KONSULTASI DOKTER ANAK: Apa Saja Masalah yang Paling Sering Dialami Ibu Saat Menyusui? Penjelasan Ilmiah dan Cara Mengatasinya

Apa Saja Masalah yang Paling Sering Dialami Ibu Saat Menyusui? Penjelasan Ilmiah dan Cara Mengatasinya

Pertanyaan

“Dok, saya sering mendengar bahwa menyusui itu alami, tetapi kenyataannya banyak ibu mengeluhkan berbagai kesulitan. Ada yang khawatir ASI tidak cukup, takut payudara terasa nyeri, bingung apakah makanan atau obat yang dikonsumsi memengaruhi ASI, merasa bayinya belum kenyang setelah menyusu, bahkan ada yang stres karena harus kembali bekerja sehingga khawatir tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Apakah masalah seperti ini memang sering terjadi? Bagaimana penjelasan ilmiahnya dan apa yang sebaiknya dilakukan agar ibu tetap berhasil menyusui?”

Jawaban, dr Widodo Judarwanto, pediatrician

1. Khawatir produksi ASI tidak mencukupi merupakan masalah yang paling sering dialami ibu menyusui. Pada kenyataannya, sebagian besar ibu mampu memproduksi ASI yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Kekhawatiran ini sering muncul karena bayi menyusu sangat sering, payudara tidak terasa penuh, atau ASI yang diperah hanya sedikit. Padahal, frekuensi menyusu yang tinggi merupakan kondisi normal, terutama pada minggu-minggu pertama kehidupan. Produksi ASI mengikuti prinsip supply and demand. Selama bayi menyusu dengan pelekatan yang baik dan berat badannya bertambah sesuai kurva pertumbuhan, produksi ASI umumnya sudah mencukupi.

2. Nyeri saat menyusui bukan kondisi yang harus dianggap normal. Banyak ibu mengira rasa sakit adalah bagian yang tidak dapat dihindari dari proses menyusui. Padahal, penyebab tersering nyeri adalah pelekatan bayi yang kurang tepat, bukan karena puting atau payudara ibu bermasalah. Bila dibiarkan, nyeri dapat menyebabkan puting lecet, ibu enggan menyusui, dan akhirnya produksi ASI menurun. Dengan memperbaiki posisi menyusui dan cara bayi melekat pada payudara, sebagian besar keluhan nyeri dapat diatasi tanpa menghentikan pemberian ASI.

3. Banyak ibu bingung mengenai makanan, obat, atau minuman yang dikonsumsi selama menyusui. Sebagian besar ibu tidak memerlukan pantangan makanan khusus dan dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Sebagian besar obat juga tetap aman digunakan selama menyusui, meskipun beberapa obat tertentu memang memerlukan pertimbangan khusus. Demikian pula konsumsi alkohol dan rokok memiliki rekomendasi tersendiri. Oleh karena itu, ibu tidak sebaiknya menghentikan menyusui atau menghentikan obat tanpa berkonsultasi dengan dokter. Keputusan harus didasarkan pada bukti ilmiah, bukan pada mitos atau informasi yang belum tentu benar.

4. Sebagian ibu merasa tidak memiliki ikatan emosional dengan bayinya saat menyusui. Kondisi ini dapat terjadi, terutama pada ibu yang mengalami kelelahan, stres, persalinan yang sulit, atau depresi pascapersalinan. Tidak semua ibu langsung merasakan kedekatan emosional sejak hari pertama. Ikatan antara ibu dan bayi biasanya berkembang secara bertahap melalui kontak kulit dengan kulit, interaksi sehari-hari, dan proses menyusui yang berulang. Bila perasaan sedih, cemas, atau tidak mampu merawat bayi berlangsung lama, ibu sebaiknya segera mencari bantuan tenaga kesehatan karena dapat merupakan tanda gangguan kesehatan mental pascapersalinan.

5. Kekhawatiran bahwa bayi belum mendapatkan ASI yang cukup juga sangat sering terjadi. Bayi yang sering menangis atau ingin menyusu kembali tidak selalu berarti ASI kurang. Penilaian kecukupan ASI harus dilakukan secara objektif, yaitu melalui kenaikan berat badan, frekuensi buang air kecil, kondisi umum bayi, dan efektivitas proses menyusu. Memberikan susu formula hanya karena bayi sering menangis tanpa evaluasi yang tepat justru dapat mengurangi frekuensi menyusu dan menurunkan produksi ASI.

6. Kembali bekerja merupakan tantangan besar bagi banyak ibu menyusui, tetapi bukan berarti ASI eksklusif harus dihentikan. Dengan perencanaan yang baik, ibu tetap dapat mempertahankan produksi ASI melalui pemerahan secara teratur, penyimpanan ASI perah yang benar, serta dukungan dari keluarga dan tempat kerja. Penelitian menunjukkan bahwa tersedianya ruang laktasi, waktu khusus untuk memerah ASI, dan kebijakan tempat kerja yang mendukung berhubungan dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja.

7. Jangan menghadapi masalah menyusui sendirian. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendampingan oleh konselor laktasi, dokter, bidan, atau perawat yang terlatih dapat meningkatkan keberhasilan menyusui dan mengurangi penghentian ASI secara dini. Selain itu, kelompok pendukung ibu menyusui juga membantu meningkatkan rasa percaya diri, memberikan solusi berdasarkan pengalaman, serta mengurangi kecemasan yang sering muncul pada masa menyusui. Semakin cepat masalah dikenali dan ditangani, semakin besar peluang ibu untuk berhasil memberikan ASI eksklusif hingga enam bulan dan melanjutkan menyusui sampai usia dua tahun atau lebih.

Daftar Pustaka

  1. American Academy of Pediatrics. Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics. 2022;150(1):e2022057988.
  2. World Health Organization. Protecting, Promoting and Supporting Breastfeeding in Facilities Providing Maternity and Newborn Services: Guideline. Geneva: World Health Organization; 2017.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *