Pertanyaan:
Anak saya sering mengalami demam, batuk, pilek, radang tenggorokan, diare, atau infeksi telinga. Setiap kali berobat, saya sering mendengar pendapat yang berbeda mengenai penggunaan antibiotik. Ada yang mengatakan semua infeksi harus diberi antibiotik agar cepat sembuh, sementara ada yang menyarankan cukup obat penurun demam dan istirahat. Saya menjadi bingung, kapan sebenarnya anak memerlukan antibiotik, kapan antibiotik tidak diperlukan, dan apa bahaya jika antibiotik diberikan tanpa indikasi yang jelas?
Jawaban:
Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Antibiotik tidak dapat membunuh virus sehingga tidak bermanfaat untuk sebagian besar penyakit infeksi yang paling sering dialami anak, seperti batuk pilek, influenza, sebagian besar radang tenggorokan, bronkiolitis, maupun sebagian besar diare akut. Lebih dari 70 hingga 90 persen infeksi saluran napas atas pada anak disebabkan oleh virus sehingga akan sembuh dengan sendirinya melalui kerja sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, pemberian antibiotik hanya boleh dilakukan bila terdapat dugaan kuat atau bukti bahwa penyebab infeksi adalah bakteri.
Dokter menentukan perlunya antibiotik berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, lama penyakit, lokasi infeksi, dan bila diperlukan pemeriksaan laboratorium atau radiologi. Pada beberapa penyakit seperti pneumonia bakteri, infeksi saluran kemih, meningitis, demam tifoid, atau infeksi kulit akibat bakteri, antibiotik merupakan terapi utama yang dapat menyelamatkan nyawa. Sebaliknya, pada infeksi virus, pengobatan difokuskan pada istirahat, cairan yang cukup, nutrisi yang baik, serta obat untuk mengurangi gejala seperti demam atau nyeri. Warna ingus atau dahak yang berubah menjadi kuning atau hijau tidak selalu berarti infeksi bakteri dan bukan merupakan alasan tunggal untuk memberikan antibiotik.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai dampak yang merugikan. Antibiotik dapat menyebabkan diare, reaksi alergi, gangguan keseimbangan mikrobiota usus, serta meningkatkan risiko terjadinya resistensi antibiotik. Resistensi terjadi ketika bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik sehingga infeksi di kemudian hari menjadi lebih sulit diobati. Organisasi Kesehatan Dunia telah menetapkan resistensi antimikroba sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global. Oleh karena itu, antibiotik harus digunakan secara rasional sesuai indikasi medis.
Pada sebagian anak, batuk pilek atau infeksi yang tampak berulang sebenarnya dipicu oleh penyakit alergi, terutama rinitis alergi, asma, atau alergi makanan yang mengenai saluran cerna. Peradangan alergi menyebabkan saluran napas menjadi lebih sensitif sehingga anak lebih mudah mengalami infeksi virus berulang. Pada kondisi ini, pemberian antibiotik berulang tidak akan menyelesaikan masalah karena penyebab utamanya bukan infeksi bakteri. Penanganan alergi yang tepat sering kali lebih efektif dalam mengurangi kekambuhan dibandingkan pemberian antibiotik berulang. Dokter juga akan mempertimbangkan kemungkinan penyakit lain seperti gangguan daya tahan tubuh bila infeksi sangat berat atau tidak sesuai pola infeksi virus biasa.
Tabel penggunaan antibiotik pada anak
| Kondisi | Penyebab tersering | Antibiotik |
|---|---|---|
| Batuk pilek biasa | Virus | Tidak diperlukan |
| Influenza | Virus influenza | Tidak diperlukan |
| COVID-19 tanpa infeksi bakteri | Virus | Tidak diperlukan |
| Bronkiolitis | Virus | Tidak diperlukan |
| Sebagian besar radang tenggorokan | Virus | Tidak diperlukan |
| Faringitis Streptococcus | Bakteri | Diperlukan |
| Pneumonia bakteri | Bakteri | Diperlukan |
| Pneumonia virus | Virus | Tidak diperlukan |
| Otitis media akut | Sebagian virus, sebagian bakteri | Tergantung usia, berat gejala, dan hasil pemeriksaan |
| Sinusitis akut | Virus pada awal penyakit, bakteri bila menetap | Antibiotik bila memenuhi kriteria bakteri |
| Diare akut tanpa darah | Virus | Tidak diperlukan |
| Diare karena disentri bakteri tertentu | Bakteri | Diperlukan |
| Infeksi saluran kemih | Bakteri | Diperlukan |
| Meningitis bakteri | Bakteri | Sangat diperlukan segera |
Orang tua sebaiknya tidak membeli antibiotik tanpa resep, tidak menggunakan sisa antibiotik dari pengobatan sebelumnya, dan tidak menghentikan antibiotik lebih awal bila memang telah diresepkan dokter. Segera bawa anak ke dokter apabila demam tinggi menetap lebih dari tiga hari, sesak napas, tampak sangat lemas, tidak mau minum, kejang, nyeri hebat, atau terdapat tanda infeksi berat lainnya. Penggunaan antibiotik yang tepat sesuai indikasi akan memberikan manfaat maksimal, mengurangi efek samping, mencegah resistensi bakteri, dan membantu menjaga efektivitas antibiotik bagi anak di masa mendatang.











Leave a Reply