Terapi Obat pada Anak dengan Faltering Weight: Kapan Diperlukan dan Apa Rekomendasi AAP 2026 serta WHO?
Banyak orang tua berharap ada obat yang dapat dengan cepat meningkatkan berat badan anak yang mengalami faltering weight. Namun, pedoman terbaru American Academy of Pediatrics (AAP) tahun 2026 menegaskan bahwa tidak ada obat khusus yang dapat mengatasi faltering weight. Kondisi ini bukan merupakan penyakit tunggal, melainkan tanda bahwa terdapat masalah pada asupan nutrisi, proses penyerapan, kebutuhan energi yang meningkat, atau penyakit yang mendasarinya. Oleh karena itu, pengobatan harus diarahkan pada penyebab utama, bukan sekadar meningkatkan berat badan.
WHO memiliki pandangan yang sama. Penanganan utama faltering weight adalah memperbaiki kecukupan energi dan zat gizi, mengatasi penyakit penyebab, serta memantau pertumbuhan secara berkala. Obat hanya diberikan bila ditemukan penyakit tertentu yang memang memerlukan terapi medikamentosa. Pemberian obat penambah nafsu makan secara rutin tidak dianjurkan karena manfaatnya terbatas dan berpotensi menimbulkan efek samping.
Prinsip Terapi Obat pada Faltering Weight
- AAP 2026 menekankan bahwa obat bukan merupakan terapi lini pertama pada faltering weight. Langkah awal yang harus dilakukan adalah memperbaiki pola makan, meningkatkan asupan energi sesuai kebutuhan, memberikan terapi feeding bila terdapat Pediatric Feeding Disorder, dan mengobati penyakit yang mendasari. Setelah penyebab teridentifikasi, terapi obat disesuaikan dengan diagnosis yang ditemukan.
- Pendekatan ini bertujuan agar terapi lebih tepat sasaran. Anak dengan penyakit refluks, misalnya, memerlukan terapi refluks, sedangkan anak dengan penyakit celiac memerlukan diet bebas gluten, bukan obat penambah berat badan.
Kapan Terapi Obat Diperlukan?
Terapi medikamentosa diberikan bila evaluasi klinis menemukan penyakit yang menjadi penyebab faltering weight. Obat tidak diberikan hanya karena berat badan anak sulit naik tanpa adanya diagnosis yang jelas.
Tabel 1. Terapi obat berdasarkan penyebab faltering weight
| Penyebab | Terapi medikamentosa | Rekomendasi |
|---|---|---|
| Penyakit refluks gastroesofageal dengan indikasi jelas | Proton pump inhibitor atau H2 receptor antagonist sesuai indikasi | AAP, NASPGHAN |
| Penyakit celiac | Tidak memerlukan obat, terapi utama diet bebas gluten | AAP, ESPGHAN, WHO |
| Fibrosis kistik | Enzim pankreas dan vitamin larut lemak | AAP, ESPGHAN |
| Hipotiroidisme | Levotiroksin | AAP |
| Hipertiroidisme | Obat antitiroid sesuai indikasi | AAP |
| Infeksi bakteri | Antibiotik sesuai penyebab | WHO, AAP |
| Tuberkulosis | Obat antituberkulosis sesuai pedoman nasional | WHO |
| Defisiensi besi | Suplemen besi | WHO, AAP |
| Defisiensi vitamin D | Suplemen vitamin D | WHO, AAP |
| Defisiensi zinc | Suplementasi zinc bila terbukti defisiensi atau diare | WHO |
Apakah Anak Memerlukan Obat Penambah Nafsu Makan?
- AAP 2026 tidak merekomendasikan pemberian obat penambah nafsu makan secara rutin pada anak dengan faltering weight. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa sebagian besar anak akan mengalami perbaikan pertumbuhan setelah penyebab utama diatasi dan kebutuhan energi terpenuhi.
- WHO juga tidak memasukkan obat penambah nafsu makan sebagai bagian dari terapi standar malnutrisi maupun faltering weight. Fokus utama tetap pada perbaikan kualitas makanan, kecukupan energi, edukasi keluarga, dan pengobatan penyakit penyerta.
Bagaimana dengan Cyproheptadine?
- Cyproheptadine merupakan antihistamin yang memiliki efek meningkatkan nafsu makan. Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan berat badan pada sebagian anak setelah penggunaan jangka pendek. Namun, bukti ilmiah masih terbatas dan tidak cukup kuat untuk merekomendasikan penggunaannya secara rutin pada semua anak dengan faltering weight.
- AAP tidak memasukkan cyproheptadine sebagai terapi standar dalam Clinical Practice Guideline 2026. Penggunaan obat ini hanya dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu oleh dokter yang merawat setelah evaluasi menyeluruh terhadap penyebab gangguan pertumbuhan dan mempertimbangkan manfaat serta risiko.
Peran Vitamin dan Mineral
- Vitamin dan mineral bukan merupakan obat untuk menaikkan berat badan, tetapi diberikan bila terdapat defisiensi yang telah dibuktikan atau sangat dicurigai berdasarkan evaluasi klinis.
- WHO merekomendasikan koreksi berbagai defisiensi mikronutrien karena kekurangan zat besi, vitamin D, zinc, vitamin A, atau vitamin B12 dapat memperburuk pertumbuhan, fungsi imun, dan perkembangan anak. AAP juga mendukung pemberian suplementasi yang terarah sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Tabel 2. Suplementasi yang direkomendasikan
| Suplemen | Indikasi |
|---|---|
| Zat besi | Defisiensi besi atau anemia defisiensi besi |
| Vitamin D | Defisiensi atau kelompok berisiko |
| Zinc | Diare atau defisiensi zinc |
| Vitamin A | Daerah dengan prevalensi defisiensi tinggi sesuai pedoman WHO |
| Vitamin B12 dan folat | Defisiensi yang telah dikonfirmasi |
| Kalsium | Asupan tidak adekuat atau penyakit tertentu |
Obat yang Tidak Direkomendasikan Secara Rutin
AAP dan WHO tidak menganjurkan penggunaan berbagai obat hanya untuk meningkatkan berat badan tanpa indikasi medis yang jelas. Penggunaan obat seperti kortikosteroid, hormon pertumbuhan, steroid anabolik, maupun obat penambah nafsu makan lain tidak termasuk terapi rutin pada faltering weight dan hanya digunakan untuk penyakit tertentu dengan indikasi yang sangat spesifik.
Tabel 3. Obat yang tidak dianjurkan sebagai terapi rutin faltering weight
| Obat | Rekomendasi |
|---|---|
| Cyproheptadine | Tidak digunakan secara rutin |
| Megestrol asetat | Tidak direkomendasikan |
| Kortikosteroid | Hanya untuk penyakit dengan indikasi khusus |
| Hormon pertumbuhan | Hanya pada gangguan endokrin tertentu |
| Steroid anabolik | Tidak direkomendasikan |
| Antibiotik | Tidak diberikan tanpa bukti infeksi |
Rekomendasi AAP 2026 dan WHO
Tabel 4. Ringkasan rekomendasi
| Aspek | AAP 2026 | WHO |
|---|---|---|
| Terapi utama | Nutrisi adekuat dan mengatasi penyebab | Nutrisi adekuat dan mengatasi penyebab |
| Obat penambah nafsu makan | Tidak direkomendasikan secara rutin | Tidak direkomendasikan |
| Vitamin dan mineral | Bila terdapat indikasi klinis atau defisiensi | Direkomendasikan sesuai kebutuhan |
| Antibiotik | Hanya bila ada infeksi | Hanya bila ada infeksi |
| Terapi penyakit penyerta | Sesuai diagnosis | Sesuai diagnosis |
| Monitoring | Pemantauan pertumbuhan berkala | Pemantauan pertumbuhan berkala |
Kesimpulan
Faltering weight tidak dapat diatasi dengan satu jenis obat. Pedoman AAP 2026 dan WHO menegaskan bahwa terapi yang paling efektif adalah memastikan kebutuhan energi dan zat gizi terpenuhi, mengatasi penyakit yang mendasari, serta memantau pertumbuhan secara berkala. Terapi medikamentosa hanya diberikan bila terdapat diagnosis yang jelas, seperti refluks gastroesofageal, penyakit endokrin, infeksi, gangguan malabsorpsi, atau defisiensi mikronutrien. Pendekatan ini meningkatkan keberhasilan catch-up growth sekaligus menghindari penggunaan obat yang tidak diperlukan.








Leave a Reply