Bayi Kuning pada Bayi Baru Lahir, Kapan Normal dan Kapan Harus Segera ke Dokter?
Apa Itu Bayi Kuning?
Bayi kuning atau ikterus neonatus adalah kondisi ketika kulit dan bagian putih mata bayi tampak menguning akibat meningkatnya kadar bilirubin dalam darah. Bilirubin adalah zat berwarna kuning yang terbentuk saat tubuh memecah sel darah merah yang sudah tua. Pada bayi baru lahir, hati masih dalam tahap berkembang sehingga belum mampu membuang bilirubin secepat orang dewasa. Akibatnya, bilirubin dapat menumpuk dan membuat kulit bayi tampak kuning.
Bayi kuning merupakan kondisi yang sangat sering terjadi. Sekitar 6 dari 10 bayi cukup bulan dan 8 dari 10 bayi prematur mengalami kulit kuning pada minggu pertama kehidupan. Sebagian besar merupakan kondisi normal yang akan membaik dengan sendirinya. Namun, pada sebagian kecil bayi, kadar bilirubin dapat meningkat terlalu tinggi sehingga memerlukan pengobatan untuk mencegah komplikasi.
Mengapa Bayi Bisa Menjadi Kuning?
Selama di dalam kandungan, bayi memiliki lebih banyak sel darah merah dibandingkan setelah lahir. Setelah bayi lahir, sebagian sel darah merah tersebut akan dipecah sehingga menghasilkan bilirubin. Pada saat yang sama, organ hati bayi masih belum bekerja secara sempurna untuk membuang bilirubin dari tubuh. Kombinasi kedua proses inilah yang menyebabkan banyak bayi mengalami kuning pada beberapa hari pertama kehidupan.
Selain proses yang normal, bayi kuning juga dapat disebabkan oleh penyakit tertentu, misalnya perbedaan golongan darah ibu dan bayi, infeksi, kelainan hati, gangguan saluran empedu, kekurangan enzim tertentu, atau kelainan bawaan. Karena itu, dokter perlu memastikan apakah bayi kuning yang dialami bersifat normal atau merupakan tanda suatu penyakit.
Apa Tanda yang Harus Diperhatikan?
Kulit bayi biasanya mulai tampak kuning pada wajah, kemudian dapat meluas ke dada, perut, lengan, hingga kaki apabila kadar bilirubin semakin tinggi. Mata bayi juga dapat terlihat menguning. Sebagian besar bayi tetap aktif dan menyusu dengan baik.
Orang tua perlu segera membawa bayi ke dokter apabila kuning muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir, warna kuning semakin pekat atau cepat menyebar, bayi sulit menyusu, tampak sangat mengantuk, lemas, demam, menangis dengan suara melengking, kejang, atau buang air kecil dan buang air besar berkurang. Gejala tersebut dapat menandakan kadar bilirubin yang terlalu tinggi atau adanya penyakit lain yang memerlukan penanganan segera.
Bagaimana Dokter Memastikan Penyebabnya?
Dokter akan memeriksa usia bayi saat mulai tampak kuning, kondisi umum bayi, riwayat persalinan, serta faktor risiko yang dimiliki. Bila diperlukan, kadar bilirubin akan diukur menggunakan alat yang ditempelkan pada kulit atau melalui pemeriksaan darah. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan tambahan untuk mencari penyebabnya, seperti pemeriksaan golongan darah, fungsi hati, atau pemeriksaan infeksi.
Pemeriksaan ini penting karena tidak semua bayi kuning memerlukan pengobatan. Keputusan terapi bergantung pada usia bayi, kadar bilirubin, usia kehamilan saat lahir, serta kondisi kesehatan bayi secara keseluruhan.
Bagaimana Cara Mengobatinya?
Sebagian besar bayi hanya memerlukan pemantauan dan pemberian ASI yang cukup. Menyusu lebih sering membantu tubuh bayi membuang bilirubin melalui feses dan urine.
Jika kadar bilirubin meningkat melebihi batas aman, dokter akan memberikan fototerapi. Pada terapi ini, bayi ditempatkan di bawah sinar biru khusus yang membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan oleh tubuh. Terapi ini aman dan telah digunakan selama puluhan tahun.
Pada keadaan yang sangat berat, misalnya bila kadar bilirubin sangat tinggi atau terjadi penghancuran sel darah merah secara cepat, bayi mungkin memerlukan transfusi tukar. Tindakan ini dilakukan di rumah sakit oleh dokter yang berpengalaman dan hanya diperlukan pada sebagian kecil kasus.
Mengapa Bayi Kuning Tidak Boleh Dianggap Sepele?
Bila kadar bilirubin terlalu tinggi dan tidak segera diobati, bilirubin dapat masuk ke jaringan otak dan menyebabkan kerusakan saraf yang dikenal sebagai kernikterus. Komplikasi ini dapat mengakibatkan gangguan pendengaran, gangguan gerak, keterlambatan perkembangan, bahkan kecacatan permanen.
Kabar baiknya, komplikasi tersebut kini jauh lebih jarang terjadi karena pemeriksaan bilirubin semakin mudah dilakukan dan pengobatan dapat diberikan lebih cepat. Oleh karena itu, pemeriksaan bayi setelah lahir dan kontrol sesuai jadwal sangat penting untuk mendeteksi peningkatan bilirubin sejak dini.
Apa yang Dapat Dilakukan Orang Tua?
Orang tua sebaiknya memastikan bayi mendapatkan ASI yang cukup sejak hari pertama kehidupan. Perhatikan apakah warna kuning semakin meluas, bayi tetap aktif menyusu, dan buang air kecil maupun buang air besar berjalan normal. Jangan mencoba mengobati bayi kuning dengan menjemur bayi di bawah sinar matahari sebagai pengganti pemeriksaan dokter, karena cara ini tidak dapat menggantikan fototerapi medis.
Apabila kulit bayi tampak semakin kuning, terutama bila disertai bayi lemas, sulit menyusu, atau kuning muncul sangat dini setelah lahir, segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan. Penanganan yang cepat dapat mencegah komplikasi dan membuat sebagian besar bayi pulih sepenuhnya tanpa gangguan jangka panjang.
Artikel ini didasarkan pada: Ansong-Assoku B, Adnan M, Daley SF, Ankola PA. Neonatal Jaundice. StatPearls Publishing. 2026.








Leave a Reply