Peran Alergi Makanan pada Rhinitis Alergi, Temuan Baru Berdasarkan Pemeriksaan IgE
Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara
Rhinitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi yang paling sering dijumpai di seluruh dunia. Penyakit ini ditandai dengan bersin berulang, hidung gatal, pilek bening, dan hidung tersumbat akibat reaksi imun terhadap alergen yang terhirup, seperti tungau debu rumah, serbuk sari, bulu hewan, atau jamur. Selama bertahun-tahun muncul anggapan bahwa makanan tertentu juga dapat memicu atau memperberat rhinitis alergi. Namun, hingga kini hubungan tersebut masih menjadi perdebatan. Penelitian yang dilakukan Mohammed W. Al-Rabia dan kolega memberikan gambaran bahwa sebagian penderita rhinitis alergi memang memiliki sensitisasi terhadap makanan, meskipun hal itu belum membuktikan bahwa makanan merupakan penyebab langsung rhinitis alergi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Microscopy and Ultrastructure ini melibatkan 100 pasien berusia 10 hingga 60 tahun yang telah didiagnosis mengalami rhinitis alergi. Seluruh peserta menjalani pemeriksaan IgE spesifik terhadap kombinasi alergen hirup dan alergen makanan menggunakan RIDA Allergy Screen. Peneliti mengecualikan pasien yang sedang mengonsumsi antihistamin, steroid jangka panjang, maupun wanita hamil agar hasil pemeriksaan tidak dipengaruhi oleh faktor lain. Tujuan utama penelitian adalah mengevaluasi apakah terdapat hubungan antara sensitisasi makanan dengan rhinitis alergi serta melihat pengaruh usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan riwayat keluarga terhadap hasil tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63% pasien rhinitis alergi memiliki sensitisasi terhadap satu atau lebih alergen makanan, sedangkan 37% tidak menunjukkan sensitisasi terhadap makanan yang diperiksa. Kelompok usia 21 hingga 40 tahun merupakan kelompok dengan angka sensitisasi tertinggi, mencapai sekitar 53,2% dari seluruh kasus yang mengalami sensitisasi makanan. Penelitian ini juga menemukan bahwa perempuan lebih sering menunjukkan sensitisasi makanan dibandingkan laki-laki. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pada sebagian penderita rhinitis alergi terdapat respons imun terhadap makanan, tetapi hasil ini tidak dapat diartikan bahwa makanan menjadi penyebab utama munculnya gejala rhinitis alergi.
Selain makanan, penelitian ini juga memperlihatkan bahwa alergen hirup tetap menjadi faktor yang paling dominan. Sensitisasi tertinggi ditemukan terhadap tungau debu rumah, yaitu Dermatophagoides pteronyssinus sebesar 52% dan Dermatophagoides farinae sebesar 47%. Sensitisasi juga cukup sering ditemukan terhadap kecoak, Aspergillus fumigatus, Penicillium notatum, bulu kucing, berbagai jenis rumput, serta serbuk sari tanaman. Sementara itu, beberapa makanan seperti beras, buah sitrus, pisang, dan black gram termasuk alergen yang relatif lebih sering ditemukan pada populasi penelitian di Arab Saudi. Peneliti menekankan bahwa jenis makanan penyebab sensitisasi dapat berbeda antarnegara karena dipengaruhi pola konsumsi dan lingkungan.
Penelitian ini juga menjelaskan mekanisme biologis yang mungkin mendasari hubungan tersebut. Pada individu yang memiliki kecenderungan alergi, paparan protein makanan tertentu dapat merangsang pembentukan imunoglobulin E (IgE). Antibodi IgE kemudian menempel pada sel mast dan basofil. Ketika terjadi pajanan ulang terhadap alergen yang sama, sel-sel tersebut melepaskan histamin, leukotrien, prostaglandin, dan berbagai mediator inflamasi lainnya yang menimbulkan gejala alergi. Walaupun mekanisme ini dapat menjelaskan mengapa sebagian penderita mengalami gejala saluran napas setelah mengonsumsi makanan tertentu, respons tersebut tidak terjadi pada semua pasien rhinitis alergi. Oleh karena itu, keberadaan IgE spesifik terhadap makanan hanya menunjukkan sensitisasi imunologis dan belum tentu menunjukkan alergi makanan yang bermakna secara klinis.
Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting dalam praktik klinis. Pemeriksaan IgE spesifik atau skin prick test tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menetapkan diagnosis alergi makanan pada pasien dengan rhinitis alergi. Hasil positif harus selalu dikaitkan dengan riwayat munculnya gejala setelah mengonsumsi makanan tertentu. Bila riwayat klinis meragukan, konfirmasi dengan Open Oral Food Challenge tetap merupakan baku emas untuk memastikan adanya alergi makanan. Pendekatan ini penting agar pasien tidak menjalani pembatasan makanan yang tidak diperlukan, yang justru dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi, terutama pada anak-anak.
Penelitian Al-Rabia memberikan bukti bahwa sensitisasi terhadap makanan cukup sering ditemukan pada penderita rhinitis alergi, tetapi belum dapat membuktikan hubungan sebab akibat. Dengan demikian, makanan tidak dapat dianggap sebagai penyebab utama rhinitis alergi pada semua pasien. Evaluasi alergi makanan sebaiknya dilakukan secara selektif pada pasien yang memiliki riwayat reaksi yang jelas setelah mengonsumsi makanan tertentu atau disertai penyakit atopik lain seperti dermatitis atopik dan asma. Pendekatan berbasis bukti ini membantu dokter memberikan diagnosis yang lebih akurat, terapi yang tepat, serta menghindari pembatasan makanan yang tidak memiliki manfaat klinis.
Referensi
- Al-Rabia MW. Food-induced immunoglobulin E-mediated allergic rhinitis. J Microsc Ultrastruct. 2016 Apr-Jun;4(2):69-75. doi: 10.1016/j.jmau.2015.11.004. Epub 2015 Dec 14. PMID: 30023212; PMCID: PMC6014210.












Leave a Reply