Invaginasi Usus pada Anak, Kenali Gejalanya Sebelum Terlambat

Invaginasi Usus pada Anak, Kenali Gejalanya Sebelum Terlambat

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Mengapa Orang Tua Perlu Mengenal Invaginasi Usus?

Invaginasi usus atau intussusception merupakan salah satu penyebab tersering sumbatan usus pada bayi dan balita. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis yang membutuhkan diagnosis dan penanganan segera. Bila terlambat ditangani, aliran darah ke usus dapat terhenti sehingga menyebabkan kematian jaringan usus, kebocoran usus (perforasi), infeksi berat (sepsis), bahkan mengancam jiwa.

Kabar baiknya, sebagian besar anak dapat sembuh tanpa operasi apabila diagnosis ditegakkan sejak dini. Oleh karena itu, mengenali gejala awal merupakan langkah yang sangat penting bagi orang tua.


Apa Itu Invaginasi Usus?

Invaginasi usus adalah keadaan ketika sebagian usus masuk ke dalam bagian usus di depannya, seperti teleskop yang dilipat ke dalam. Akibatnya, makanan dan cairan tidak dapat melewati usus dengan normal. Selain itu, pembuluh darah yang menyuplai usus ikut terjepit sehingga jaringan usus mulai mengalami pembengkakan dan kekurangan oksigen.

Apabila keadaan ini terus berlangsung, usus dapat mengalami kerusakan permanen dan akhirnya pecah.


Siapa yang Paling Berisiko?

Invaginasi paling sering terjadi pada bayi dan balita.

Tabel 1. Anak yang paling berisiko mengalami invaginasi usus

Faktor Keterangan
Usia tersering 6 bulan hingga 3 tahun
Puncak kejadian 5 hingga 9 bulan
Jenis kelamin Laki-laki sekitar 2 sampai 3 kali lebih sering
Lokasi tersering Pertemuan usus halus dan usus besar (ileokolik)
Penyebab Sebagian besar tidak diketahui secara pasti (idiopatik)
Kekambuhan Sekitar 5 hingga 15% dapat kambuh setelah berhasil direduksi

Sekitar 90% kasus pada bayi dan balita tidak memiliki penyebab yang jelas. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini sering muncul beberapa hari setelah anak mengalami infeksi virus saluran napas atau diare.


Mengapa Invaginasi Bisa Terjadi?

Pada sebagian besar bayi, pembengkakan jaringan kekebalan tubuh di usus setelah infeksi virus diduga menjadi pencetus utama. Jaringan tersebut menyebabkan gerakan usus menjadi tidak teratur sehingga sebagian usus terdorong masuk ke segmen usus berikutnya.

Pada anak yang lebih besar, dokter juga akan mencari kemungkinan adanya penyebab lain, seperti:

  • Divertikulum Meckel
  • Polip usus
  • Limfoma
  • Duplikasi usus
  • Purpura IgA vaskulitis
  • Tumor usus yang jarang terjadi

Bagaimana Proses Terjadinya Invaginasi?

Invaginasi bukan terjadi secara tiba-tiba, tetapi berkembang secara bertahap.

Alurnya sebagai berikut.

Infeksi virus atau kelainan usus

Gangguan gerakan usus

Sebagian usus masuk ke usus berikutnya

Usus tersumbat

Aliran darah vena terganggu

Usus membengkak

Aliran darah arteri berkurang

Usus kekurangan oksigen

Jaringan usus mati

Perforasi usus

Peritonitis

Sepsis

Semakin lama kondisi ini berlangsung, semakin besar risiko komplikasi.


Apa Saja Gejalanya?

Gejala invaginasi sering tidak khas sehingga mudah disangka sebagai masuk angin, kolik, atau gastroenteritis.

Tanda yang paling sering adalah bayi tiba-tiba menangis keras karena nyeri, kemudian tampak tenang beberapa menit, lalu menangis kembali. Pola ini terus berulang.

Tabel 2. Gejala invaginasi usus

Gejala Penjelasan
Menangis mendadak Timbul akibat nyeri kolik
Menarik kedua kaki ke perut Sangat khas pada bayi
Nyeri hilang timbul Datang setiap 10 hingga 20 menit
Muntah Awalnya isi lambung, kemudian dapat menjadi hijau (biliosa)
Bayi tampak lemas Dapat menjadi gejala pertama
Perut membuncit Menandakan sumbatan semakin berat
Benjolan di perut Kadang dapat diraba dokter
BAB bercampur darah dan lendir Tampak seperti selai merah (red currant jelly stool)
Demam Mengarah pada komplikasi

Perlu diketahui bahwa tinja berdarah justru sering muncul pada stadium yang lebih lanjut. Jangan menunggu gejala ini sebelum membawa anak ke rumah sakit.


Kapan Harus Segera ke IGD?

