Berita Internasional
Penelitian Terbaru: Lebih dari 70% Anak Lahir Prematur Masih Mengalami Kesulitan Makan hingga Usia Sekolah
Sebuah penelitian terbaru dari Italia yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Pediatrics mengungkapkan bahwa anak yang lahir prematur memiliki risiko tinggi mengalami kesulitan makan dalam jangka panjang. Bahkan, masalah tersebut tidak hanya terjadi saat masih bayi, tetapi dapat bertahan hingga anak memasuki usia sekolah. Temuan ini menjadi perhatian karena kesulitan makan dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan anak secara keseluruhan.
Penelitian ini melibatkan 116 anak yang lahir prematur dan 33 anak yang lahir cukup bulan sebagai pembanding. Para peneliti menilai kebiasaan makan, perilaku saat makan, serta hubungan anak dengan orang tua ketika makan menggunakan kuesioner khusus yang telah terbukti akurat. Tujuannya adalah mengetahui seberapa sering gangguan makan terjadi pada anak yang lahir prematur.
Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 7 dari 10 anak prematur mengalami setidaknya satu masalah makan yang cukup serius. Angka ini hampir sama pada anak usia 0–3 tahun maupun 4–7 tahun, sehingga menunjukkan bahwa kesulitan makan sering kali tidak hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.
Dibandingkan anak yang lahir cukup bulan, anak prematur lebih sering mengalami berbagai masalah saat makan. Mereka lebih mudah menolak makanan tertentu, sulit menerima jenis atau tekstur makanan baru, nafsu makan tidak teratur, serta lebih sering mengalami suasana makan yang kurang menyenangkan bersama orang tua. Kondisi ini dapat membuat waktu makan menjadi lebih lama, melelahkan, dan penuh stres bagi keluarga.
Penelitian juga menemukan dua faktor yang paling meningkatkan risiko gangguan makan. Pertama adalah lahir pada usia kehamilan yang lebih muda, artinya semakin prematur seorang bayi dilahirkan, semakin besar kemungkinan ia mengalami kesulitan makan di kemudian hari. Faktor kedua adalah penggunaan selang makan melalui hidung (NGT) dalam waktu lama selama masa perawatan di rumah sakit. Bayi yang membutuhkan selang makan lebih lama ternyata memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami gangguan makan saat tumbuh besar.
Menurut para peneliti, kondisi ini terjadi karena bayi prematur sering kali belum memiliki kemampuan mengisap, menelan, dan bernapas secara sempurna. Selain itu, mereka biasanya harus menjalani berbagai tindakan medis sejak lahir sehingga menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan di area mulut. Akibatnya, sebagian anak menjadi mudah menolak makanan atau merasa tidak nyaman saat makan.
Para ahli menekankan bahwa anak yang lahir prematur memerlukan pemantauan tumbuh kembang dan kemampuan makan secara rutin, bahkan setelah mereka pulang dari rumah sakit. Bila anak tampak sulit makan, sering menolak makanan, hanya mau makanan tertentu, berat badan sulit naik, atau waktu makan selalu berlangsung sangat lama, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak. Penanganan sejak dini dapat membantu mencegah masalah gizi dan mendukung tumbuh kembang anak agar lebih optimal.
Penelitian ini menjadi pengingat bahwa bayi prematur memerlukan perhatian khusus, bukan hanya pada masa awal kehidupan tetapi juga hingga usia sekolah. Dengan pemantauan yang baik, dukungan keluarga, serta penanganan dari tim kesehatan bila diperlukan, banyak anak prematur tetap dapat tumbuh sehat, berkembang dengan baik, dan memiliki kualitas hidup yang optimal.
Daftar Pustaka
- Baldassarre ME, Mileto V, Di Mauro A, Cirrottola S, Mazzarelli MP, Graziano G, Pennetta F, Grosso F, Rizzo V, Capozza M, Pellicani S, Laforgia N. Feeding difficulties in preterm-born children aged 0–7 years: an observational cohort study. Frontiers in Pediatrics. 2026;14:1827238. doi:10.3389/fped.2026.1827238. PMID: 42255915.














Leave a Reply