Sepsis pada Bayi Baru Lahir, Infeksi Berbahaya yang Harus Dikenali Sejak Dini
Apa Itu Sepsis pada Bayi Baru Lahir?
Sepsis neonatus adalah infeksi berat yang terjadi pada bayi dalam 28 hari pertama kehidupan. Kondisi ini muncul ketika kuman seperti bakteri, virus, atau jamur masuk ke dalam tubuh bayi dan menyebar melalui aliran darah sehingga memicu peradangan di berbagai organ. Bila tidak segera ditangani, infeksi dapat mengganggu fungsi paru, jantung, otak, ginjal, hingga menyebabkan syok dan kematian. Karena sistem kekebalan tubuh bayi baru lahir, terutama bayi prematur, masih belum matang, mereka lebih rentan mengalami infeksi dibandingkan anak yang lebih besar.
Walaupun kemajuan dunia kedokteran telah meningkatkan keselamatan bayi baru lahir, sepsis masih menjadi salah satu penyebab utama kematian neonatal di seluruh dunia. Tantangan terbesar adalah gejalanya sering tidak khas sehingga mudah disangka sebagai kondisi biasa. Oleh karena itu, kewaspadaan orang tua dan tenaga kesehatan sangat penting agar pengobatan dapat dimulai sedini mungkin.
Mengapa Bayi Baru Lahir Mudah Terkena Sepsis?
Pada masa awal kehidupan, daya tahan tubuh bayi belum berkembang sempurna. Sel-sel kekebalan tubuh belum mampu melawan kuman seefektif orang dewasa. Selain itu, bayi juga dapat tertular kuman dari ibu saat kehamilan atau persalinan, maupun dari lingkungan setelah lahir.
Risiko sepsis lebih tinggi pada bayi yang lahir prematur, berat badan lahir rendah, ketuban pecah terlalu lama sebelum persalinan, ibu mengalami infeksi saat melahirkan, atau bayi yang harus dirawat di ruang NICU dengan alat bantu seperti infus, kateter, atau ventilator.
Dua Jenis Sepsis pada Bayi
Dokter membagi sepsis menjadi dua kelompok berdasarkan waktu munculnya.
- Sepsis awitan dini (Early-Onset Sepsis) biasanya terjadi dalam tiga hari pertama kehidupan dan umumnya berasal dari infeksi yang ditularkan ibu saat kehamilan atau proses persalinan.
- Sepsis awitan lambat (Late-Onset Sepsis) muncul setelah usia tiga hari dan lebih sering berasal dari lingkungan rumah sakit atau lingkungan tempat bayi dirawat. Bayi yang menjalani perawatan intensif lebih lama memiliki risiko lebih tinggi mengalami jenis sepsis ini.
Tanda dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala sepsis sering kali tidak khas sehingga mudah terlewat. Bayi dapat tampak lemas, lebih banyak tidur, sulit dibangunkan, malas menyusu, atau menangis lemah.
Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi:
- Demam atau suhu tubuh terlalu rendah.
- Napas cepat, sesak, atau berhenti napas sesaat.
- Kulit tampak pucat atau kebiruan.
- Tangan dan kaki terasa dingin.
- Muntah atau perut membuncit.
- Kejang.
- Berat badan sulit bertambah.
- Bayi tampak sangat lemah atau tidak responsif.
Semakin cepat gejala dikenali, semakin besar peluang bayi untuk sembuh.
Bagaimana Dokter Memastikan Diagnosis?
- Tidak ada satu pemeriksaan yang langsung memastikan sepsis. Dokter akan menggabungkan hasil pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan laboratorium.
- Kultur darah merupakan pemeriksaan utama untuk mencari kuman penyebab infeksi. Selain itu dilakukan pemeriksaan darah, seperti jumlah sel darah putih, kadar C-reactive protein (CRP), prokalsitonin, dan pemeriksaan lain sesuai kondisi bayi. Pada beberapa kasus juga dilakukan pemeriksaan cairan otak, urin, atau foto rontgen bila dicurigai terdapat infeksi pada organ tertentu.
- Karena hasil kultur darah memerlukan waktu beberapa hari, dokter sering memulai antibiotik lebih dahulu bila sepsis sangat dicurigai.
Bagaimana Pengobatannya?
- Sepsis merupakan keadaan darurat medis sehingga pengobatan harus segera dimulai. Bayi biasanya dirawat di rumah sakit agar dapat dipantau selama 24 jam.
- Pengobatan meliputi pemberian antibiotik melalui infus, cairan, bantuan oksigen bila diperlukan, menjaga suhu tubuh tetap stabil, serta pemantauan fungsi jantung, paru, dan organ lainnya. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan penyebab infeksi tertentu, antibiotik akan disesuaikan agar lebih efektif.
- Semakin cepat terapi diberikan, semakin besar kemungkinan bayi pulih tanpa komplikasi.
Apakah Sepsis Bisa Dicegah?
- Sebagian kasus sepsis dapat dicegah melalui perawatan kehamilan dan persalinan yang baik. Dokter akan mengobati infeksi pada ibu hamil, menjaga kebersihan saat persalinan, serta memberikan antibiotik bila terdapat faktor risiko tertentu.
- Setelah bayi lahir, pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan tangan sebelum menyentuh bayi, memberikan ASI eksklusif, membatasi kontak dengan orang yang sedang sakit, serta melakukan kontrol sesuai jadwal. Pada bayi yang dirawat di NICU, tenaga kesehatan juga menerapkan prosedur ketat untuk mencegah infeksi.
Kapan Orang Tua Harus Segera Membawa Bayi ke Rumah Sakit?
Jangan menunggu gejala menjadi berat. Segera bawa bayi ke rumah sakit bila:
- Bayi tidak mau menyusu.
- Demam atau suhu tubuh terlalu rendah.
- Napas cepat atau sesak.
- Kulit tampak kebiruan.
- Bayi sangat lemas.
- Kejang.
- Menangis lemah terus-menerus.
- Sulit dibangunkan.
Kesimpulan
Sepsis pada bayi baru lahir merupakan infeksi berat yang membutuhkan penanganan secepat mungkin. Gejalanya sering tidak khas sehingga orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal dan segera mencari pertolongan medis. Dengan diagnosis dini, pemberian antibiotik yang tepat, serta perawatan intensif yang baik, peluang kesembuhan bayi akan jauh lebih besar dan risiko komplikasi serius dapat dikurangi.
Referensi
- Kariniotaki C, Thomou C, Gkentzi D, Panteris E, Dimitriou G, Hatzidaki E. Neonatal Sepsis: A Comprehensive Review. Antibiotics (Basel). 2025;14(1):6. doi:10.3390/antibiotics14010006.
- Shane AL, Sánchez PJ, Stoll BJ. Neonatal sepsis. Lancet. 2017;390(10104):1770-1780.
- Puopolo KM, Benitz WE, Zaoutis TE. Management of Neonates at Risk for Early-Onset Sepsis. Pediatrics. 2018.









Leave a Reply