Bayi Usia 10 Bulan Hanya Mau Minum Susu, Menolak MPASI, dan Berat Badannya Sulit Naik. Apakah Ada Gangguan Pencernaan atau Alergi Makanan?

Bayi Usia 10 Bulan Hanya Mau Minum Susu, Menolak MPASI, dan Berat Badannya Sulit Naik. Apakah Ada Gangguan Pencernaan atau Alergi Makanan?

Pertanyaan

Dok, bayi saya sekarang berusia 10 bulan. Saya mulai khawatir karena sampai sekarang makannya sangat susah. Setiap kali waktu makan tiba, ia hanya mau beberapa sendok lalu menutup mulut, memalingkan wajah, atau mendorong sendok. Ia lebih memilih minum susu daripada makan MPASI. Kalau diberi nasi tim, daging, ikan, atau sayuran, hampir selalu ditolak. Kadang makanan dimuntahkan lagi atau disemburkan. Berat badannya juga sulit naik dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, bayi saya sering rewel setelah makan, perutnya sering kembung, BAB kadang keras sehingga mengejan lama dan menangis, tidurnya sering gelisah, serta pipinya kadang merah seperti eksim. Saya sudah mencoba mengganti menu, memberikan vitamin, dan mengganti susu, tetapi belum ada perubahan. Apakah ini hanya karena bayi sedang memilih makanan atau bisa menjadi tanda alergi makanan atau gangguan pada saluran pencernaannya?

Jawaban

Pada usia 10 bulan, bayi memang mulai menunjukkan preferensi terhadap makanan tertentu karena sedang belajar mengenal rasa, tekstur, dan cara mengunyah. Namun, apabila bayi terus-menerus menolak MPASI, lebih memilih susu, berat badan sulit naik, serta disertai keluhan saluran cerna atau gejala alergi, kondisi tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai fase normal. Menurut konsensus Pediatric Feeding Disorder (PFD), kesulitan makan yang mengganggu pertumbuhan, status gizi, atau kesehatan memerlukan evaluasi untuk mencari penyebab yang mendasarinya. Semakin dini penyebab ditemukan, semakin besar peluang bayi kembali memiliki pola makan yang normal.

Salah satu penyebab yang perlu dipertimbangkan adalah alergi makanan, terutama bila bayi juga mengalami eksim, muntah berulang, refluks, perut kembung, konstipasi, diare, atau sering tampak tidak nyaman setelah makan. Pada sebagian bayi, alergi tidak muncul sebagai bentol atau sesak napas, tetapi berupa peradangan ringan yang berlangsung lama pada saluran cerna. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa nyeri atau tidak nyaman setiap kali makan sehingga bayi mulai mengaitkan makan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Akibatnya, bayi lebih memilih susu atau hanya mau beberapa jenis makanan yang dianggap paling nyaman.

Meski demikian, alergi makanan bukan satu-satunya penyebab. Dokter juga perlu menilai kemungkinan refluks gastroesofageal, gangguan oral motor, keterlambatan kemampuan mengunyah, defisiensi zat besi, infeksi kronis, atau gangguan penyerapan nutrisi. Oleh karena itu, pemeriksaan tidak cukup hanya melihat berat badan atau hasil tes alergi. Riwayat makan sejak lahir, pola pertumbuhan, jenis makanan yang ditolak, hubungan gejala dengan makanan tertentu, serta pemeriksaan fisik yang menyeluruh merupakan bagian penting dalam menentukan penyebab kesulitan makan. Bila diperlukan, dokter dapat melakukan eliminasi makanan yang terarah dan Oral Food Challenge sebagai baku emas untuk memastikan diagnosis alergi makanan.

Apabila penyebabnya berhasil ditemukan dan ditangani, perbaikan biasanya terjadi secara bertahap. Bayi menjadi lebih nyaman saat makan, variasi makanan mulai bertambah, kemampuan menerima tekstur baru meningkat, dan berat badan mulai mengikuti kurva pertumbuhan yang sesuai. Bila sudah terbentuk perilaku menolak makan, terapi makan dan edukasi orang tua sering kali diperlukan agar bayi kembali memiliki pengalaman makan yang positif. Pendekatan ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan vitamin penambah nafsu makan atau sering mengganti susu tanpa mengetahui penyebab utamanya.

Orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa semua bayi yang susah makan pasti mengalami alergi makanan, tetapi juga tidak boleh menganggap semua kasus sebagai picky eater biasa. Kesulitan makan yang menetap, terutama bila disertai gangguan pertumbuhan, keluhan saluran cerna, atau gejala alergi, merupakan alasan yang kuat untuk berkonsultasi dengan dokter. Diagnosis yang tepat memungkinkan terapi diberikan sesuai penyebab sehingga pertumbuhan, status gizi, dan perkembangan bayi dapat berlangsung secara optimal.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *