KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

KONSULTASI DOKTER: Apakah Adenoid Bisa Tumbuh Lagi Setelah Operasi? Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Diagnosisnya

Tanya:

Apakah adenoid yang sudah dioperasi bisa tumbuh atau membesar lagi? Setelah operasi anak sempat membaik dan ngoroknya hilang, tetapi beberapa bulan atau tahun kemudian kembali mendengkur. Apa penyebabnya? Benarkah alergi yang tidak terkendali, termasuk alergi makanan, dapat menyebabkan adenoid meradang dan membesar kembali? Bagaimana cara mengetahui apakah adenoid memang membesar lagi, dan pemeriksaan apa yang paling akurat untuk menegakkan diagnosis?

Jawaban:

Ya, adenoid yang telah dioperasi (adenoidektomi) masih dapat membesar kembali, meskipun tidak terjadi pada semua anak. Hal ini disebabkan karena saat operasi sering kali masih tersisa sedikit jaringan adenoid untuk mengurangi risiko cedera pada jaringan di sekitarnya. Pada sebagian anak, sisa jaringan tersebut dapat mengalami pertumbuhan kembali (regrowth), terutama bila operasi dilakukan pada usia yang masih muda, memiliki riwayat rinitis alergi, sering mengalami infeksi saluran napas atas, atau terus-menerus terpapar faktor yang memicu peradangan kronis.

Salah satu penyebab penting pembesaran adenoid kembali adalah alergi yang tidak terkendali. Rinitis alergi menyebabkan mukosa hidung mengalami peradangan kronis sehingga hidung terus tersumbat, produksi lendir meningkat, dan jaringan limfoid di belakang hidung, termasuk adenoid, terus mengalami stimulasi. Inflamasi yang berlangsung lama menyebabkan sisa jaringan adenoid setelah operasi dapat mengalami hipertrofi (membesar kembali). Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa anak dengan rinitis alergi memiliki risiko lebih tinggi mengalami adenoid hipertrofi dibandingkan anak tanpa alergi.

Selain alergi saluran napas, alergi makanan pada sebagian anak juga dapat berperan sebagai faktor yang mendasari terjadinya pembesaran adenoid kembali, meskipun mekanismenya umumnya bersifat tidak langsung. Alergi makanan yang tidak terdiagnosis atau tidak tertangani dapat menyebabkan peradangan kronis pada saluran cerna dan memengaruhi regulasi sistem imun. Pada sebagian anak, kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi saluran napas atas berulang, seperti pilek, rinitis, atau flu. Infeksi yang berulang akan menyebabkan jaringan adenoid terus mengalami aktivasi imun dan inflamasi sehingga berpotensi membesar kembali setelah operasi.

Apabila dicurigai terdapat alergi makanan sebagai faktor pencetus, evaluasi sebaiknya dilakukan secara menyeluruh oleh dokter yang berpengalaman dalam alergi anak. Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala, food diary, pengalaman sehari-hari, ataupun hasil tes IgE atau skin prick test saja. Hingga saat ini, Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan secara terkontrol di bawah pengawasan tenaga medis merupakan gold standard untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis alergi makanan. Bila OFC membuktikan adanya alergi makanan, eliminasi makanan penyebab secara tepat dapat membantu mengurangi inflamasi kronis dan menurunkan risiko infeksi berulang.

Bila setelah operasi anak sempat bernapas lega dan ngorok menghilang, tetapi kemudian keluhan muncul kembali, kemungkinan adenoid membesar lagi memang perlu dipertimbangkan. Namun, ngorok setelah operasi tidak selalu berarti adenoid tumbuh kembali. Penyebab lain yang cukup sering adalah pembesaran amandel (tonsil), rinitis alergi yang belum terkontrol, sinusitis kronis, pembengkakan konka hidung, deviasi septum, obesitas, kelainan struktur wajah, atau gangguan tidur seperti obstructive sleep apnea (OSA). Oleh karena itu, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh agar penyebab utama tidak terlewat.

Gejala yang mengarah pada pembesaran adenoid kembali meliputi mendengkur hampir setiap malam, bernapas melalui mulut, hidung tersumbat kronis, tidur gelisah, sering terbangun, gigi menggeretakkan saat tidur (bruxism), jeda napas saat tidur (apnea), suara sengau, pilek berkepanjangan, infeksi telinga berulang, serta pada sebagian anak disertai gangguan konsentrasi, mudah mengantuk di siang hari, gangguan perilaku, atau pertumbuhan yang kurang optimal akibat kualitas tidur yang buruk. Riwayat alergi, baik alergi saluran napas maupun dugaan alergi makanan, juga perlu digali secara rinci.

Pemeriksaan awal dilakukan melalui wawancara mengenai keluhan dan pemeriksaan fisik oleh dokter THT. Dokter akan menilai pola napas, kondisi rongga hidung, ukuran tonsil, bentuk wajah, serta mencari tanda-tanda rinitis alergi seperti mukosa hidung yang pucat dan edema. Pemeriksaan penunjang yang sering digunakan adalah foto rontgen lateral nasofaring untuk menilai ukuran adenoid dan derajat penyempitan jalan napas. Namun, pemeriksaan yang paling akurat (gold standard) untuk menilai ukuran adenoid adalah nasoendoskopi fleksibel, karena dapat memperlihatkan secara langsung ukuran adenoid, sisa jaringan pascaoperasi, derajat sumbatan, serta adanya kelainan lain pada rongga hidung.

Kesimpulannya, adenoid memang dapat membesar kembali setelah operasi, terutama bila terdapat peradangan kronis yang tidak terkendali, seperti rinitis alergi, infeksi saluran napas atas berulang, atau faktor inflamasi lain. Pada sebagian anak, alergi makanan yang telah dikonfirmasi melalui Oral Food Challenge (OFC) juga dapat berkontribusi secara tidak langsung melalui mekanisme inflamasi kronis dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi saluran napas berulang yang akhirnya memicu pembesaran adenoid kembali. Oleh karena itu, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada operasi, tetapi juga harus mengendalikan penyebab inflamasi yang mendasarinya agar hasil terapi dapat bertahan dalam jangka panjang. Perlu ditekankan bahwa hubungan alergi makanan dengan pembesaran adenoid tidak terjadi pada semua anak, sehingga evaluasi dan diagnosis harus dilakukan secara individual berdasarkan penilaian klinis yang komprehensif dan pemeriksaan yang tepat.

Referensi

  • Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to future research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018 Feb;18(1):e30-e33. doi: 10.18295/squmj.2018.18.01.005. Epub 2018 Apr 4. PMID: 29666678; PMCID: PMC5892810.
  • Ciprandi G, Martelli A, Tosca M Do Foods Cause Rhinitis? The Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice, 2024; 12, 1484-1486
  • Yonis MA, Ibrahim MA, Farag FK, El Shennawy AM. Relationship between adenoidal hypertrophy and allergic rhinitis in children. Egypt J Hosp Med. 2019;74(1):94-102.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *