Tes Panel Alergi IgE Tidak Selalu Bisa Memastikan Alergi Makanan pada Anak
Abstrak
Alergi makanan merupakan salah satu penyebab gangguan kesehatan yang cukup sering ditemukan pada anak. Keluhannya dapat berupa gatal pada kulit, ruam, muntah, nyeri perut, sembelit, diare, batuk, sesak napas, hingga gangguan pertumbuhan. Banyak orang tua berharap pemeriksaan darah panel IgE dapat langsung menunjukkan makanan penyebab alergi. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan ini tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk memastikan diagnosis alergi makanan.
World Allergy Organization (WAO), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI), dan Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA) sama-sama menegaskan bahwa pemeriksaan IgE hanya merupakan alat bantu diagnosis. Pemeriksaan ini harus dipilih berdasarkan riwayat klinis yang sesuai, bukan digunakan sebagai tes skrining terhadap banyak makanan sekaligus. Diagnosis alergi makanan harus ditegakkan melalui kombinasi riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang yang tepat, serta Oral Food Challenge (OFC) bila diperlukan. Penggunaan panel IgE secara sembarangan dapat menyebabkan salah diagnosis, pantangan makanan yang tidak perlu, gangguan gizi, dan meningkatnya biaya pengobatan.
Pendahuluan
Tidak sedikit orang tua datang dengan hasil tes panel alergi IgE yang memeriksa puluhan jenis makanan sekaligus. Mereka berharap hasil pemeriksaan tersebut dapat langsung menjawab penyebab batuk yang sering kambuh, asma, eksim, sembelit, nyeri perut, atau berat badan anak yang sulit naik. Bila hasilnya positif, makanan langsung dihentikan. Sebaliknya, bila hasilnya negatif, orang tua menganggap anak pasti tidak memiliki alergi makanan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar.
Pemeriksaan panel IgE memang dapat mendeteksi adanya antibodi IgE terhadap protein makanan tertentu. Namun, antibodi tersebut hanya menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh pernah mengenali makanan tersebut. Hasil ini belum tentu berarti anak akan mengalami reaksi alergi saat mengonsumsinya. Sebaliknya, sebagian anak yang benar-benar mengalami alergi makanan, terutama alergi non-IgE, justru dapat memiliki hasil pemeriksaan yang normal. Karena itu, hasil laboratorium tidak boleh ditafsirkan tanpa melihat riwayat penyakit dan pemeriksaan dokter.
- WAO menjelaskan bahwa pemeriksaan skin prick test maupun serum specific IgE hanya digunakan untuk mendukung dugaan klinis terhadap makanan tertentu. Pemeriksaan ini bukan tes skrining dan bukan alat untuk memastikan diagnosis secara mandiri. Pemeriksaan yang dilakukan tanpa alasan klinis sering menghasilkan temuan yang tidak bermakna sehingga meningkatkan risiko salah diagnosis.
- EAACI juga menyatakan bahwa diagnosis alergi makanan harus dimulai dari wawancara yang rinci mengenai hubungan antara makanan dan timbulnya gejala. Pemeriksaan IgE atau skin prick test hanya dilakukan bila memang ada makanan yang dicurigai. Bila diagnosis masih belum pasti, Oral Food Challenge tetap menjadi pemeriksaan paling akurat untuk memastikan apakah makanan tersebut benar-benar menyebabkan alergi.
- AAAAI mengingatkan bahwa penggunaan panel IgE terhadap banyak makanan lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat. Pemeriksaan ini sering menghasilkan hasil positif yang tidak mempunyai arti klinis. Akibatnya, anak menjalani pantangan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan, mengalami kekurangan zat gizi, menjadi semakin pilih-pilih makanan, dan kualitas hidup keluarga ikut menurun.
- ASCIA juga memiliki rekomendasi yang sama. Organisasi ini menegaskan bahwa hasil IgE positif hanya menunjukkan sensitisasi, bukan bukti alergi makanan. Oleh karena itu, dokter tidak boleh menentukan pantangan makanan hanya berdasarkan hasil laboratorium. Riwayat gejala tetap menjadi dasar utama dalam menegakkan diagnosis.
Hal lain yang perlu diketahui adalah adanya hasil negatif palsu. Pemeriksaan IgE hanya mendeteksi alergi yang diperantarai antibodi IgE. Pada alergi makanan non-IgE, hasil pemeriksaan dapat tetap negatif walaupun anak memang mengalami alergi. Karena itu, hasil negatif tidak selalu berarti anak bebas dari alergi makanan.
Pendekatan yang dianjurkan seluruh pedoman internasional adalah melakukan evaluasi secara bertahap. Dokter akan menilai riwayat gejala, melakukan pemeriksaan fisik, memilih pemeriksaan penunjang yang sesuai bila diperlukan, melakukan diet eliminasi secara terarah pada kasus tertentu, kemudian mengonfirmasi diagnosis dengan Oral Food Challenge bila memang ada indikasi. Pendekatan ini terbukti memberikan diagnosis yang lebih akurat dibandingkan hanya mengandalkan hasil panel IgE.
Tabel 1. Apa Kata Pedoman Dunia tentang Tes Panel IgE?
| Organisasi | Rekomendasi |
|---|---|
| WAO | IgE spesifik dan skin prick test hanya digunakan untuk mendukung dugaan klinis. Bukan pemeriksaan skrining dan bukan penentu diagnosis tunggal. |
| EAACI | Pemeriksaan IgE dilakukan bila ada riwayat yang mengarah pada makanan tertentu. Oral Food Challenge merupakan baku emas diagnosis. |
| AAAAI | Tidak merekomendasikan panel IgE terhadap banyak makanan sebagai skrining karena dapat menyebabkan overdiagnosis dan pantangan makanan yang tidak perlu. |
| ASCIA | Hasil IgE positif hanya menunjukkan sensitisasi. Diagnosis harus didasarkan pada riwayat klinis dan pemeriksaan dokter. |
Tabel 2. Apa Arti Hasil Tes IgE?
| Hasil Pemeriksaan | Artinya |
|---|---|
| IgE positif | Belum tentu alergi. Hanya menunjukkan adanya sensitisasi terhadap makanan tersebut. |
| IgE negatif | Belum tentu bebas alergi. Alergi non-IgE dapat memberikan hasil negatif. |
| Banyak makanan positif | Tidak berarti semua makanan harus dipantang. |
| Banyak makanan negatif | Tidak menyingkirkan seluruh kemungkinan alergi makanan. |
Tabel 3. Pemeriksaan yang Direkomendasikan untuk Mendiagnosis Alergi Makanan
| Pemeriksaan | Peran |
|---|---|
| Riwayat penyakit | Langkah paling penting dalam diagnosis |
| Pemeriksaan fisik | Menilai tanda alergi dan penyakit lain |
| Skin Prick Test | Membantu diagnosis bila ada indikasi |
| IgE spesifik | Membantu diagnosis bila dipilih sesuai riwayat |
| Panel IgE makanan | Tidak dianjurkan sebagai pemeriksaan skrining |
| Diet eliminasi terarah | Membantu menilai hubungan makanan dengan gejala |
| Oral Food Challenge | Pemeriksaan paling akurat untuk memastikan alergi makanan |
Tabel 4. Peran Pemeriksaan dalam Diagnosis Alergi Makanan
| Pemeriksaan | Apa yang Dinilai | Dapat Memastikan Diagnosis? |
|---|---|---|
| Riwayat klinis | Hubungan makanan dengan munculnya gejala | Ya, merupakan dasar utama |
| Pemeriksaan fisik | Manifestasi alergi dan kemungkinan penyakit lain | Mendukung diagnosis |
| Skin Prick Test | Sensitisasi yang diperantarai IgE | Tidak bila digunakan sendiri |
| IgE spesifik | Antibodi IgE terhadap makanan tertentu | Tidak bila digunakan sendiri |
| Panel IgE makanan | Sensitisasi terhadap banyak makanan | Tidak dianjurkan sebagai skrining |
| Diet eliminasi terarah | Perubahan gejala setelah makanan dihentikan | Membantu evaluasi |
| Oral Food Challenge | Reaksi setelah makanan diberikan kembali di bawah pengawasan medis | Ya, merupakan baku emas diagnosis |
Referensi
- Ansotegui IJ, Melioli G, Canonica GW, et al. IgE allergy diagnostics and other relevant tests in allergy: A World Allergy Organization position paper. World Allergy Organ J. 2020;13(2):100080. doi:10.1016/j.waojou.2019.100080.
- Parrish CP. A review of food allergy panels and their consequences. Ann Allergy Asthma Immunol. 2023;131(4):421-426. doi:10.1016/j.anai.2023.04.011.
- Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, et al. EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines: Diagnosis and Management of Food Allergy. Allergy. 2014;69(8):1008-1025. doi:10.1111/all.12429.
- Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. J Allergy Clin Immunol. 2010;126(Suppl 6):S1-S58. doi:10.1016/j.jaci.2010.10.007.
- Al Ghamdi A, Abrams EM, Carr S, et al. Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology position statement: Panel testing for food allergies. Allergy Asthma Clin Immunol. 2024;20:61. doi:10.1186/s13223-024-00937-0.










Leave a Reply