Segera bawa anak ke rumah sakit apabila ditemukan satu atau lebih kondisi berikut.

  • Menangis hebat berulang tanpa penyebab yang jelas.
  • Nyeri perut datang dan hilang berulang.
  • Muntah berulang, terutama muntah berwarna hijau.
  • Anak tampak sangat lemas atau sulit dibangunkan.
  • Perut semakin membesar.
  • BAB bercampur darah atau lendir.
  • Anak tidak mau makan atau minum sama sekali.

Pada bayi, lemas mendadak kadang menjadi satu-satunya gejala. Karena itu, dokter sering memasukkan invaginasi sebagai salah satu penyebab yang harus segera disingkirkan.


Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?

  • Diagnosis tidak hanya berdasarkan gejala, tetapi juga pemeriksaan fisik dan pencitraan.
  • Ultrasonografi (USG) merupakan pemeriksaan pilihan pertama karena aman, tidak menggunakan radiasi, dan memiliki akurasi yang sangat tinggi.

Tabel 3. Pemeriksaan yang dilakukan

Pemeriksaan Tujuan
Pemeriksaan fisik Menilai nyeri dan benjolan
Darah lengkap Menilai infeksi dan dehidrasi
CRP Menilai inflamasi
Elektrolit Menentukan kebutuhan cairan
Foto polos abdomen Menilai sumbatan atau perforasi
USG abdomen Pemeriksaan utama untuk memastikan diagnosis
Enema udara Diagnosis sekaligus terapi
CT scan Hanya pada keadaan tertentu

Pada USG, dokter biasanya melihat gambaran khas yang dikenal sebagai target sign atau doughnut sign.


Penyakit yang Mirip Invaginasi

Tidak semua nyeri perut pada bayi adalah invaginasi.

Beberapa penyakit yang dapat memberikan gejala serupa antara lain:

Penyakit Pembeda utama
Gastroenteritis Diare lebih dominan
Konstipasi Riwayat sulit BAB
Apendisitis Nyeri menetap di perut kanan bawah
Malrotasi dengan volvulus Muntah hijau sejak awal dan kondisi cepat memburuk
Hernia terjepit Ada benjolan di lipat paha
Purpura IgA vaskulitis Disertai ruam ungu pada kulit

Bagaimana Penanganannya?

Begitu diagnosis dicurigai, dokter akan segera menstabilkan kondisi anak.

Langkah pertama meliputi:

  • Pemberian cairan infus.
  • Mengatasi dehidrasi.
  • Mengoreksi gangguan elektrolit.
  • Mengurangi tekanan di lambung bila diperlukan.
  • Memberikan antibiotik pada kondisi tertentu.

Apabila belum terjadi perforasi, terapi utama bukan operasi.

Dokter akan melakukan reduksi menggunakan enema udara atau enema cairan dengan bantuan USG atau fluoroskopi. Tindakan ini berhasil pada sekitar 80 hingga 95% pasien bila dilakukan sejak dini.

Apabila reduksi gagal atau sudah terjadi perforasi maupun peritonitis, operasi menjadi pilihan terbaik.

Tabel 4. Pilihan pengobatan

Kondisi Penanganan
Anak stabil tanpa perforasi Enema udara atau hidrostatik
Reduksi berhasil Observasi 24 hingga 48 jam
Reduksi gagal Operasi
Perforasi atau peritonitis Operasi segera
Ditemukan kelainan anatomi Operasi sesuai penyebab

Apakah Bisa Sembuh Total?

Ya. Sebagian besar anak sembuh sempurna apabila diagnosis ditegakkan sejak awal.

Namun, keterlambatan lebih dari 24 hingga 48 jam meningkatkan risiko:

  • Kematian jaringan usus.
  • Perforasi.
  • Peritonitis.
  • Sepsis.
  • Operasi yang lebih besar.
  • Lama rawat inap lebih panjang.

Sekitar 5 hingga 15% anak dapat mengalami kekambuhan sehingga orang tua perlu mengenali kembali gejala khasnya.


Pesan Penting untuk Orang Tua

  • Invaginasi usus bukan sekadar sakit perut biasa. Pada bayi dan balita, tangisan hebat yang datang berulang, anak menarik kedua kaki ke arah perut, muntah berulang, atau tampak sangat lemas harus dianggap sebagai tanda bahaya. Jangan menunggu sampai muncul BAB berdarah karena kondisi tersebut sering menandakan penyakit sudah memasuki tahap lanjut.
  • Diagnosis dini memungkinkan sebagian besar anak ditangani tanpa operasi melalui reduksi menggunakan enema udara atau hidrostatik. Semakin cepat anak diperiksa, semakin besar peluang usus dapat diselamatkan, komplikasi dapat dicegah, dan proses pemulihan berlangsung lebih cepat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *