Waspada Salah Diagnosis Usus Buntu pada Anak yang Sering Sakit Perut Berulang.

Waspada Salah Diagnosis Usus Buntu pada Anak yang Sering Sakit Perut Berulang. Jangan Semua Nyeri Perut Dianggap Usus Buntu

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto]

Pada anak yang memiliki riwayat kolik saat bayi, sering tidur dengan posisi nungging, atau pernah mengalami nyeri perut berulang sebelumnya, nyeri perut yang hilang timbul lebih sering berkaitan dengan Functional Gastrointestinal Disorders (FGIDs) dibandingkan apendisitis. Sebaliknya, bila nyeri perut berlangsung terus-menerus selama 24 jam tanpa pernah menghilang, terutama bila semakin berat, menetap di perut kanan bawah, disertai demam, mual, muntah, atau anak sulit berjalan, kondisi tersebut harus dianggap sebagai tanda bahaya. Anak perlu segera menjalani evaluasi menyeluruh untuk menyingkirkan kemungkinan apendisitis akut atau penyebab bedah lainnya.

Banyak orang tua panik ketika anak mengeluh nyeri perut, terutama bila nyerinya berada di perut kanan bawah. Tidak sedikit yang langsung khawatir anak mengalami usus buntu atau apendisitis. Padahal, tidak semua nyeri perut adalah usus buntu. Pada sebagian anak, terutama yang sudah lama mengalami nyeri perut berulang, penyebabnya justru adalah gangguan fungsi saluran cerna atau Functional Gastrointestinal Disorders (FGIDs). FGIDs merupakan kelompok gangguan saluran cerna tanpa adanya luka, infeksi, tumor, atau kelainan organ. Gangguan ini terjadi karena komunikasi antara otak dan saluran cerna tidak bekerja dengan baik sehingga usus menjadi lebih sensitif terhadap rasa nyeri. Kondisi ini cukup sering ditemukan pada anak dan umumnya tidak memerlukan operasi.

Apa Itu Apendisitis?

Apendisitis adalah peradangan pada usus buntu. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab operasi darurat yang paling sering pada anak. Bila terlambat ditangani, usus buntu dapat pecah sehingga menyebabkan infeksi berat di dalam rongga perut.

Gejala yang paling khas meliputi:

  • Nyeri awal di sekitar pusar, kemudian berpindah ke perut kanan bawah.
  • Nyeri semakin berat dari waktu ke waktu.
  • Demam.
  • Mual atau muntah.
  • Nafsu makan menurun.
  • Nyeri bertambah saat berjalan, batuk, atau melompat.

Namun, tidak semua anak mengalami gejala yang khas. Pada anak usia kecil, keluhannya sering tidak jelas sehingga diagnosis menjadi lebih sulit.

Mengapa Anak dengan Nyeri Perut Berulang Sering Disangka Usus Buntu?

Sekitar 90 hingga 95 persen anak yang mengalami nyeri perut berulang ternyata tidak memiliki penyakit organik. Anak dengn keluhan nyeri peruta FGID ini biasanya waktu bayi khususnya usia di bawah 3 bulan mengalami riwayat kolik, rewel malam, usia Batita tdur sering nungnibgg malam m=hari, berulang nyeri perut , mau bab tidak jadi.  Sebagian besar mengalami FGIDs, seperti:

  • Irritable Bowel Syndrome (IBS).
  • Functional Abdominal Pain.
  • Functional Dyspepsia.
  • Abdominal Migraine.
  • Functional Constipation.

Anak dengan FGIDs dapat mengalami nyeri yang datang dan pergi selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Kadang nyeri terasa di perut kanan bawah sehingga sangat mirip dengan usus buntu. Kondisi inilah yang dapat menyebabkan salah diagnosis atau overdiagnosis.

Apa Itu Overdiagnosis?

  • Overdiagnosis berarti seseorang didiagnosis menderita suatu penyakit padahal sebenarnya tidak. Dalam kasus apendisitis, akibatnya anak dapat menjalani operasi pengangkatan usus buntu meskipun usus buntunya ternyata normal. Keadaan ini dikenal sebagai negative appendectomy.
  • Sebaliknya, dokter juga harus berhati-hati agar tidak terlambat mendiagnosis apendisitis yang benar-benar memerlukan operasi. Karena itu, diagnosis harus dibuat secara teliti berdasarkan pemeriksaan menyeluruh.

Apa Kata Penelitian?

  • Beberapa penelitian menunjukkan bahwa overdiagnosis masih menjadi masalah di berbagai negara.
  • Penelitian di Thailand menemukan bahwa selama pandemi COVID-19 jumlah pasien yang menjalani operasi usus buntu menurun sekitar 13 persen. Menariknya, jumlah kasus usus buntu berat yang pecah maupun angka komplikasi tidak meningkat. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian operasi sebelum pandemi kemungkinan dilakukan pada pasien yang sebenarnya tidak memerlukan tindakan bedah.
  • Penelitian lain menunjukkan sekitar 7 persen pasien usus buntu tidak terdiagnosis pada kunjungan pertama ke rumah sakit. Pasien yang terlambat didiagnosis memiliki risiko lebih tinggi mengalami usus buntu pecah. Temuan ini menunjukkan bahwa dokter harus menghindari dua hal sekaligus, yaitu operasi yang tidak perlu dan keterlambatan operasi pada pasien yang memang mengalami apendisitis.

Mengapa Anak dengan Riwayat Functional Gastrointestinal Disorders (FGIDs) Berisiko Mengalami Overdiagnosis Apendisitis? Bukti Ilmiah Terkini

Anak dengan Functional Gastrointestinal Disorders (FGIDs) sering mengalami episode nyeri perut yang muncul berulang, berlangsung lama, dan memiliki intensitas yang bervariasi. Nyeri dapat berpindah lokasi, termasuk ke kuadran kanan bawah, sehingga sering menyerupai manifestasi awal apendisitis akut. Kondisi ini sering menimbulkan kecemasan pada orang tua maupun tenaga kesehatan, terutama karena kekhawatiran akan terjadinya perforasi apabila diagnosis apendisitis terlambat ditegakkan. Akibatnya, sebagian pasien menjalani pemeriksaan invasif bahkan apendektomi sebelum terdapat bukti klinis yang cukup kuat. Sebaliknya, kehati-hatian yang berlebihan juga dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis sehingga meningkatkan risiko perforasi dan komplikasi. Oleh karena itu, keseimbangan antara menghindari overdiagnosis dan mencegah keterlambatan diagnosis merupakan prinsip utama dalam tata laksana apendisitis pada anak.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian kasus apendektomi negatif sebenarnya terjadi pada pasien dengan nyeri perut fungsional, konstipasi, adenitis mesenterika, gastroenteritis, maupun kelainan ginekologi pada remaja perempuan. Bukti epidemiologi terbaru dari Thailand memperkuat dugaan bahwa overdiagnosis masih menjadi masalah klinis. Sukmanee dkk. melakukan analisis nasional terhadap lebih dari enam tahun data pelayanan kesehatan selama periode sebelum, saat, dan setelah kebijakan lockdown COVID-19. Jumlah pasien yang didiagnosis apendisitis akut menurun sebesar 13,4% selama lockdown dan tetap lebih rendah setelah pandemi, terutama pada kasus apendisitis tanpa komplikasi. Sebaliknya, angka apendisitis berat dengan peritonitis generalisata maupun komplikasi tidak mengalami peningkatan yang bermakna. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian kasus apendisitis ringan yang sebelumnya menjalani operasi kemungkinan merupakan overdiagnosis atau overtreatment. Penelitian ini juga menunjukkan peningkatan penggunaan CT scan tanpa peningkatan angka komplikasi, yang mendukung pentingnya konfirmasi diagnosis menggunakan pencitraan sebelum memutuskan tindakan bedah.

Upaya menurunkan overdiagnosis tidak boleh mengorbankan ketepatan diagnosis karena keterlambatan mengenali apendisitis juga meningkatkan morbiditas. Weinberger dkk. melaporkan bahwa 7,1% pasien apendisitis mengalami misdiagnosis pada kunjungan pertama di instalasi gawat darurat. Pasien yang tidak terdiagnosis dengan benar mengalami keterlambatan operasi hampir tiga kali lebih lama dibandingkan pasien yang langsung terdiagnosis, serta memiliki angka apendisitis komplikata yang jauh lebih tinggi, yaitu 54,4% dibandingkan 27,5%. Tinjauan sistematis oleh Mostafa dan El-Atawi juga menjelaskan bahwa kesalahan diagnosis dipengaruhi oleh variasi manifestasi klinis, usia pasien, jenis kelamin, penyakit penyerta, bias kognitif klinisi, serta ketergantungan yang berlebihan terhadap hasil pemeriksaan laboratorium tanpa mempertimbangkan perjalanan klinis secara menyeluruh. Oleh karena itu, observasi serial, pemeriksaan fisik berulang, penggunaan skor klinis yang tervalidasi, serta pencitraan yang tepat merupakan langkah penting untuk menekan angka overdiagnosis maupun underdiagnosis.

Kajian histopatologi oleh Singhal dan Jadhav menunjukkan bahwa overdiagnosis lebih sering terjadi pada perempuan. Dari 110 perempuan yang menjalani apendektomi, hanya 51,8% yang terbukti mengalami apendisitis berdasarkan pemeriksaan histopatologi, sedangkan pada laki-laki angka konfirmasi mencapai 81,2%. Menariknya, lebih dari separuh apendiks yang tampak normal secara makroskopis ternyata menunjukkan kelainan mikroskopis seperti serositis, hiperplasia limfoid, inflamasi lumen, fekalit, maupun fibro-obliterasi. Temuan ini menunjukkan bahwa penampilan makroskopis apendiks tidak selalu mencerminkan kondisi histologisnya. Pada anak dengan riwayat FGIDs, hasil tersebut semakin menegaskan pentingnya pendekatan diagnostik yang komprehensif. Keputusan melakukan apendektomi sebaiknya didasarkan pada integrasi anamnesis, pemeriksaan fisik serial, skor klinis seperti Pediatric Appendicitis Score atau Alvarado Score, pemeriksaan laboratorium, ultrasonografi sebagai modalitas pencitraan pertama, serta CT scan atau MRI bila diagnosis masih meragukan. Pendekatan berbasis bukti ini diharapkan dapat menurunkan angka apendektomi negatif tanpa meningkatkan risiko perforasi akibat keterlambatan diagnosis.

Bukti Ilmiah Mengenai Overdiagnosis dan Misdiagnosis Apendisitis

Penelitian Desain Temuan Utama Implikasi Klinis
Sukmanee et al., 2022 Analisis data nasional Thailand 2016-2021 Kasus apendisitis menurun 13,4% saat lockdown tanpa peningkatan peritonitis atau komplikasi Mengindikasikan kemungkinan overdiagnosis dan overtreatment pada kasus apendisitis tanpa komplikasi
Weinberger et al., 2023 Kohort retrospektif, 1.268 pasien Misdiagnosis terjadi pada 7,1%; keterlambatan operasi meningkatkan apendisitis komplikata (54,4% vs 27,5%) Mengurangi overdiagnosis tidak boleh menyebabkan keterlambatan diagnosis
Mostafa & El-Atawi, 2024 Tinjauan naratif Kesalahan diagnosis dipengaruhi gejala atipikal, bias kognitif, usia, jenis kelamin, dan ketergantungan pada laboratorium Penilaian klinis menyeluruh dan pencitraan tetap diperlukan
Singhal & Jadhav, 2007 Studi histopatologi retrospektif Konfirmasi histologis lebih rendah pada perempuan (51,8%) dibanding laki-laki (81,2%); banyak apendiks normal secara makroskopis memiliki kelainan mikroskopis Laparoskopi diagnostik dan evaluasi komprehensif dapat mengurangi apendektomi yang tidak diperlukan

Bagaimana Dokter Membedakannya?

Dokter tidak menentukan diagnosis hanya berdasarkan lokasi nyeri.

Beberapa hal yang dinilai antara lain:

  • Riwayat perjalanan nyeri. Pada anak yang memiliki riwayat kolik saat bayi, sering tidur dengan posisi nungging, atau pernah mengalami nyeri perut berulang sebelumnya, nyeri perut yang hilang timbul lebih sering berkaitan dengan Functional Gastrointestinal Disorders (FGIDs) dibandingkan apendisitis. Sebaliknya, bila nyeri perut berlangsung terus-menerus selama 24 jam tanpa pernah menghilang, terutama bila semakin berat, menetap di perut kanan bawah, disertai demam, mual, muntah, atau anak sulit berjalan, kondisi tersebut harus dianggap sebagai tanda bahaya. Anak perlu segera menjalani evaluasi menyeluruh untuk menyingkirkan kemungkinan apendisitis akut atau penyebab bedah lainnya.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Pemeriksaan darah.
  • Ultrasonografi atau USG sebagai pemeriksaan pertama pada anak.
  • CT scan atau MRI bila hasil USG belum jelas.
  • Skor klinis khusus untuk memperkirakan kemungkinan apendisitis.

Pada beberapa kasus yang masih meragukan, dokter dapat memilih mengamati kondisi anak selama beberapa jam sebelum memutuskan apakah operasi memang diperlukan.

Membedakan Nyeri Perut Fungsional dan Usus Buntu pada Anak

Tidak semua nyeri perut pada anak merupakan usus buntu. Pada anak yang memiliki riwayat kolik saat bayi, sering tidur dengan posisi nungging, atau pernah mengalami nyeri perut berulang sebelumnya, nyeri yang muncul hilang timbul lebih sering disebabkan oleh Functional Gastrointestinal Disorders (FGIDs), yaitu gangguan fungsi saluran cerna yang tidak memerlukan operasi. Nyeri pada FGIDs dapat muncul berulang selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, lalu menghilang sendiri sebelum muncul kembali. Sebaliknya, apendisitis biasanya menyebabkan nyeri yang terus bertambah berat dan tidak pernah benar-benar hilang. Bila nyeri berlangsung terus-menerus selama lebih dari 24 jam, terutama menetap di perut kanan bawah, disertai demam, mual, muntah, nafsu makan menurun, atau anak sulit berdiri dan berjalan karena nyeri, kondisi tersebut harus dianggap sebagai tanda bahaya. Anak perlu segera diperiksa oleh dokter untuk menjalani evaluasi menyeluruh, termasuk pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, dan bila diperlukan USG atau pemeriksaan pencitraan lainnya guna memastikan apakah terdapat apendisitis atau penyebab bedah lainnya.

Perbedaan Nyeri Perut Fungsional (FGIDs) dan Apendisitis

Karakteristik Nyeri Perut Fungsional (FGIDs) Apendisitis Akut
Riwayat sebelumnya Sering memiliki riwayat kolik, konstipasi, atau nyeri perut berulang Umumnya tidak memiliki riwayat nyeri berulang yang sama
Awitan Berulang selama berbulan atau bertahun Mendadak
Pola nyeri Hilang timbul Terus-menerus dan semakin berat
Lama nyeri Dapat hilang dalam beberapa menit atau jam Berlangsung lebih dari 24 jam tanpa benar-benar hilang
Lokasi nyeri Berpindah-pindah Awalnya di sekitar pusar, kemudian menetap di perut kanan bawah
Nafsu makan Biasanya masih baik Umumnya menurun
Demam Jarang Sering ada
Mual dan muntah Kadang ada Lebih sering terjadi
Aktivitas anak Masih dapat bermain saat nyeri mereda Anak tampak lemas dan enggan bergerak
Nyeri saat berjalan atau melompat Umumnya tidak ada Sering bertambah berat
Pemeriksaan darah Leukosit dan CRP biasanya normal Leukosit dan CRP sering meningkat
USG abdomen Umumnya normal Dapat menunjukkan peradangan usus buntu
Perjalanan penyakit Keluhan dapat membaik sendiri Terus memburuk bila tidak segera ditangani
Penanganan Edukasi, pengaturan makan, mengatasi konstipasi, dan terapi sesuai penyebab Memerlukan evaluasi segera dan bila terbukti apendisitis umumnya membutuhkan operasi

Pesan penting bagi orang tua, nyeri perut yang hilang timbul pada anak dengan riwayat nyeri perut berulang lebih sering mengarah ke FGIDs. Namun, bila nyeri tidak pernah hilang selama 24 jam, semakin berat, menetap di perut kanan bawah, disertai demam, muntah, atau anak sulit berjalan, jangan menunda pemeriksaan. Penanganan yang tepat waktu membantu mencegah komplikasi akibat apendisitis sekaligus mengurangi risiko operasi yang tidak diperlukan pada anak yang sebenarnya mengalami gangguan nyeri perut fungsional.

Kapan Harus Segera ke Rumah Sakit?

Segera periksakan anak bila mengalami:

  • Nyeri hebat di perut kanan bawah tidak pernah hilang dalam 24 jam.
  • Nyeri yang terus bertambah.
  • Demam.
  • Muntah berulang.
  • Anak sulit berjalan karena nyeri.
  • Perut menjadi keras.
  • Anak tampak sangat lemas.

Jangan Terburu-buru Memutuskan Operasi

  • Operasi usus buntu dapat menyelamatkan nyawa bila memang diperlukan. Namun, tidak semua anak yang sering sakit perut membutuhkan operasi. Anak dengan riwayat nyeri perut berulang lebih sering mengalami gangguan fungsi saluran cerna dibandingkan penyakit bedah.
  • Karena itu, diagnosis apendisitis harus ditegakkan berdasarkan kombinasi wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pencitraan, bukan hanya berdasarkan keluhan nyeri perut. Pendekatan yang teliti membantu mengurangi operasi yang tidak diperlukan sekaligus mencegah keterlambatan penanganan pada anak yang benar-benar mengalami usus buntu.

Referensi Pilihan

  • Sukmanee J, Butchon R, Sarajan MH, Saeraneesopon T, Boonma C, Karunayawong P, et al. Estimating the potential overdiagnosis and overtreatment of acute appendicitis in Thailand using a secondary data analysis of service utilization before, during and after the COVID-19 lockdown policy. PLoS One. 2022;17(11):e0270241. doi:10.1371/journal.pone.0270241.
  • Weinberger H, Zeina AR, Ashkenazi I. Misdiagnosis of acute appendicitis in the emergency department: Prevalence, associated factors, and outcomes according to the patients’ disposition. Ochsner J. 2023;23(4):271-276. doi:10.31486/toj.23.0051.
  • Singhal V, Jadhav V. Acute appendicitis: Are we over diagnosing it? Ann R Coll Surg Engl. 2007;89(8):766-769. doi:10.1308/003588407X209266.
  • Mostafa R, El-Atawi K. Misdiagnosis of acute appendicitis cases in the emergency room. Cureus. 2024;16(3):e57141. doi:10.7759/cureus.57141.
  • Samuel M. Pediatric Appendicitis Score. J Pediatr Surg. 2002;37(6):877-881.
  • Di Saverio S, Podda M, De Simone B, et al. Diagnosis and Treatment of Acute Appendicitis: 2020 Update of the WSES Jerusalem Guidelines. World J Emerg Surg. 2020;15:27.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *