ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN THT PADA BAYI: PATOFISIOLOGI, MANIFESTASI KLINIS, DIAGNOSIS, DAN PENATALAKSANAAN BERBASIS BUKTI
Abstrak
Alergi makanan merupakan salah satu penyakit imunologi yang paling sering dijumpai pada bayi dan dapat menimbulkan manifestasi multisistem, termasuk pada telinga, hidung, dan tenggorokan (THT). Selama bertahun-tahun perhatian lebih banyak difokuskan pada gejala kulit dan saluran cerna, padahal inflamasi akibat alergi makanan juga dapat memengaruhi mukosa saluran napas atas melalui mekanisme imun sistemik, gangguan sawar mukosa, dan interaksi gut-airway axis. Bayi dengan alergi makanan lebih sering mengalami rinitis kronis, hidung tersumbat, rinore persisten, bersin berulang, adenoid hipertrofi, otitis media dengan efusi, gangguan tidur, mendengkur, hingga infeksi saluran napas atas berulang. Diagnosis memerlukan anamnesis yang teliti, pemeriksaan klinis, eliminasi makanan, serta konfirmasi menggunakan Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas. Artikel ini membahas hubungan imunologis antara alergi makanan dan gangguan THT pada bayi berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Hubungan Alergi Makanan dan Gangguan THT
Alergi makanan tidak hanya menyebabkan gangguan saluran cerna atau kulit, tetapi juga dapat memengaruhi saluran napas atas melalui proses inflamasi sistemik. Pada bayi, mukosa hidung, sinus, tuba Eustachius, adenoid, dan mukosa faring memiliki hubungan erat dengan sistem imun mukosa usus melalui konsep common mucosal immune system. Aktivasi respons imun akibat protein makanan dapat memicu pelepasan sitokin proinflamasi, aktivasi eosinofil, sel mast, dan limfosit T yang menyebabkan inflamasi kronis pada mukosa THT. Akibatnya, bayi dapat mengalami gejala hidung tersumbat kronis, pilek berulang, bersin, gangguan pendengaran akibat otitis media dengan efusi, hingga gangguan tidur.
Pentingnya Diagnosis Dini
Gangguan THT akibat alergi makanan sering disalahartikan sebagai infeksi virus berulang atau pembesaran adenoid semata. Banyak bayi mendapat antibiotik berulang, dekongestan, atau bahkan tindakan operasi tanpa evaluasi alergi makanan sebagai penyebab yang mendasari. Identifikasi dini terhadap makanan pemicu dapat mengurangi inflamasi kronis, memperbaiki gejala THT, serta mencegah komplikasi jangka panjang.
IMUNOPATOFISIOLOGI
Gut-Airway Axis
Penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan erat antara usus dan saluran napas melalui gut-airway axis. Mikrobiota usus menghasilkan metabolit seperti short-chain fatty acids yang berperan dalam pembentukan sel T regulator dan menjaga toleransi imun. Gangguan mikrobiota akibat alergi makanan menyebabkan peningkatan inflamasi sistemik yang dapat memengaruhi mukosa hidung, telinga, dan tenggorokan.
Inflamasi Mukosa Saluran Napas Atas
Protein makanan yang memicu alergi mengaktifkan sel dendritik dan limfosit T helper tipe 2 sehingga meningkatkan produksi IL-4, IL-5, IL-13, dan eotaksin. Sitokin tersebut meningkatkan infiltrasi eosinofil, edema mukosa, produksi mukus, dan hiperreaktivitas saluran napas atas sehingga muncul berbagai manifestasi THT.
MANIFESTASI THT PADA BAYI DENGAN ALERGI MAKANAN
Gangguan Hidung
Mukosa hidung merupakan organ yang paling sering terkena inflamasi alergi. Bayi mengalami hidung tersumbat kronis, pilek bening yang menetap, bersin berulang terutama pagi hari, gatal hidung, dan napas berbunyi. Hidung tersumbat kronis menyebabkan bayi sulit menyusu, mudah rewel, dan tidur tidak nyenyak.
Gangguan Adenoid
Inflamasi kronis menyebabkan hipertrofi adenoid sehingga saluran napas belakang hidung menyempit. Bayi bernapas melalui mulut, mendengkur saat tidur, sering terbangun malam, dan pada kasus berat dapat mengalami obstructive sleep apnea.
Gangguan Telinga
Edema mukosa tuba Eustachius mengganggu ventilasi telinga tengah sehingga cairan mudah terkumpul dan menyebabkan otitis media dengan efusi. Bayi tampak kurang responsif terhadap suara, sering menarik telinga, rewel, atau mengalami infeksi telinga berulang.
Gangguan Tenggorokan
Inflamasi mukosa faring menyebabkan batuk kronis, sering berdehem, suara serak, muntah akibat batuk, serta rasa tidak nyaman saat menelan. Pada beberapa bayi, refluks akibat alergi makanan memperberat iritasi tenggorokan.
TABEL MANIFESTASI THT
| Organ | Gejala |
|---|---|
| Hidung | Pilek kronis, hidung tersumbat, bersin, rinore bening, gatal hidung |
| Sinus | Kongesti kronis, sekret mukus |
| Adenoid | Hipertrofi adenoid, napas mulut, mendengkur |
| Telinga | Otitis media dengan efusi, infeksi telinga berulang, gangguan pendengaran |
| Tuba Eustachius | Disfungsi ventilasi telinga tengah |
| Faring | Batuk kronis, berdehem, nyeri menelan |
| Laring | Suara serak, batuk malam |
| Tidur | Mendengkur, sering terbangun, kualitas tidur buruk |
TABEL HUBUNGAN MAKANAN DAN MANIFESTASI THT
| Makanan pencetus | Manifestasi THT yang sering muncul |
|---|---|
| Susu sapi | Rinitis kronis, otitis media, adenoid hipertrofi |
| Telur | Bersin, pilek kronis |
| Kedelai | Kongesti hidung |
| Gandum | Batuk kronis, rinitis |
| Kacang tanah | Reaksi akut hingga edema saluran napas |
| Ikan | Rinitis dan urtikaria |
| Udang | Edema mukosa saluran napas atas |
| Seafood | Reaksi akut disertai pembengkakan |
DIAGNOSIS
Anamnesis
Anamnesis harus mengevaluasi hubungan waktu antara konsumsi makanan dengan timbulnya gejala THT. Dokter juga perlu menilai adanya dermatitis atopik, gangguan saluran cerna, riwayat alergi keluarga, pertumbuhan bayi, dan frekuensi infeksi saluran napas.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan meliputi evaluasi mukosa hidung, ukuran adenoid dan tonsil, membran timpani, cairan telinga tengah, dermatitis atopik, serta status nutrisi.
Pemeriksaan Penunjang
| Pemeriksaan | Kegunaan |
|---|---|
| Skin prick test | Sensitisasi IgE |
| IgE spesifik | Alergi IgE |
| Hitung eosinofil | Inflamasi alergi |
| Endoskopi hidung | Hipertrofi adenoid |
| Timpanometri | Otitis media dengan efusi |
| Audiometri sesuai usia | Gangguan pendengaran |
| Oral Food Challenge | Konfirmasi diagnosis |
Oral Food Challenge
Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan apakah makanan tertentu benar menjadi penyebab gejala THT. Pemeriksaan ini dilakukan secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis setelah kondisi pasien stabil. OFC sangat penting karena banyak bayi mengalami sensitisasi tanpa gejala klinis, sedangkan sebagian bayi dengan alergi non-IgE memiliki hasil pemeriksaan IgE yang normal. Dengan OFC, eliminasi makanan dapat dilakukan secara tepat sehingga mencegah pembatasan diet yang tidak diperlukan.
PENATALAKSANAAN
Terapi utama adalah eliminasi makanan yang telah terbukti sebagai pencetus berdasarkan evaluasi klinis dan bila memungkinkan dikonfirmasi dengan OFC. Bayi yang mendapat ASI tetap dianjurkan menyusu, sementara ibu menjalani diet eliminasi bila diperlukan. Pada bayi yang menggunakan susu formula dapat dipilih formula hidrolisat ekstensif atau formula asam amino sesuai indikasi.
Gangguan THT ditangani sesuai manifestasi klinis. Irigasi hidung dengan larutan salin dapat membantu mengurangi sekret dan kongesti. Kortikosteroid intranasal dipertimbangkan pada bayi tertentu dengan rinitis alergi persisten sesuai penilaian dokter. Otitis media dengan efusi memerlukan pemantauan berkala, sedangkan tindakan bedah seperti adenoidektomi hanya dipertimbangkan bila terdapat indikasi yang jelas setelah penyebab alergi telah dievaluasi.
TABEL PERBEDAAN GANGGUAN THT AKIBAT ALERGI DAN INFEKSI
| Karakteristik | Alergi makanan | Infeksi |
|---|---|---|
| Demam | Jarang | Sering |
| Lendir hidung | Bening | Kuning atau hijau dapat terjadi |
| Bersin | Sangat sering | Ringan |
| Gatal hidung | Sering | Jarang |
| Hubungan dengan makanan | Jelas pada sebagian pasien | Tidak ada |
| Dermatitis atopik | Sering menyertai | Tidak khas |
| Gangguan cerna | Sering menyertai | Tidak khas |
| Respons antibiotik | Tidak membaik | Dapat membaik bila infeksi bakteri |
Kesimpulan
Alergi makanan pada bayi merupakan penyakit sistemik yang dapat melibatkan saluran cerna, kulit, saluran napas bawah, serta organ THT. Inflamasi imunologis akibat makanan dapat menyebabkan rinitis kronis, hipertrofi adenoid, otitis media dengan efusi, gangguan tidur, dan infeksi saluran napas atas berulang. Diagnosis harus didasarkan pada anamnesis yang cermat, pemeriksaan klinis, serta konfirmasi menggunakan Oral Food Challenge sebagai standar emas. Pendekatan berbasis bukti ini membantu mencegah overdiagnosis, mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak perlu, dan memungkinkan penatalaksanaan yang lebih tepat sehingga pertumbuhan, perkembangan, dan kualitas hidup bayi dapat ditingkatkan.












Leave a Reply