Etiologi Faltering Weight pada Anak: Pendekatan Klinis Berdasarkan Pedoman AAP 2026 dan WHO
Faltering weight bukan merupakan suatu diagnosis penyakit, melainkan manifestasi klinis yang menunjukkan bahwa pertumbuhan berat badan anak tidak berlangsung sesuai dengan lintasan pertumbuhan yang diharapkan. Pedoman American Academy of Pediatrics (AAP) tahun 2026 menegaskan bahwa setiap anak dengan faltering weight harus dievaluasi secara sistematis untuk menemukan penyebab yang mendasari. Pendekatan ini lebih menekankan identifikasi mekanisme terjadinya gangguan pertumbuhan dibandingkan sekadar mencari satu penyakit tertentu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa gangguan pertumbuhan pada anak hampir selalu bersifat multifaktorial. Berbagai faktor, seperti asupan nutrisi yang tidak adekuat, penyakit infeksi, gangguan absorpsi, peningkatan kebutuhan energi, penyakit kronis, serta faktor lingkungan dan sosial dapat saling berinteraksi sehingga menyebabkan berat badan anak tidak bertambah sesuai usia. Oleh karena itu, evaluasi etiologi harus dilakukan secara menyeluruh agar terapi dapat diarahkan pada penyebab yang sebenarnya.
Mekanisme Terjadinya Faltering Weight
Secara fisiologis, faltering weight terjadi ketika keseimbangan energi menjadi negatif, yaitu jumlah energi yang masuk lebih rendah dibandingkan energi yang dibutuhkan tubuh. Kondisi ini dapat terjadi karena asupan makanan yang tidak mencukupi, kebutuhan energi yang meningkat akibat penyakit tertentu, gangguan penyerapan nutrisi di saluran cerna, kehilangan nutrisi secara berlebihan, maupun gangguan metabolisme yang menyebabkan tubuh tidak mampu memanfaatkan zat gizi secara optimal. Pada sebagian besar anak, lebih dari satu mekanisme dapat terjadi secara bersamaan sehingga diperlukan pendekatan diagnosis yang komprehensif.
Tabel 1. Mekanisme utama penyebab faltering weight
| Mekanisme | Contoh penyebab | Dampak terhadap pertumbuhan |
|---|---|---|
| Asupan energi tidak adekuat | Picky eater, Pediatric Feeding Disorder, MPASI tidak adekuat, kesalahan pemberian susu | Kalori tidak memenuhi kebutuhan tubuh |
| Kebutuhan energi meningkat | Penyakit jantung bawaan, penyakit paru kronis, hipertiroidisme, infeksi kronis | Pengeluaran energi meningkat |
| Gangguan absorpsi nutrisi | Penyakit celiac, fibrosis kistik, insufisiensi pankreas, penyakit inflamasi usus | Nutrisi tidak terserap optimal |
| Kehilangan nutrisi | Diare kronis, muntah kronis, sindrom nefrotik | Kehilangan protein dan energi |
| Gangguan metabolik | Penyakit hati, penyakit ginjal, kelainan metabolik bawaan | Pemanfaatan nutrisi terganggu |
Asupan Energi yang Tidak Adekuat
- AAP menjelaskan bahwa penyebab paling sering faltering weight adalah asupan energi yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Pada kelompok ini, anak sebenarnya tidak memiliki penyakit berat, tetapi jumlah kalori yang dikonsumsi tidak mampu mendukung pertumbuhan normal. Penyebabnya dapat berupa teknik menyusui yang kurang efektif, pemberian susu formula yang tidak tepat, MPASI yang tidak memenuhi kebutuhan energi, jadwal makan yang tidak teratur, konsumsi minuman yang mengurangi nafsu makan, maupun pola makan yang kurang bervariasi.
- Pada anak yang lebih besar, penyebab tersering adalah gangguan makan atau Pediatric Feeding Disorder (PFD). Anak dapat mengalami penolakan makan, hanya mau makanan tertentu, kesulitan menerima tekstur makanan, makan dalam waktu yang sangat lama, atau memiliki gangguan oral motor sehingga asupan energi menjadi tidak mencukupi.
