Masalah Makan pada Balita Bukan Sekadar Fase. Penelitian Prospektif Terbaru Menunjukkan Dampaknya hingga Usia Sekolah

Masalah Makan pada Balita Bukan Sekadar Fase. Penelitian Prospektif Terbaru Menunjukkan Dampaknya hingga Usia Sekolah

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Masalah Makan pada Balita Perlu Mendapat Perhatian

Banyak orang tua menganggap anak yang sulit makan hanyalah bagian dari proses tumbuh kembang yang akan membaik dengan sendirinya. Tidak sedikit yang memilih menunggu sambil berharap nafsu makan anak akan meningkat ketika usianya bertambah. Namun, penelitian ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam Nutrition Journal tahun 2026 menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar. Masalah makan pada usia balita ternyata dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas pola makan anak hingga usia sekolah.

Temuan ini penting karena kualitas pola makan pada masa kanak-kanak berhubungan erat dengan pertumbuhan, perkembangan otak, daya tahan tubuh, prestasi belajar, serta risiko berbagai penyakit kronis seperti obesitas, diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan gangguan metabolik pada masa dewasa.

Penelitian Prospektif Hampir 5.000 Anak

  • Penelitian dilakukan oleh Emma Jankowski dan kolega menggunakan desain kohort prospektif, yaitu salah satu desain penelitian observasional yang paling kuat untuk menilai hubungan antara suatu faktor risiko dengan kejadian di masa mendatang.
  • Sebanyak 4.989 anak yang lahir di Negara Bagian New York, Amerika Serikat, diikuti sejak bayi hingga usia 9 tahun. Peneliti mengamati perilaku makan pada usia 18 bulan dan 24 bulan, kemudian mengevaluasi kualitas pola makan pada usia 30 bulan, 36 bulan, 7 tahun, dan 9 tahun. Seluruh analisis dilakukan setelah memperhitungkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil, seperti tingkat pendidikan orang tua, usia kehamilan saat lahir, lama pemberian ASI, serta berbagai faktor sosial dan kesehatan lainnya.
  • Karena menggunakan desain prospektif dengan jumlah peserta yang besar dan masa pengamatan yang panjang, hasil penelitian ini memiliki nilai ilmiah yang tinggi dalam menggambarkan hubungan antara masalah makan pada awal kehidupan dan pola makan pada masa berikutnya.

Apa yang Dinilai sebagai Masalah Makan?

Peneliti tidak hanya menilai apakah anak makan sedikit atau banyak. Mereka menggunakan instrumen yang telah divalidasi untuk mengukur berbagai perilaku makan yang sering dikeluhkan orang tua, antara lain:

  • • Menolak makanan berulang kali.
  • • Menangis atau berteriak saat makan.
  • • Sangat sulit menerima makanan baru.
  • • Sulit menyelesaikan waktu makan.
  • • Sering menolak makan tanpa penyebab yang jelas.
  • • Mengalami kesulitan makan yang menetap.

Setiap perilaku tersebut diberi skor sehingga diperoleh nilai keseluruhan mengenai tingkat masalah makan pada masing-masing anak.

Bagaimana Kualitas Pola Makan Dinilai?

Kualitas pola makan dievaluasi menggunakan Youth Healthy Eating Index (YHEI), yaitu indeks yang banyak digunakan dalam penelitian gizi anak.

Penilaian mencakup berbagai komponen penting, seperti:

  • • Konsumsi buah.
  • • Konsumsi sayuran.
  • • Asupan biji-bijian utuh.
  • • Sumber protein sehat.
  • • Minuman berpemanis.
  • • Makanan olahan.
  • • Keseimbangan pola makan secara keseluruhan.

Semakin tinggi skor YHEI, semakin baik kualitas pola makan anak.

Hasil Penelitian

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki lebih banyak masalah makan pada usia 18 maupun 24 bulan secara konsisten memiliki skor kualitas pola makan yang lebih rendah pada usia prasekolah maupun usia sekolah.

Hubungan tersebut tetap bermakna secara statistik meskipun peneliti telah mengendalikan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi pola makan. Artinya, masalah makan sejak balita merupakan faktor yang berdiri sendiri dan berperan terhadap kualitas pola makan di masa depan.

Anak yang mengalami masalah makan lebih sering memiliki pola konsumsi yang kurang beragam, lebih sedikit mengonsumsi buah dan sayuran, serta lebih sulit memenuhi kebutuhan gizi hariannya dibandingkan anak tanpa masalah makan.

Mengapa Masalah Makan Dapat Bertahan Lama?

Perilaku makan mulai terbentuk sejak dua tahun pertama kehidupan. Pada masa ini, otak sedang membangun berbagai kebiasaan yang akan bertahan hingga masa kanak-kanak.

Anak yang berulang kali menolak makanan cenderung semakin selektif terhadap jenis makanan tertentu. Semakin sedikit variasi makanan yang diterima, semakin sulit pula memperkenalkan makanan baru pada usia berikutnya.

Kondisi ini dapat berkembang menjadi picky eater yang menetap, feeding difficulties, bahkan pada sebagian anak dapat memenuhi kriteria Pediatric Feeding Disorder (PFD), yaitu gangguan makan yang memengaruhi status gizi, pertumbuhan, kemampuan makan, maupun fungsi psikososial.

Tidak Selalu Karena Anak Manja

Penelitian ini juga mengingatkan bahwa masalah makan tidak selalu disebabkan oleh perilaku anak atau pola asuh orang tua.

Pada sebagian anak, kesulitan makan dapat dipicu oleh penyakit yang mendasari, seperti:

  • • Alergi makanan, terutama alergi makanan non-IgE yang mengenai saluran pencernaan.
  • • Refluks gastroesofagus.
  • • Konstipasi kronis.
  • • Gangguan sensorik oral.
  • • Kelainan anatomi saluran cerna.
  • • Gangguan perkembangan.
  • • Defisiensi mikronutrien tertentu.

Alergi makanan non-IgE sering kali menjadi penyebab yang terlewat karena gejalanya tidak berupa biduran atau sesak mendadak, melainkan sulit makan, cepat kenyang, nyeri perut, muntah berulang, sembelit, diare kronis, atau berat badan yang sulit bertambah. Pemeriksaan IgE maupun tes tusuk kulit juga dapat memberikan hasil normal sehingga diagnosis terutama ditegakkan melalui evaluasi klinis yang menyeluruh.

Apa Artinya bagi Orang Tua?

Pesan terpenting dari penelitian ini adalah jangan menganggap masalah makan yang menetap sebagai sesuatu yang pasti akan hilang dengan sendirinya.

Bila anak mengalami kesulitan makan selama berbulan-bulan, hanya mau makan beberapa jenis makanan, berat badan sulit bertambah, sering muntah, sembelit, atau menunjukkan tanda gangguan makan lainnya, sebaiknya dilakukan evaluasi lebih dini.

Penanganan yang tepat sejak balita tidak hanya bertujuan meningkatkan berat badan saat ini, tetapi juga membentuk kebiasaan makan yang sehat hingga masa sekolah dan dewasa.

Kesimpulan

Penelitian prospektif terhadap hampir 5.000 anak menunjukkan bahwa masalah makan pada usia 18 hingga 24 bulan berhubungan dengan kualitas pola makan yang lebih rendah hingga usia 9 tahun. Temuan ini menegaskan bahwa masa balita merupakan periode penting dalam pembentukan kebiasaan makan jangka panjang.

Masalah makan bukan sekadar fase perkembangan pada semua anak. Sebagian merupakan tanda adanya gangguan makan atau penyakit yang mendasarinya. Oleh karena itu, identifikasi penyebab dan intervensi sejak dini merupakan langkah penting untuk mendukung pertumbuhan optimal, memperbaiki kualitas gizi, serta membentuk pola makan sehat sepanjang kehidupan.

Referensi

  • Jankowski E, Putnick DL, Ghassabian A, Clayton PK, Lin TC, Yeung EH. Feeding problems in infancy and diet quality in later childhood: a prospective cohort study. Nutr J. 2026. doi:10.1186/s12937-026-01311-z.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *