Waspada Overdiagnosis Usus Buntu pada Anak dengan Nyeri Perut Berulang Akibat Gangguan Pencernaan Fungsional dan Alergi Makanan
Sebagian besar anak yang mengalami nyeri perut berulang ternyata tidak menderita penyakit yang memerlukan operasi. Sekitar 90 hingga 95 persen kasus termasuk kelompok Functional Gastrointestinal Disorders (FGIDs), seperti Irritable Bowel Syndrome (IBS), nyeri perut fungsional, dispepsia fungsional, migrain abdominal, dan konstipasi fungsional. Pada sebagian anak, terutama yang memiliki alergi makanan, peradangan ringan pada saluran cerna juga dapat memicu gejala yang sangat mirip dengan FGIDs. Anak dapat mengeluh nyeri perut hilang timbul, perut kembung, sulit BAB, mual, muntah, atau nyeri di perut kanan bawah sehingga sering disangka mengalami apendisitis.
Ilustrasi Kasus
Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun datang dengan keluhan nyeri perut yang berulang sejak usia 6 tahun. Nyeri muncul hilang timbul, kadang di sekitar pusar, kadang berpindah ke perut kanan bawah, lalu menghilang sendiri setelah beberapa jam. Saat bayi, ia memiliki riwayat kolik hebat, sering mual dan muntah sebelum usia 1 tahun, konstipasi kronis, serta didiagnosis mengalami alergi pencernaan. Anak juga menderita rinitis alergi dan asma sejak usia balita. Karena nyeri perut semakin hebat dan menetap di perut kanan bawah, ia dibawa ke instalasi gawat darurat dan didiagnosis menderita usus buntu. Orang tua diminta mempersiapkan operasi karena dikhawatirkan terjadi apendisitis akut.
Sebelum operasi dilakukan, keluarga meminta pendapat dokter lain. Dari wawancara yang lebih rinci diketahui bahwa anak telah mengalami pola nyeri perut yang sama selama bertahun-tahun, disertai konstipasi, keluhan saluran cerna yang sering kambuh, serta riwayat penyakit alergi. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi tidak menunjukkan tanda yang meyakinkan ke arah apendisitis akut. Setelah mendapatkan penanganan konservatif, pengaturan konstipasi, serta evaluasi terhadap kemungkinan gangguan saluran cerna fungsional dan alergi makanan, nyeri perut berangsur membaik tanpa operasi. Kasus ini menunjukkan bahwa tidak semua nyeri perut kanan bawah pada anak merupakan usus buntu. Riwayat kolik saat bayi, alergi pencernaan, konstipasi kronis, rinitis alergi, dan asma dapat menjadi petunjuk penting bahwa keluhan lebih mengarah ke gangguan saluran cerna fungsional atau manifestasi alergi, sehingga evaluasi yang teliti dapat membantu menghindari operasi yang tidak diperlukan.
Dalam praktik sehari-hari, sebagian anak bahkan menjalani evaluasi bedah karena dicurigai mengalami usus buntu. Padahal setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, penyebab keluhannya adalah FGIDs atau alergi makanan. Kondisi ini disebut overdiagnosis, yaitu diagnosis yang berlebihan sehingga berpotensi menyebabkan tindakan yang sebenarnya tidak diperlukan. Sebaliknya, dokter juga harus menghindari underdiagnosis karena apendisitis yang terlambat dikenali dapat menyebabkan perforasi usus buntu dan infeksi berat. Oleh karena itu, keseimbangan antara kewaspadaan terhadap apendisitis dan menghindari operasi yang tidak perlu menjadi prinsip penting dalam penanganan nyeri perut pada anak.
Alergi Makanan Dapat Menyerupai Usus Buntu
Pada sebagian anak, terutama yang mengalami alergi protein susu sapi atau alergi makanan lainnya, reaksi imun di saluran cerna dapat menyebabkan nyeri perut kronis atau berulang. Nyeri dapat berpindah-pindah, termasuk ke perut kanan bawah, sehingga menyerupai apendisitis. Keluhan sering disertai konstipasi, diare bergantian dengan konstipasi, muntah, perut kembung, nafsu makan menurun, dermatitis atopik, atau gangguan pertumbuhan.
Bila ditemukan riwayat alergi pada anak atau keluarga, dokter dapat mempertimbangkan kemungkinan alergi makanan sebagai salah satu diagnosis banding. Pada kasus yang tidak menunjukkan tanda bahaya bedah dan hasil pemeriksaan awal tidak mendukung apendisitis, eliminasi makanan yang dicurigai di bawah pengawasan dokter dapat menjadi bagian dari evaluasi. Apabila keluhan membaik setelah eliminasi dan muncul kembali saat dilakukan Open Oral Food Challenge (OFC) sesuai indikasi, hasil tersebut lebih mendukung diagnosis alergi makanan daripada penyakit bedah. Pendekatan ini tidak boleh digunakan bila terdapat kecurigaan kuat terhadap apendisitis akut atau kondisi gawat darurat lainnya.
Kapan Nyeri Perut Lebih Mengarah ke FGIDs atau Alergi?
Beberapa keadaan berikut lebih sering ditemukan pada FGIDs atau alergi makanan dibandingkan apendisitis.
- Nyeri sudah berulang selama berbulan atau bertahun.
- Nyeri hilang timbul dan anak kembali aktif setelah nyeri mereda.
- Riwayat kolik saat bayi.
- Riwayat tidur dengan posisi menungging atau sering gelisah pada malam hari.
- Riwayat konstipasi kronis atau sulit BAB.
- Dermatitis atopik, eksim, atau alergi lainnya.
- Riwayat alergi pada orang tua atau saudara kandung.
- Keluhan membaik setelah eliminasi makanan tertentu.
Sebaliknya, nyeri yang terus-menerus selama lebih dari 24 jam, semakin berat, menetap di perut kanan bawah, disertai demam, muntah, anak sulit berjalan, atau perut menjadi keras harus segera dievaluasi untuk menyingkirkan apendisitis akut.
Perbedaan FGIDs atau Alergi Makanan dengan Apendisitis
| Karakteristik | FGIDs | Nyeri Perut akibat Alergi Makanan | Apendisitis Akut |
|---|---|---|---|
| Awitan | Berulang sejak lama | Berulang, sering berkaitan dengan makanan | Mendadak |
| Pola nyeri | Hilang timbul | Hilang timbul | Terus-menerus dan semakin berat |
| Lama nyeri | Menit hingga beberapa jam | Dapat berulang setiap hari | Lebih dari 24 jam tanpa benar-benar hilang |
| Lokasi nyeri | Berpindah-pindah | Dapat berpindah, termasuk kanan bawah | Menetap di kanan bawah |
| Demam | Jarang | Jarang | Sering |
| Muntah | Kadang | Dapat terjadi | Sering |
| Dermatitis atopik | Tidak khas | Sering ditemukan | Tidak khas |
| Riwayat alergi keluarga | Tidak khas | Sering | Tidak berhubungan |
| Hubungan dengan makanan | Tidak jelas | Sering ada | Tidak ada |
| Respons eliminasi makanan | Tidak bermakna | Sering membaik | Tidak membaik |
| Pemeriksaan laboratorium | Umumnya normal | Umumnya normal | Leukosit dan CRP sering meningkat |
| USG abdomen | Normal | Normal | Mendukung apendisitis bila positif |
| Penanganan | Terapi FGIDs | Eliminasi makanan yang telah terkonfirmasi dan tata laksana alergi | Operasi bila diagnosis telah ditegakkan |
Pesan Penting bagi Orang Tua
- Jangan menganggap semua nyeri perut kanan bawah sebagai usus buntu. Pada anak yang sering mengalami nyeri perut berulang, terutama bila disertai konstipasi, eksim, muntah, atau riwayat alergi, kemungkinan FGIDs maupun alergi makanan juga perlu dipertimbangkan. Namun, bila nyeri tidak pernah hilang selama lebih dari 24 jam, semakin berat, disertai demam, muntah berulang, atau anak sulit berjalan, segera bawa anak ke rumah sakit karena kondisi tersebut dapat merupakan apendisitis yang memerlukan penanganan segera.
- Diagnosis yang tepat memerlukan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik berulang, pemeriksaan laboratorium, ultrasonografi sebagai pencitraan awal, serta observasi klinis bila diperlukan. Pada kasus yang mengarah ke alergi makanan tetapi tidak ditemukan tanda bedah akut, eliminasi makanan yang terarah dan konfirmasi dengan Open Oral Food Challenge sesuai indikasi dapat membantu menghindari salah diagnosis dan tindakan operasi yang tidak diperlukan. Pendekatan ini harus dilakukan oleh dokter dan tidak boleh menunda penanganan bila terdapat kecurigaan kuat terhadap apendisitis.












Leave a Reply