Berat badan anak sulit naik. Apakah ini normal atau ada penyakit yang mendasarinya?
Pertanyaan
Anak saya berusia 4 tahun dan sejak usia sekitar 2 tahun berat badannya sangat sulit naik. Dalam enam bulan terakhir kenaikannya hanya sedikit meskipun sudah diberi susu tinggi kalori, vitamin penambah nafsu makan, suplemen, madu, dan berbagai makanan bergizi. Anak juga susah makan, hanya mau beberapa jenis makanan seperti biskuit, kerupuk, dan susu, sedangkan nasi, daging, sayur, dan buah sering ditolak. Selain itu, anak sering mengeluh perut kembung, nyeri perut, kadang muntah, sering mengedan saat buang air besar, sembelit bergantian dengan feses lunak, kemerahan di sekitar anus, batuk pilek berulang terutama malam hari, hidung tersumbat, tidur gelisah, dan sesekali muncul ruam di kulit. Apakah berat badan anak yang sulit naik masih termasuk normal karena faktor keturunan atau memang ada penyakit yang mendasarinya? Apa penyebab yang paling sering dan bagaimana cara mengatasi agar berat badan anak dapat meningkat secara optimal?
Jawaban
Berat badan anak yang sulit naik tidak selalu berarti anak mengalami penyakit serius, tetapi juga tidak boleh langsung dianggap normal. Penilaian harus dilakukan berdasarkan kurva pertumbuhan, kecepatan kenaikan berat badan, tinggi badan, riwayat kelahiran, pola makan, serta kondisi kesehatan secara menyeluruh. Sebagian anak memang memiliki perawakan kecil karena faktor genetik atau constitutional growth, tetapi pada anak yang berat badannya menetap di bawah kurva pertumbuhan, mengalami perlambatan kenaikan berat badan, atau disertai keluhan lain seperti susah makan, gangguan pencernaan, infeksi berulang, dan gangguan tidur, perlu dicari penyebab yang mendasarinya. Penyebab tersebut dapat berupa asupan gizi yang kurang, gangguan penyerapan nutrisi, penyakit kronis, gangguan hormonal, kelainan metabolik, maupun gangguan saluran cerna.
Dalam praktik sehari-hari, salah satu penyebab yang cukup sering ditemukan adalah pencernaan sensitif. Kondisi ini menggambarkan saluran cerna yang mudah mengalami gangguan akibat makanan tertentu sehingga anak sering mengalami kembung, cepat kenyang, nyeri perut, refluks, muntah, konstipasi, diare, atau perubahan pola buang air besar. Rasa tidak nyaman tersebut menyebabkan anak kehilangan nafsu makan sehingga asupan energi dan protein menjadi tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan. Akibatnya berat badan sulit bertambah meskipun orang tua telah memberikan makanan bergizi, susu tinggi kalori, maupun berbagai suplemen. Oleh karena itu, memperbaiki penyebab gangguan pencernaan jauh lebih penting daripada hanya menambah jumlah makanan.
Salah satu penyebab pencernaan sensitif yang cukup sering pada anak adalah alergi makanan, terutama alergi yang mengenai saluran cerna. Berbeda dengan anggapan bahwa alergi selalu menimbulkan bentol atau sesak napas, alergi saluran cerna sering hanya menimbulkan gejala berupa susah makan, muntah, refluks, nyeri perut, kembung, sembelit, diare, lendir pada tinja, kemerahan di sekitar anus, atau berat badan yang sulit naik. Inflamasi kronis pada mukosa usus akibat reaksi imun terhadap protein makanan dapat mengganggu fungsi pencernaan, penyerapan zat gizi, serta produksi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Akibatnya anak tampak cepat kenyang, makan sedikit, mudah menolak makanan, dan pertumbuhannya tidak optimal.
Apabila gangguan tersebut memang disebabkan oleh alergi makanan, perbaikan biasanya terjadi setelah makanan pencetus benar-benar dihindari. Dalam banyak kasus, perbaikan mulai terlihat dalam waktu sekitar 1 hingga 3 minggu setelah eliminasi makanan yang terbukti menjadi penyebab. Nafsu makan meningkat, keluhan nyeri perut dan kembung berkurang, buang air besar menjadi lebih normal, kemerahan di sekitar anus menghilang, batuk pilek berulang berkurang, tidur menjadi lebih nyenyak, anak lebih aktif, dan berat badan mulai meningkat. Perbaikan beberapa gejala yang terjadi hampir bersamaan setelah eliminasi makanan merupakan salah satu petunjuk bahwa inflamasi akibat alergi saluran cerna sebelumnya memengaruhi berbagai organ. Namun, eliminasi makanan harus dilakukan berdasarkan evaluasi medis agar tidak terjadi pembatasan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Diagnosis penyebab berat badan sulit naik memerlukan pendekatan yang sistematis. Dokter akan menilai riwayat pertumbuhan, pola makan, gejala penyerta, riwayat alergi dalam keluarga, pemeriksaan fisik, serta bila diperlukan melakukan pemeriksaan penunjang. Pada kasus yang dicurigai alergi makanan, diagnosis tidak cukup hanya berdasarkan hasil pemeriksaan IgE atau tes alergi saja karena hasil tersebut menunjukkan sensitisasi, bukan selalu alergi yang bermakna secara klinis. Bila terdapat indikasi, Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan hubungan antara makanan dengan timbulnya gejala. Pendekatan diagnosis yang tepat sangat penting untuk menghindari overdiagnosis yang dapat menyebabkan eliminasi makanan berlebihan dan memperburuk status gizi anak.
Penatalaksanaan berat badan sulit naik harus ditujukan pada penyebab yang mendasarinya. Anak perlu mendapatkan pola makan yang seimbang sesuai kebutuhan usia, jadwal makan yang teratur, tidur yang cukup, aktivitas fisik yang sesuai, serta penanganan terhadap gangguan saluran cerna bila ada. Pada anak dengan alergi makanan yang telah dikonfirmasi, eliminasi makanan pencetus disertai pemantauan pertumbuhan dan pemenuhan kebutuhan gizi umumnya memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan hanya memberikan vitamin penambah nafsu makan atau susu tinggi kalori. Dengan mengatasi inflamasi pada saluran cerna, proses penyerapan nutrisi menjadi lebih baik, nafsu makan meningkat secara alami, dan pertumbuhan berat badan dapat kembali mengikuti kurva pertumbuhan yang optimal.











Leave a Reply