap perlu menjalani imunisasi kejar. Dokter menentukan jumlah dosis berdasarkan usia dan riwayat vaksinasi.
- CAMPAK-RUBELA DAN MMR
- Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Komplikasi dapat berupa pneumonia, ensefalitis, kebutaan, dan kematian. Program BIAS memberikan imunisasi campak-rubela pada anak kelas 1 atau sekitar usia 7 tahun.
- Vaksin MMR memberikan perlindungan terhadap campak, gondongan, dan rubela. MMR dapat digunakan untuk melengkapi perlindungan anak sesuai riwayat imunisasi.
- VARISELA
- Varisela atau cacar air disebabkan oleh varicella-zoster virus. Sebagian besar anak mengalami penyakit ringan, tetapi komplikasi tetap dapat terjadi, termasuk infeksi bakteri sekunder pada kulit, pneumonia, dan ensefalitis.
- Vaksin varisela dapat diberikan pada anak yang belum memiliki perlindungan sesuai usia dan rekomendasi. WHO memperbarui posisi mengenai vaksin varisela pada 2025 berdasarkan bukti mengenai efektivitas dan strategi program imunisasi.
- HEPATITIS A
- Hepatitis A menyebabkan infeksi akut pada hati. Penularan terutama terjadi melalui jalur fekal-oral, termasuk makanan dan minuman yang terkontaminasi.
- Vaksin Hepatitis A dapat diberikan pada anak sesuai usia dan jenis vaksin. Contoh produk yang tersedia di layanan swasta adalah Avaxim 80 dan Havrix Junior.
- INFLUENZA
- Influenza dapat menyebabkan demam, batuk, nyeri otot, kelelahan, dan pada sebagian anak menyebabkan pneumonia atau komplikasi lainnya.
- Vaksin influenza diberikan secara berkala. Vaksinasi tahunan penting karena virus influenza terus mengalami perubahan antigenik.
- Contoh vaksin yang tersedia adalah Vaxigrip Tetra dan produk influenza lain yang sesuai dengan ketersediaan dan rekomendasi pada musim tersebut.
- TIFOID
- Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella enterica serovar Typhi. Risiko meningkat pada lingkungan dengan sanitasi dan higiene yang kurang baik.
- Vaksin tifoid dapat dipertimbangkan berdasarkan risiko anak. Salah satu produk yang tersedia adalah Typhim Vi.
- Vaksin tidak menggantikan kebiasaan mencuci tangan, keamanan makanan, dan air minum yang aman.
- PNEUMOKOKUS ATAU PCV
- Pneumokokus dapat menyebabkan pneumonia, meningitis, bakteremia, dan infeksi telinga. Anak yang telah mendapatkan seri PCV sesuai jadwal biasanya tidak membutuhkan vaksin PCV rutin tambahan pada usia sekolah.
- Namun, anak dengan kondisi medis tertentu dapat memiliki indikasi vaksin pneumokokus tambahan. Keputusan tersebut perlu dibuat berdasarkan kondisi klinis anak.
- Beberapa produk PCV yang tersedia di layanan swasta antara lain Synflorix, Prevenar 13, Vaxneuvance, dan Prevenar 20.
- JAPANESE ENCEPHALITIS
- Japanese Encephalitis atau JE dapat menyebabkan ensefalitis berat. Risiko terutama berkaitan dengan wilayah geografis dan paparan terhadap nyamuk penular.
- Vaksin JE tidak harus diberikan kepada seluruh anak di Indonesia. Pemberiannya bergantung pada wilayah tempat tinggal, perjalanan, dan risiko paparan.
- DENGUE
- Dengue merupakan penyakit yang relevan pada anak di negara tropis seperti Indonesia.
- WHO merekomendasikan vaksin TAK-003 atau Qdenga pada anak usia 6–16 tahun di wilayah dengan intensitas penularan dengue tinggi. Jadwal WHO terdiri dari dua dosis dengan interval 3 bulan.
- Vaksin dengue tidak memberikan perlindungan 100 persen terhadap semua infeksi dengue. Pengendalian nyamuk tetap diperlukan.
- HPV
- Vaksin HPV merupakan vaksin penting pada masa praremaja. HPV dapat menyebabkan kanker serviks dan beberapa kanker lain serta kutil anogenital. WHO menempatkan remaja perempuan usia 9–14 tahun sebagai kelompok sasaran utama vaksinasi HPV.
- Di Indonesia, kebijakan BIAS sejak 2025 menggunakan satu dosis HPV pada sasaran program sesuai usia sekolah. Sasaran program mencakup anak perempuan kelas 5 dan 6 serta kelompok tertentu sesuai kebijakan nasional.
Untuk vaksinasi individual, jumlah dosis dapat berbeda berdasarkan usia saat memulai vaksinasi, jenis vaksin, dan kondisi imunologis anak.
JADWAL PRAKTIS VAKSINASI USIA 1–12 TAHUN
| Usia | Vaksin yang perlu dievaluasi | Keterangan |
|---|---|---|
| 12–15 bulan | PCV booster, MR/MMR | Sesuaikan riwayat imunisasi |
| 12 bulan ke atas | Varisela | Untuk anak yang belum mendapat perlindungan |
| 12 bulan ke atas | Hepatitis A | Sesuai jenis vaksin dan jadwal dosis |
| 18 bulan | DPT-HB-Hib dan MR | Mengikuti program nasional |
| 2 tahun ke atas | Tifoid | Sesuai risiko dan jenis vaksin |
| Setiap tahun | Influenza | Diberikan berkala |
| Usia sekolah | DT/Td | Melalui BIAS sesuai kelas dan kebijakan |
| 6–16 tahun | Dengue | Dipertimbangkan sesuai risiko dan rekomendasi |
| 9 tahun ke atas | HPV | Program nasional terutama melalui BIAS |
| 11–12 tahun | Tdap/Td dan HPV | Evaluasi kebutuhan berdasarkan riwayat imunisasi |
Tabel tersebut merupakan kerangka klinis untuk evaluasi imunisasi, bukan jadwal wajib bahwa semua vaksin harus diberikan pada setiap anak. Jadwal nasional dan jadwal imunisasi individual dapat berbeda. Program BIAS Indonesia memiliki sasaran spesifik berdasarkan kelas dan usia.
NAMA VAKSIN DAN PERKIRAAN HARGA DI JAKARTA 2026
Harga vaksin swasta berbeda antar fasilitas. Harga juga dapat berubah berdasarkan merek, ketersediaan, jasa dokter, administrasi, dan jenis layanan. Daftar berikut menggunakan contoh price list layanan vaksinasi Jakarta/Jabodetabek tahun 2026 yang diberikan dalam bahan sumber.
| Jenis vaksin | Contoh produk | Perkiraan harga 2026 |
|---|---|---|
| DTaP-IPV | Tetraxim | Rp705.000 |
| DTaP-Hib-IPV | Infanrix-Hib-IPV | Rp855.000 |
| Hepatitis A anak | Avaxim 80 | Rp670.000 |
| Hepatitis A anak | Havrix Junior | Rp670.000 |
| Influenza | Vaxigrip Tetra | Rp455.000 |
| MMR | MMR II | Rp710.000 |
| PCV10 | Synflorix | Rp995.000 |
| PCV13 | Prevenar 13 | Rp1.110.000 |
| PCV15 | Vaxneuvance | Rp1.160.000 |
| PCV20 | Prevenar 20 | Rp1.210.000 |
| Varisela | Varivax | Rp890.000 |
| Tifoid | Typhim Vi | Rp555.000 |
| Japanese Encephalitis | Imojev | Rp675.000 |
| Dengue | Qdenga | Rp780.000 |
| Tdap | Adacel | Rp660.000 |
| HPV quadrivalent | Gardasil | Rp1.255.000 |
| HPV nonavalent | Gardasil 9 | Rp2.500.000 |
Harga tersebut merupakan contoh tarif layanan, bukan harga nasional. Beberapa fasilitas dapat memberikan harga berbeda dan sebagian layanan dapat mengenakan biaya administrasi atau konsultasi tambahan.
EFEK SAMPING VAKSIN
Sebagian besar efek samping vaksin bersifat ringan dan sementara. Reaksi yang sering terjadi adalah nyeri, kemerahan, atau bengkak pada lokasi suntikan. Demam ringan, lelah, mengantuk, dan rewel juga dapat terjadi.
| Vaksin | Efek samping yang umum |
|---|---|
| DPT, DTaP, Tdap | Nyeri suntikan, demam, rewel, lelah |
| DT atau Td | Nyeri dan bengkak pada tempat suntikan |
| Polio | Umumnya ringan |
| MR/MMR | Demam ringan, ruam ringan, nyeri suntikan |
| Varisela | Nyeri suntikan, demam ringan, ruam ringan |
| Hepatitis A | Nyeri suntikan, demam ringan |
| Influenza | Nyeri suntikan, demam ringan, lelah |
| Tifoid | Nyeri suntikan, demam ringan |
| PCV | Nyeri, bengkak, demam, rewel |
| JE | Nyeri suntikan, demam ringan |
| Dengue | Nyeri suntikan, demam, sakit kepala, lelah |
| HPV | Nyeri, kemerahan, bengkak, sakit kepala, lelah |
Reaksi alergi berat setelah vaksinasi sangat jarang. Vaksin harus diberikan di fasilitas yang mampu melakukan observasi dan menangani reaksi alergi akut.
IMUNISASI KEJAR PADA ANAK YANG BELUM LENGKAP
- Anak yang terlambat mendapatkan vaksin tidak harus mengulang seluruh rangkaian imunisasi. Dokter dapat menyusun imunisasi kejar berdasarkan usia, jenis vaksin, jumlah dosis yang sudah diterima, serta interval antar dosis.
- WHO juga menganjurkan agar vaksinasi yang terlewat dilengkapi melalui catch-up vaccination.
- Karena itu, orang tua sebaiknya membawa buku KIA, kartu imunisasi, atau catatan vaksin sebelumnya saat berkonsultasi.
VAKSINASI PROGRAM PEMERINTAH DAN VAKSIN TAMBAHAN
- Vaksin program pemerintah memiliki sasaran dan jadwal yang ditetapkan berdasarkan kebijakan nasional. Pada usia sekolah, BIAS menjadi salah satu strategi utama untuk memberikan imunisasi lanjutan.
- Pada 2025, pemerintah Indonesia mengubah pemberian vaksin HPV dalam program BIAS dari dua dosis menjadi satu dosis, mengikuti pertimbangan kebijakan WHO SAGE dan strategi eliminasi kanker serviks nasional.
- Vaksin tambahan diberikan berdasarkan kebutuhan individual. Contohnya vaksin influenza, varisela, Hepatitis A, tifoid, atau vaksin lain yang sesuai usia dan risiko.
PRINSIP MEMILIH VAKSIN UNTUK ANAK
- Pastikan imunisasi dasar dan lanjutan program pemerintah lengkap.
- Periksa riwayat vaksinasi sebelum memberikan vaksin tambahan.
- Gunakan imunisasi kejar jika ada vaksin yang terlewat.
- Evaluasi vaksin tambahan berdasarkan usia dan risiko penyakit.
- Pertimbangkan kondisi medis khusus, termasuk gangguan sistem imun.
- Perhatikan jenis vaksin dan jumlah dosis yang dibutuhkan.
- Jangan menentukan vaksin hanya berdasarkan harga atau merek.
- Untuk anak usia sekolah, pastikan imunisasi BIAS sudah diterima sesuai sasaran.
- Untuk anak usia 9 tahun ke atas, evaluasi vaksin HPV.
- Untuk anak usia 6–16 tahun yang tinggal di wilayah dengan transmisi dengue tinggi, vaksin dengue dapat dipertimbangkan sesuai rekomendasi dan indikasi.
PESAN UTAMA UNTUK ORANG TUA
- Anak usia 1–12 tahun masih membutuhkan perlindungan vaksin. Prioritas pertama adalah memastikan imunisasi program nasional lengkap. Setelah itu, dokter dapat mengevaluasi vaksin tambahan berdasarkan usia, risiko penyakit, riwayat imunisasi, dan kondisi kesehatan anak.
- Tidak semua anak membutuhkan semua vaksin tambahan. Jadwal yang tepat harus dibuat secara individual berdasarkan catatan imunisasi anak.
- Vaksinasi pada usia sekolah juga memiliki nilai penting dalam kesehatan jangka panjang. Salah satu contohnya adalah vaksin HPV yang diberikan sebelum paparan HPV untuk menurunkan risiko penyakit terkait HPV di kemudian hari. WHO menyebut vaksin HPV sebagai vaksin yang efektif untuk mencegah infeksi HPV dan lesi prakanker terkait HPV.












Leave a Reply