Peningkatan Kebutuhan Energi
- Sebagian anak mengalami faltering weight karena kebutuhan energinya jauh lebih tinggi dibandingkan anak sehat. Pada kondisi ini, asupan makanan mungkin tampak cukup, tetapi tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan metabolisme yang meningkat akibat penyakit yang mendasari.
- Penyakit jantung bawaan, penyakit paru kronis, fibrosis kistik, hipertiroidisme, infeksi kronis, dan berbagai penyakit inflamasi merupakan contoh kondisi yang meningkatkan pengeluaran energi. Anak dengan penyakit tersebut sering kali membutuhkan kalori lebih tinggi agar dapat mempertahankan pertumbuhan yang normal.
Gangguan Penyerapan Nutrisi
- Gangguan absorpsi merupakan penyebab penting faltering weight karena makanan yang telah dikonsumsi tidak dapat diserap secara optimal oleh saluran cerna. Akibatnya, meskipun asupan makanan tampak cukup, jumlah nutrisi yang benar-benar dimanfaatkan tubuh menjadi berkurang.
- Penyakit celiac, fibrosis kistik, insufisiensi pankreas eksokrin, penyakit inflamasi usus, serta berbagai enteropati kronis merupakan penyebab yang paling sering ditemukan. Anak biasanya menunjukkan gejala penyerta berupa diare kronis, tinja berminyak, distensi abdomen, perut kembung, atau defisiensi berbagai vitamin dan mineral.
Kehilangan Nutrisi yang Berlebihan
- Beberapa penyakit menyebabkan tubuh kehilangan protein, lemak, atau zat gizi lain secara terus-menerus sehingga keseimbangan energi menjadi negatif. Kondisi ini dapat terjadi pada anak dengan diare kronis, muntah berulang, refluks gastroesofageal berat, sindrom nefrotik, maupun penyakit lain yang menyebabkan kehilangan nutrisi melalui saluran cerna atau ginjal.
- Pada kelompok ini, penatalaksanaan tidak cukup hanya dengan meningkatkan asupan kalori, tetapi juga harus mengatasi penyebab kehilangan nutrisi agar pertumbuhan dapat kembali normal.
Penyakit Kronis dan Kelainan Metabolik
- AAP menegaskan bahwa penyakit organik tetap harus dipertimbangkan, terutama bila terdapat tanda atau gejala yang mengarah pada kelainan sistemik. Penyakit ginjal kronis, penyakit hati kronis, kelainan metabolik bawaan, penyakit endokrin, gangguan neurologis, maupun kelainan genetik dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan melalui berbagai mekanisme, seperti peningkatan kebutuhan energi, gangguan metabolisme, atau penurunan nafsu makan.
- Meskipun demikian, kelompok penyakit ini jauh lebih jarang dibandingkan penyebab yang berkaitan dengan masalah nutrisi dan feeding difficulties sehingga pemeriksaan penunjang hanya dilakukan bila terdapat indikasi klinis yang jelas.
Pediatric Feeding Disorder Sebagai Penyebab Penting
- Pedoman AAP 2026 memberikan perhatian khusus terhadap Pediatric Feeding Disorder karena kondisi ini merupakan salah satu penyebab utama faltering weight pada anak. PFD merupakan gangguan makan yang melibatkan aspek medis, nutrisi, keterampilan makan, dan faktor psikososial. Gangguan tersebut dapat menyebabkan anak tidak mampu memenuhi kebutuhan energi hariannya meskipun tidak ditemukan penyakit organik yang berat.
- Manifestasi klinis PFD meliputi penolakan makan, pemilihan makanan yang sangat terbatas, kesulitan mengunyah atau menelan, gangguan oral motor, gangguan sensorik terhadap tekstur makanan, hingga perilaku makan yang mengganggu kecukupan nutrisi. Oleh karena itu, identifikasi dini PFD sangat penting karena terapi feeding yang tepat dapat memperbaiki asupan energi dan mendukung terjadinya catch-up growth.
Tabel 2. Penyebab faltering weight berdasarkan sistem organ
| Sistem | Contoh penyebab |
|---|---|
| Nutrisi | Asupan kalori kurang, MPASI tidak adekuat, kesalahan pemberian susu |
| Feeding | Pediatric Feeding Disorder, picky eater, gangguan oral motor, disfagia |
| Gastrointestinal | Penyakit celiac, refluks berat, diare kronis, penyakit inflamasi usus |
| Respirasi | Fibrosis kistik, penyakit paru kronis |
| Kardiovaskular | Penyakit jantung bawaan |
| Endokrin | Hipertiroidisme, diabetes melitus tidak terkontrol |
| Metabolik | Inborn errors of metabolism |
| Neurologi | Cerebral palsy, penyakit neuromuskular |
| Genetik | Kelainan kromosom dan sindrom genetik |
| Psikososial | Food insecurity, pengabaian, gangguan interaksi orang tua dan anak |
Perspektif WHO terhadap Penyebab Faltering Weight
- WHO memandang faltering weight sebagai hasil interaksi antara faktor biologis, nutrisi, infeksi, dan lingkungan. Asupan makanan yang tidak adekuat, infeksi berulang, praktik pemberian makan yang kurang tepat, defisiensi mikronutrien, sanitasi yang buruk, ketahanan pangan keluarga yang rendah, serta keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan merupakan faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan anak.
- Pendekatan WHO menekankan bahwa perbaikan status gizi tidak hanya bergantung pada peningkatan asupan makanan, tetapi juga pada pengendalian penyakit infeksi, edukasi pemberian makan yang benar, peningkatan sanitasi, serta dukungan sosial bagi keluarga yang berisiko.
Tabel 3. Perbandingan pendekatan AAP 2026 dan WHO terhadap etiologi faltering weight
| Aspek | AAP 2026 | WHO |
|---|---|---|
| Fokus utama | Identifikasi penyebab klinis individual | Faktor biologis, nutrisi, lingkungan, dan kesehatan masyarakat |
| Penyebab tersering | Asupan energi tidak adekuat dan Pediatric Feeding Disorder | Asupan makanan tidak adekuat dan infeksi berulang |
| Pendekatan evaluasi | Anamnesis, pemeriksaan fisik, antropometri, pemeriksaan terarah bila ada indikasi | Penilaian status gizi, pertumbuhan, penyakit penyerta, dan faktor lingkungan |
| Tujuan | Menentukan terapi sesuai penyebab | Mencegah dan mengatasi malnutrisi melalui intervensi komprehensif |
Kesimpulan
Pedoman AAP 2026 dan WHO menegaskan bahwa faltering weight merupakan kondisi multifaktorial yang tidak boleh dianggap sebagai diagnosis akhir. Penyebab tersering adalah asupan energi yang tidak mencukupi akibat masalah pemberian makan dan Pediatric Feeding Disorder, sedangkan penyakit organik hanya ditemukan pada sebagian kecil kasus. Evaluasi etiologi harus dimulai dengan anamnesis yang komprehensif, pemeriksaan fisik, penilaian pertumbuhan, dan identifikasi faktor risiko sehingga pemeriksaan penunjang serta terapi dapat diberikan secara tepat sasaran. Pendekatan yang sistematis akan meningkatkan akurasi diagnosis, mengurangi pemeriksaan yang tidak diperlukan, dan mempercepat tercapainya pertumbuhan yang optimal.
Referensi
- Hans B. KerstenPraveen S. GodayRuba AbdelhadiSoukaina AdolpheNicole AnaniaDavid S. BennettLeah W. BurkeCatherine Larson-NathTeresa M. LeeMichael G. LeuShelly MercerTimothy SentongoJoyee Goswami VachaniEmily SenerthLauren PilcherSusan K. FlinnKymika OkechukwuReem A. MustafaRebecca L. MorganAMERICAN ACADEMY OF PEDIATRICS and NORTH AMERICAN SOCIETY FOR PEDIATRIC GASTROENTEROLOGY, HEPATOLOGY AND NUTRITION; Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight. Pediatrics April 2026; 157 (4): e2025075764. 10.1542/peds.2025-075764










Leave a Reply