Anak Susah Makan Bisa Jadi Tanda Alergi Makanan, Bukan Sekadar Picky Eater
Banyak orang tua menganggap anak yang susah makan hanyalah fase biasa. Padahal, pada sebagian anak, sulit makan dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan, termasuk alergi makanan. Penelitian terbaru dari European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) tahun 2024 menunjukkan bahwa gangguan makan lebih sering terjadi pada anak yang memiliki alergi makanan dibandingkan anak tanpa alergi.
Alergi makanan tidak selalu menimbulkan bentol, gatal, atau sesak napas. Pada banyak anak, terutama yang mengalami alergi saluran cerna, keluhannya justru berupa muntah, refluks asam lambung, nyeri perut, sembelit, diare, atau makanan terasa sulit ditelan. Bila keluhan ini terus berulang setiap kali makan, anak akan mulai menganggap makan sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Akibatnya, anak menjadi takut makan, hanya mau makanan tertentu, atau menolak makanan sama sekali.
Kondisi ini dikenal sebagai feeding difficulties atau gangguan makan. Bila berlangsung lama, gangguan tersebut dapat menghambat perkembangan kemampuan mengunyah dan menelan yang disebut kemampuan oral-motor. Dampaknya bukan hanya anak menjadi susah makan, tetapi juga berat badan sulit naik dan pertumbuhannya dapat terganggu.
Seberapa Sering Terjadi?
Gangguan makan sebenarnya cukup sering terjadi pada anak sehat. Berbagai penelitian menunjukkan sekitar 20 sampai 35 persen anak pernah mengalami kesulitan makan. Namun pada anak dengan alergi makanan, angkanya lebih tinggi, yaitu sekitar 13,6 sampai 40 persen. Risiko ini semakin besar pada anak yang alergi terhadap beberapa jenis makanan sekaligus.
Tabel 1. Gangguan makan pada anak dengan alergi makanan
| Kondisi | Anak tanpa alergi | Anak dengan alergi makanan |
|---|---|---|
| Gangguan makan | Sekitar 20 sampai 35% | Sekitar 13,6 sampai 40% |
| Takut makan | Lebih jarang | Lebih sering |
| Hanya mau makanan tertentu | Lebih sedikit | Lebih banyak |
| Berat badan sulit naik | Jarang | Lebih sering |
| Gangguan mengunyah dan menelan | Jarang | Lebih sering bila keluhan saluran cerna berlangsung lama |
Mengapa Alergi Bisa Membuat Anak Susah Makan?
- Bayangkan seorang anak yang setiap kali makan selalu merasa mual, muntah, perut sakit, atau dada terasa panas akibat refluks. Lama-kelamaan, anak akan menghubungkan makan dengan rasa tidak nyaman. Akibatnya, ia mulai menghindari makanan.
- Semakin sering pengalaman buruk itu terjadi, semakin besar kemungkinan anak mengalami feeding aversion, yaitu rasa takut terhadap aktivitas makan.
- Selain itu, alergi makanan juga dapat menyebabkan peradangan pada saluran cerna sehingga proses makan menjadi tidak nyaman.
Tabel 2. Penyebab anak dengan alergi menjadi susah makan
| Penyebab | Dampaknya |
|---|---|
| Nyeri saat makan | Anak menolak makan |
| Refluks atau asam lambung naik | Anak takut makan |
| Mual dan muntah | Nafsu makan menurun |
| Sulit menelan | Memilih makanan lunak |
| Sembelit | Cepat kenyang dan malas makan |
| Peradangan saluran cerna | Anak rewel saat makan |
| Diet eliminasi yang terlalu banyak | Pilihan makanan semakin sedikit |
Mengapa Kemampuan Mengunyah Bisa Terlambat?
- Belajar makan sama seperti belajar berjalan. Anak harus terus berlatih agar kemampuan mengunyah dan menelannya berkembang.
- Bila anak terus menghindari makanan karena merasa sakit atau tidak nyaman, kesempatan untuk berlatih juga berkurang. Akibatnya, perkembangan kemampuan makan menjadi terlambat.
- Beberapa anak akhirnya hanya mau bubur atau makanan yang sangat lembut meskipun usianya sudah cukup besar. Ada juga yang mengulum makanan terlalu lama, mudah muntah ketika mencoba makanan baru, atau sering batuk saat makan.
Tabel 3. Tanda gangguan oral-motor
| Tanda | Yang terlihat pada anak |
|---|---|
| Sulit mengunyah | Menolak makanan bertekstur |
| Mengulum makanan lama | Makan sangat lama |
| Mudah muntah | Sulit menerima makanan padat |
| Batuk saat makan | Koordinasi menelan belum baik |
| Hanya mau makanan lembut | Takut mengunyah makanan keras |
Kapan Orang Tua Harus Curiga?
Tidak semua anak yang menjadi picky eater mengalami alergi makanan. Banyak anak memang melewati fase memilih-milih makanan sebagai bagian dari perkembangan normal. Namun, orang tua perlu lebih waspada bila kebiasaan susah makan disertai keluhan lain, seperti muntah berulang, sering gumoh atau refluks, nyeri perut, sembelit yang berlangsung lama, batuk atau tersedak saat makan, hanya mau makanan dengan tekstur tertentu, waktu makan yang berlangsung lebih dari 30 sampai 45 menit, berat badan yang sulit naik, atau pertumbuhan yang melambat. Bila beberapa gejala tersebut muncul bersamaan, kemungkinan adanya alergi makanan atau gangguan saluran cerna yang mendasarinya perlu dipertimbangkan sehingga anak sebaiknya diperiksa lebih lanjut oleh dokter untuk menemukan penyebab dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Tabel 4. Tanda yang perlu diperiksakan
| Gejala | Perlu dicurigai |
|---|---|
| Berat badan sulit naik | Ya |
| Muntah berulang | Ya |
| Sembelit kronis | Ya |
| Refluks atau sering gumoh | Ya |
| Batuk saat makan | Ya |
| Hanya mau makanan tertentu | Ya, terutama bila disertai keluhan lain |
| Makan lebih dari 30 sampai 45 menit | Ya |
| Nyeri perut berulang | Ya |
Bagaimana Dokter Memastikan Penyebabnya?
- Dokter tidak hanya melihat hasil tes alergi. Riwayat keluhan, pola makan, pertumbuhan anak, dan gejala yang muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu jauh lebih penting.
- Bila diperlukan, dokter dapat melakukan diet eliminasi secara terarah. Pada kondisi tertentu, diagnosis dipastikan melalui Oral Food Challenge, yaitu pemeriksaan yang saat ini menjadi baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan alergi.
Apakah Gangguan Makan Bisa Membaik?
- Kabar baiknya, banyak anak mengalami perbaikan setelah penyebabnya diatasi.
- Jika alergi makanan terdiagnosis dengan benar, refluks dan sembelit diobati, serta anak mendapatkan terapi makan bila diperlukan, biasanya anak mulai merasa nyaman saat makan. Nafsu makan meningkat, anak lebih berani mencoba makanan baru, kemampuan mengunyah berkembang, dan berat badan mulai bertambah.
Tabel 5. Penanganan sesuai penyebab
| Masalah | Penanganan |
|---|---|
| Alergi makanan | Menghindari makanan penyebab berdasarkan diagnosis dokter |
| Refluks | Mengatasi refluks sehingga makan tidak terasa sakit |
| Sembelit | Mengobati sembelit dan memperbaiki pola makan |
| Gangguan mengunyah | Feeding therapy dan latihan oral-motor |
| Kekurangan gizi | Memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral |
| Orang tua cemas | Edukasi mengenai cara memberi makan yang tepat |
Pesan untuk Orang Tua
- Anak yang susah makan tidak selalu hanya sedang pilih-pilih makanan. Bila keluhan disertai muntah berulang, refluks, sembelit, nyeri perut, batuk saat makan, berat badan sulit naik, atau pertumbuhan melambat, kemungkinan adanya alergi makanan atau gangguan saluran cerna perlu dipertimbangkan.
- Semakin cepat penyebabnya ditemukan, semakin besar peluang anak kembali menikmati makan, berkembang sesuai usianya, dan tumbuh secara optimal.
Referensi
- Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, et al. Feeding Difficulties in Children with Food Allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatric Allergy and Immunology. 2024.
- Chehade M, Meyer R, Beauregard A. Feeding Difficulties in Children with Non-IgE-Mediated Food Allergic Gastrointestinal Disorders. Ann Allergy Asthma Immunol. 2019.
- Goday PS, Huh SY, Silverman A, et al. Pediatric Feeding Disorder. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2019.
- American Academy of Pediatrics. Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Faltering Weight in Infants and Children. Pediatrics. 2026.










Leave a Reply