Fakta Ilmiah: Benarkah Susu Tinggi Kalori Harus Diberikan pada Anak yang Sulit Makan dan Berat Badannya Sulit Naik?

Fakta Ilmiah: Benarkah Susu Tinggi Kalori Harus Diberikan pada Anak yang Sulit Makan dan Berat Badannya Sulit Naik?

Susu tinggi kalori bukan merupakan terapi utama untuk semua anak yang sulit makan atau berat badannya sulit naik. Menurut berbagai pedoman ilmiah, langkah pertama adalah mencari penyebabnya, misalnya asupan makanan yang kurang, kebiasaan makan yang tidak tepat, penyakit kronis, gangguan saluran cerna, alergi makanan, gangguan penyerapan nutrisi, atau masalah perilaku makan. Bila penyebab utamanya tidak diatasi, pemberian susu tinggi kalori saja sering kali tidak memberikan hasil yang optimal.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa oral nutritional supplements (ONS) atau susu tinggi kalori dapat membantu meningkatkan berat badan, status gizi, dan pertumbuhan pada anak yang mengalami malnutrisi, gagal tumbuh (failure to thrive), atau berisiko mengalami kekurangan gizi, terutama bila dikombinasikan dengan konseling gizi dan perbaikan pola makan. Namun, hingga saat ini tidak ada bukti bahwa semua anak yang sulit makan harus mendapatkan susu tinggi kalori. Manfaat terbesar terlihat pada anak yang memang mengalami kekurangan asupan energi atau zat gizi.

Susu tinggi kalori umumnya mengandung sekitar 1–1,5 kkal/mL, lebih tinggi dibandingkan susu formula standar yang mengandung sekitar 0,65–0,75 kkal/mL. Selain lebih padat energi, susu tinggi kalori biasanya juga mengandung protein, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang lebih tinggi. Tujuannya adalah membantu memenuhi kebutuhan energi dan protein tanpa menambah volume minum yang terlalu banyak. Namun, bila diberikan secara berlebihan, anak dapat merasa cepat kenyang sehingga justru mengurangi konsumsi makanan utama.

Yang lebih penting daripada memilih jenis susu adalah memperbaiki pola makan anak. Anak sebaiknya mendapatkan tiga kali makan utama dan dua hingga tiga kali camilan sehat setiap hari, dengan menu yang mengandung protein berkualitas seperti ikan, telur, ayam, daging, tempe, atau tahu. Pada banyak kasus, kebiasaan minum susu dalam jumlah besar, terutama menjelang waktu makan, justru menyebabkan anak cepat kenyang sehingga nafsu makan semakin menurun.

Pada anak yang mengalami berat badan sulit naik dalam waktu lama, evaluasi oleh dokter sangat penting. Penilaian meliputi kurva pertumbuhan, kecepatan kenaikan berat badan, tinggi badan, riwayat penyakit, pola makan, serta kemungkinan adanya penyakit yang mendasari, seperti gangguan saluran cerna, penyakit kronis, gangguan hormon, atau alergi makanan. Bila terdapat penyebab medis, maka terapi harus ditujukan untuk mengatasi penyebab tersebut, bukan hanya menambahkan susu tinggi kalori.

Kesimpulannya, susu tinggi kalori dapat bermanfaat pada anak dengan malnutrisi, gagal tumbuh, atau kekurangan asupan energi, tetapi tidak harus diberikan kepada semua anak yang sulit makan. Penggunaannya sebaiknya berdasarkan penilaian dokter atau ahli gizi. Prioritas utama tetap memperbaiki pola makan, memastikan kecukupan energi dan protein, mengatasi penyebab yang mendasari, serta memantau pertumbuhan anak secara berkala.

Tabel. Perbedaan Susu Tinggi Kalori, Susu Formula Biasa, dan Susu UHT

Aspek Susu Tinggi Kalori (ONS) Susu Formula Biasa Susu UHT
Tujuan Membantu memenuhi kebutuhan energi pada anak dengan malnutrisi atau gagal tumbuh Memenuhi kebutuhan gizi sesuai usia Minuman susu untuk konsumsi sehari-hari
Energi ±1–1,5 kkal/mL ±0,65–0,75 kkal/mL ±0,6–0,7 kkal/mL
Protein Lebih tinggi dan diperkaya Sesuai standar formula Protein alami susu
Vitamin & mineral Diperkaya lebih lengkap Diperkaya sesuai regulasi Kandungan alami, sebagian diperkaya
Indikasi Anak dengan kekurangan energi, malnutrisi, atau gagal tumbuh Anak sesuai kelompok usia Anak yang sudah dapat mengonsumsi susu sapi sesuai usia
Efek terhadap berat badan Dapat membantu bila terdapat defisit energi Membantu memenuhi kebutuhan gizi, tidak otomatis menaikkan berat badan Tidak dirancang untuk menaikkan berat badan
Apakah harus diberikan pada semua anak sulit makan? Tidak Tidak selalu Tidak

Referensi 

  1. World Health Organization (WHO). Guideline: Updates on the Management of Severe Acute Malnutrition in Infants and Children. Geneva: WHO; 2013.
  2. Huynh DT, et al. Oral nutritional supplementation with dietary counseling improves catch-up growth in children at risk of undernutrition. Clinical Nutrition. 2015;34(4):667–673.
  3. American Academy of Pediatrics. Pediatric Nutrition. 8th Edition. American Academy of Pediatrics; 2024.
  4. ESPGHAN Committee on Nutrition. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. Recommendations on pediatric nutritional support.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *