KONSULTASI KESEHATAN ANAK: Apakah Bayi yang Sering Gumoh atau Muntah Pasti Alergi Susu Sapi?

Apakah Bayi yang Sering Gumoh atau Muntah Pasti Alergi Susu Sapi?

Pertanyaan

“Dok, bayi saya sekarang usia 10 bulan. Dari usia sekitar 3 bulan sampai sekarang masih sering gumoh, kadang muntah setelah minum susu atau makan MPASI. Belakangan makannya juga susah, berat badannya naiknya sedikit, dan kadang sembelit. Ada yang bilang bayi saya pasti alergi susu sapi sehingga harus ganti susu. Ada juga yang menyarankan cukup diberi obat lambung. Saya jadi bingung. Benarkah bayi yang sering gumoh atau muntah pasti alergi susu sapi?”

Jawaban

Belum tentu. Justru sebagian besar bayi yang sering gumoh tidak mengalami alergi susu sapi. Gumoh merupakan hal yang cukup sering terjadi pada bayi karena saluran pencernaannya masih berkembang. Pada banyak bayi, keluhan ini akan berangsur membaik seiring bertambahnya usia, terutama setelah bayi mulai duduk, makan MPASI, dan lebih banyak beraktivitas dalam posisi tegak. Jadi, jangan langsung menyimpulkan bahwa setiap bayi yang sering gumoh pasti alergi susu sapi.

Namun, bila gumoh atau muntah terjadi terus-menerus, disertai berat badan yang sulit naik, bayi tampak kesakitan saat makan, sering rewel, sembelit, diare, darah pada tinja, eksim, atau batuk berulang, kondisi tersebut memang perlu diperiksa lebih lanjut. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari refluks asam lambung, gangguan saluran cerna, infeksi, gangguan motilitas usus, hingga alergi makanan. Karena gejalanya saling mirip, dokter tidak bisa memastikan penyebabnya hanya dari satu atau dua keluhan saja.

Saat memeriksa bayi, dokter akan melihat keseluruhan kondisi. Kapan keluhan mulai muncul, makanan apa yang dikonsumsi, bagaimana pola makan dan menyusunya, apakah pertumbuhannya sesuai kurva, serta apakah ada gejala lain yang mengarah ke alergi. Jadi, diagnosis tidak dibuat hanya berdasarkan cerita bahwa bayi sering muntah atau sembelit. Semua informasi tersebut harus disusun menjadi satu gambaran yang utuh sebelum menyimpulkan penyebabnya.

Hal yang juga perlu diketahui adalah masih sering terjadi overdiagnosis alergi susu sapi. Artinya, bayi langsung dianggap alergi hanya berdasarkan dugaan atau karena gejalanya mirip. Akibatnya, banyak bayi yang langsung diminta mengganti susu formula atau menjalani pantangan makanan yang sebenarnya belum tentu diperlukan. Padahal, pembatasan makanan yang tidak tepat dapat mengurangi variasi asupan, meningkatkan risiko kekurangan zat gizi, dan menambah beban biaya keluarga tanpa memberikan manfaat bila diagnosisnya ternyata tidak benar.

Bila setelah pemeriksaan dokter memang mencurigai adanya alergi susu sapi, biasanya akan dilakukan diet eliminasi secara terarah dan dipantau responsnya. Namun, membaiknya gejala setelah menghentikan susu sapi belum otomatis berarti bayi benar-benar alergi. Untuk memastikan diagnosis, diperlukan Oral Food Challenge pada kasus yang sesuai dan aman untuk dilakukan. Pemeriksaan ini merupakan baku emas dalam menegakkan diagnosis alergi makanan. Jadi, jangan terburu-buru memberi label alergi susu sapi hanya berdasarkan dugaan. Diagnosis yang tepat akan membuat pengobatan lebih akurat dan menghindarkan bayi dari pantangan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *