KONSULTASI DOKTER ANAK: Anak Sulit Naik Berat Badan, Sering Batuk Pilek, Sempat Divonis TB tetapi Ternyata Alergi. Apa Penyebabnya?

Anak Sulit Naik Berat Badan, Sering Batuk Pilek, Sempat Divonis TB tetapi Ternyata Alergi. Apa Penyebabnya?

Tanya:

“Dok, anak saya sejak lahir berat badannya sulit naik. Dibandingkan kakaknya, badannya jauh lebih kurus. Dia juga sering batuk pilek, kadang sampai sesak napas, sembelit, dan sulit makan. Saat usia 13 bulan, anak saya sering sakit dan sempat divonis tuberkulosis (TB). Setelah meminta pendapat dokter lain, ternyata bukan TB, tetapi diduga alergi. Dulu ayahnya waktu kecil juga kurus, tetapi sekarang justru tinggi, besar, dan gemuk. Sebenarnya apa penyebab kondisi anak saya?”

Jawab dr Widodo Judarwanto, pediatricina:

Keluhan yang Anda ceritakan cukup sering dijumpai pada praktik dokter anak. Berat badan yang sulit naik sejak bayi, sulit makan, batuk pilek berulang, sesak, sembelit, dan pertumbuhan yang tampak lebih kecil dibandingkan saudara kandung memang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Penyebabnya tidak selalu karena kekurangan gizi atau tuberkulosis. Salah satu penyebab yang sering terlewat adalah alergi makanan, terutama alergi makanan tipe non-IgE yang mengenai saluran pencernaan. Berbeda dengan alergi IgE yang biasanya menimbulkan biduran atau bengkak sesaat setelah makan, alergi non-IgE sering memberikan gejala yang samar dan berlangsung kronis sehingga lebih sulit dikenali. Anak dapat mengalami gangguan makan, muntah, refluks, nyeri perut, sembelit, diare, perut kembung, hingga berat badan sulit bertambah.

Pada alergi makanan yang melibatkan saluran cerna, peradangan kronis pada dinding usus dapat mengganggu proses pencernaan dan penyerapan zat gizi. Anak menjadi cepat kenyang, mudah mual, tidak nyaman saat makan, atau menolak makanan tertentu. Akibatnya, asupan energi dan protein menjadi kurang sehingga berat badan sulit meningkat. Kondisi ini sering disertai gangguan makan seperti picky eater atau Pediatric Feeding Disorder. Selain itu, peradangan alergi juga dapat memengaruhi saluran napas sehingga anak lebih sering mengalami batuk, pilek, mengi, atau sesak, terutama bila memiliki penyakit alergi lain seperti rinitis alergi atau asma. Karena gejalanya muncul pada beberapa organ sekaligus, banyak orang tua tidak menyadari bahwa semuanya dapat berhubungan dengan satu penyebab yang sama.

Riwayat ayah yang dahulu bertubuh kecil tetapi kemudian tumbuh menjadi tinggi dan besar juga memberikan petunjuk penting. Sebagian anak memang mengalami constitutional growth delay, yaitu variasi pertumbuhan normal yang ditandai dengan tubuh lebih kecil dibandingkan teman sebaya pada masa kanak-kanak, tetapi kemudian mengalami percepatan pertumbuhan saat memasuki masa pubertas. Anak dengan kondisi ini umumnya tetap sehat, kecepatan pertumbuhan masih sesuai, dan pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan penyakit kronis. Namun, constitutional growth delay tidak menjelaskan keluhan batuk pilek berulang, sesak, sembelit, dan sulit makan. Karena itu, dokter tetap perlu mencari kemungkinan penyebab lain, termasuk alergi makanan, gangguan penyerapan nutrisi, penyakit saluran cerna, maupun gangguan hormonal bila ditemukan tanda yang mengarah ke sana.

Gejala seperti berat badan sulit naik, nafsu makan menurun, batuk lama, dan sering sakit memang dapat menyerupai tuberkulosis. Inilah sebabnya sebagian anak mengalami overdiagnosis TB, terutama bila diagnosis hanya didasarkan pada gejala, foto rontgen dada yang tidak khas, atau riwayat kontak yang belum jelas. Padahal, keluhan tersebut juga dapat ditemukan pada alergi makanan, asma, rinitis alergi, infeksi virus berulang, maupun gangguan pertumbuhan lainnya. Diagnosis TB sebaiknya ditegakkan berdasarkan gabungan riwayat kontak dengan penderita TB, pemeriksaan fisik, uji tuberkulin atau IGRA sesuai indikasi, pemeriksaan pencitraan, serta evaluasi klinis yang menyeluruh. Diagnosis yang tepat penting agar anak tidak mendapatkan pengobatan TB yang sebenarnya tidak diperlukan.

Evaluasi pada anak dengan keluhan seperti ini sebaiknya dilakukan secara menyeluruh. Dokter akan menilai pola pertumbuhan sejak lahir, menghitung kecepatan kenaikan berat dan tinggi badan, mengevaluasi asupan makan, riwayat alergi dalam keluarga, pola buang air besar, riwayat infeksi, serta melakukan pemeriksaan fisik lengkap. Bila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan penyakit lain. Pada kasus yang dicurigai sebagai alergi makanan non-IgE, diagnosis sering kali tidak dapat ditegakkan hanya dengan pemeriksaan IgE atau tes tusuk kulit karena hasilnya dapat tetap normal. Penilaian klinis, eliminasi makanan yang dicurigai di bawah pengawasan dokter, kemudian dilanjutkan dengan uji provokasi makanan bila diperlukan, sering menjadi cara yang lebih tepat untuk memastikan diagnosis.

Bila penyebab utama berhasil ditemukan dan ditangani, banyak anak menunjukkan perbaikan yang nyata. Nafsu makan meningkat, sembelit berkurang, batuk pilek dan sesak menjadi lebih jarang, tidur lebih nyenyak, serta berat badan mulai mengejar ketertinggalannya. Oleh karena itu, jangan hanya berfokus pada angka berat badan, tetapi cari penyebab yang mendasarinya. Anak dengan pertumbuhan lambat belum tentu mengalami TB, dan anak dengan riwayat keluarga bertubuh kecil belum tentu hanya mengalami constitutional growth delay. Pendekatan yang menyeluruh akan membantu membedakan variasi pertumbuhan normal dari penyakit yang memerlukan penanganan khusus, sehingga terapi yang diberikan benar-benar sesuai dengan penyebabnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *