Apakah Hasil Tes IgG yang Positif Berarti Anak Pasti Mengalami Alergi Makanan?
Pertanyaan
“Dok, anak saya sekarang berusia 7 tahun. Sejak kecil kulitnya sering gatal dan kambuh menjadi ruam, terutama di lipatan tangan dan kaki. Selain itu, hampir setiap hari hidungnya tersumbat, sering bersin pada pagi hari, dan dokter mengatakan anak saya mengalami rinitis alergi. Belakangan amandelnya juga sering membesar sehingga mendengkur saat tidur dan beberapa kali mengalami radang tenggorokan. Saya kemudian membawa anak saya ke sebuah klinik yang menawarkan tes IgG makanan. Hasilnya menunjukkan lebih dari 20 jenis makanan positif, seperti susu sapi, telur, ayam, ikan, udang, gandum, kedelai, tomat, pisang, dan beberapa buah lainnya. Saya disarankan menghentikan semua makanan tersebut karena dianggap sebagai penyebab alergi anak. Saya menjadi khawatir karena hampir semua makanan kesukaan anak harus dipantang. Benarkah hasil tes IgG dapat memastikan bahwa anak saya mengalami alergi makanan? Apakah semua makanan yang hasilnya positif harus dihentikan?”
Jawaban, dr Widodo Judarwanto, pediatrican
Jawabannya adalah tidak. Pemeriksaan IgG atau IgG4 tidak dapat digunakan untuk memastikan seseorang mengalami alergi makanan. Hasil pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan bahwa tubuh pernah terpapar atau mengenali makanan tertentu. Bahkan, kadar IgG sering lebih tinggi pada orang yang rutin mengonsumsi makanan tersebut tanpa mengalami keluhan apa pun. Karena itu, hasil IgG positif tidak membuktikan bahwa makanan tersebut menjadi penyebab alergi.
Anak yang mengalami dermatitis atopik, rinitis alergi, atau pembesaran amandel belum tentu memiliki alergi makanan sebagai penyebab keluhannya. Dermatitis atopik dapat dipengaruhi oleh gangguan fungsi sawar kulit, faktor genetik, iritan, maupun alergen lingkungan. Rinitis alergi lebih sering dipicu oleh tungau debu rumah, serbuk sari, jamur, atau bulu binatang. Pembesaran amandel juga paling sering berkaitan dengan infeksi berulang atau peradangan kronis, bukan semata-mata akibat alergi makanan. Oleh karena itu, semua keluhan tersebut tidak boleh langsung dihubungkan dengan hasil tes IgG.
Berbagai organisasi alergi dunia memiliki sikap yang sama mengenai pemeriksaan IgG. World Allergy Organization (WAO), American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA), serta Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology (CSACI) tidak merekomendasikan pemeriksaan IgG sebagai alat diagnosis alergi makanan. Pemeriksaan ini juga tidak dianjurkan sebagai dasar untuk menentukan makanan yang harus dipantang karena tidak memiliki akurasi yang memadai dalam membedakan alergi dengan toleransi normal terhadap makanan.
Dokter akan menegakkan diagnosis alergi makanan berdasarkan riwayat klinis yang khas. Dokter akan menanyakan apakah setiap kali anak mengonsumsi makanan tertentu selalu muncul keluhan yang sama, berapa lama jeda antara makan dan timbulnya gejala, apakah terdapat biduran, bengkak, muntah, diare, sesak napas, atau gejala lain yang sesuai dengan reaksi alergi. Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik dan bila diperlukan pemeriksaan Skin Prick Test atau IgE spesifik. Namun, kedua pemeriksaan tersebut hanya membantu diagnosis dan tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya gejala yang sesuai.
Apabila terdapat dugaan kuat terhadap makanan tertentu, dokter dapat melakukan diet eliminasi yang terarah. Hanya makanan yang paling dicurigai dihentikan sementara sambil dipantau perubahan gejalanya. Menghentikan semua makanan yang hasil IgG-nya positif tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan pembatasan makanan yang berlebihan, menurunkan kualitas gizi, meningkatkan kecemasan keluarga, dan pada anak dapat mengganggu pertumbuhan maupun variasi pola makan.
Bila setelah diet eliminasi gejala membaik, diagnosis masih belum dapat dipastikan. Pada kasus yang sesuai dan aman, dokter akan mempertimbangkan Oral Food Challenge, yaitu pemberian kembali makanan yang dicurigai secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis. Hingga saat ini, Oral Food Challenge merupakan baku emas dalam diagnosis alergi makanan karena dapat membuktikan secara langsung apakah makanan tersebut benar-benar menimbulkan reaksi alergi.
Jadi, hasil tes IgG yang positif tidak berarti anak pasti alergi terhadap makanan tersebut. Diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada gabungan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang yang sesuai indikasi, diet eliminasi yang terarah, dan konfirmasi dengan Oral Food Challenge bila diperlukan. Pendekatan berbasis bukti ini membantu mencegah overdiagnosis, menghindari pantangan makanan yang tidak perlu, dan memastikan anak tetap memperoleh asupan gizi yang optimal.
Tabel. Peran Berbagai Pemeriksaan dalam Diagnosis Alergi Makanan
| Pemeriksaan | Apa yang Dinilai | Dapat Memastikan Alergi? | Rekomendasi |
|---|---|---|---|
| Riwayat klinis | Hubungan makanan dengan munculnya gejala | Ya, merupakan dasar utama | Direkomendasikan oleh WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA |
| Pemeriksaan fisik | Manifestasi alergi dan kemungkinan penyakit lain | Mendukung diagnosis | Direkomendasikan |
| Skin Prick Test (SPT) | Sensitisasi yang diperantarai IgE | Tidak bila digunakan sendiri | Direkomendasikan bila ada indikasi klinis |
| IgE spesifik | Antibodi IgE terhadap makanan tertentu | Tidak bila digunakan sendiri | Direkomendasikan bila ada indikasi klinis |
| Diet eliminasi terarah | Perubahan gejala setelah makanan dihentikan | Membantu evaluasi | Direkomendasikan pada kasus terpilih |
| Oral Food Challenge (OFC) | Reaksi setelah makanan diberikan kembali di bawah pengawasan tenaga medis | Ya, merupakan baku emas diagnosis | Direkomendasikan oleh WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA |
| IgG atau IgG4 makanan | Paparan atau toleransi terhadap makanan | Tidak | Tidak direkomendasikan oleh WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA, dan CSACI untuk diagnosis alergi makanan |











Leave a Reply