Alergi Kacang dan Perubahan Fungsi Jantung: Bukti Baru Bahwa Reaksi Alergi Dapat Memengaruhi Sistem Peredaran Darah

Alergi Kacang dan Perubahan Fungsi Jantung: Bukti Baru Bahwa Reaksi Alergi Dapat Memengaruhi Sistem Peredaran Darah

Alergi makanan merupakan salah satu penyebab utama reaksi anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang dapat mengancam nyawa. Selama ini masyarakat lebih mengenal alergi makanan melalui gejala seperti gatal, bentol merah, muntah, diare, atau sesak napas. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa reaksi alergi tidak hanya memengaruhi kulit dan saluran cerna, tetapi juga dapat menyebabkan perubahan pada sistem kardiovaskular, termasuk denyut jantung, tekanan darah, dan aliran darah tubuh.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology tahun 2021 oleh Ruiz-Garcia dan kolega memberikan pemahaman baru mengenai perubahan fungsi jantung selama reaksi alergi akibat kacang tanah. Penelitian ini menjadi salah satu studi pertama yang secara rinci mengamati perubahan kardiovaskular saat seseorang mengalami reaksi alergi makanan dalam kondisi terkontrol melalui pemeriksaan food challenge.

Ketika seseorang dengan alergi kacang mengonsumsi makanan pemicu, sistem kekebalan tubuh mengenali protein kacang sebagai ancaman. Tubuh kemudian mengaktifkan sel mast dan basofil yang melepaskan berbagai mediator alergi seperti histamin, leukotrien, dan zat inflamasi lainnya. Zat-zat tersebut menyebabkan perubahan pada pembuluh darah, saluran napas, serta sistem saraf yang mengatur fungsi jantung.

Perubahan pembuluh darah akibat reaksi alergi dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan perpindahan cairan dari dalam pembuluh darah ke jaringan sekitar. Kondisi ini dapat mengurangi jumlah darah yang kembali ke jantung. Sebagai kompensasi, tubuh meningkatkan kerja jantung dengan mempercepat denyut jantung agar aliran darah ke organ penting tetap terjaga.

Penelitian Ruiz-Garcia dan kolega melibatkan 57 orang dengan alergi kacang tanah yang telah terbukti melalui pemeriksaan medis. Peserta menjalani double-blind placebo-controlled food challenge, yaitu pemberian makanan pemicu secara bertahap dengan pengawasan medis ketat. Selama proses tersebut, peneliti melakukan pemantauan fungsi tubuh secara terus menerus, meliputi denyut jantung, tekanan darah, volume darah yang dipompa jantung setiap denyutan, aliran darah perifer, serta aktivitas listrik jantung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaksi alergi terhadap kacang menyebabkan peningkatan denyut jantung secara bermakna. Denyut jantung meningkat rata-rata sekitar 11,6 persen selama reaksi alergi berlangsung. Peningkatan ini merupakan respons tubuh untuk mempertahankan sirkulasi ketika terjadi perubahan jumlah darah yang kembali ke jantung.

Selain peningkatan denyut jantung, penelitian menemukan adanya penurunan volume sekuncup (stroke volume), yaitu jumlah darah yang dipompa jantung setiap kali berkontraksi. Volume sekuncup menurun sekitar 4,2 persen selama reaksi alergi. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun jantung berdetak lebih cepat, jumlah darah yang dipompa setiap denyutan dapat berkurang akibat perubahan kondisi pembuluh darah.

Penelitian ini juga menemukan peningkatan aliran darah perifer sekitar 19,7 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa reaksi alergi menyebabkan pelebaran pembuluh darah di bagian tubuh tertentu. Perubahan distribusi cairan ini dapat memengaruhi kemampuan tubuh mempertahankan tekanan darah, terutama pada reaksi alergi berat.

Menariknya, perubahan sistem kardiovaskular tidak selalu berkaitan langsung dengan berat ringannya gejala alergi yang terlihat. Artinya, perubahan fungsi jantung dan pembuluh darah dapat terjadi meskipun gejala luar belum tampak sangat berat. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian reaksi alergi dapat berkembang cepat dan sulit diprediksi hanya berdasarkan gejala awal.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemberian cairan melalui infus dapat membantu memperbaiki gangguan sirkulasi selama reaksi alergi. Cairan membantu meningkatkan jumlah darah yang kembali ke jantung sehingga fungsi pompa jantung menjadi lebih baik. Temuan ini mendukung pentingnya pengelolaan sirkulasi dalam penanganan anafilaksis selain terapi utama seperti pemberian adrenalin sesuai indikasi medis.

Bagi masyarakat, penelitian ini memberikan pesan bahwa alergi makanan merupakan gangguan sistem imun yang dapat berdampak luas pada tubuh. Alergi tidak hanya berupa gatal, ruam, muntah, atau sesak, tetapi pada kondisi tertentu dapat memengaruhi fungsi jantung dan peredaran darah.

Orang tua perlu mengenali tanda reaksi alergi berat pada anak setelah mengonsumsi makanan tertentu, seperti anak tampak lemas mendadak, pucat, sulit bernapas, mengalami penurunan kesadaran, atau terlihat mengalami gangguan sirkulasi. Evaluasi alergi yang tepat membantu menentukan makanan pemicu dan mencegah risiko reaksi berat di masa depan.

Penelitian Ruiz-Garcia dan kolega memperluas pemahaman bahwa alergi makanan merupakan kondisi sistemik yang melibatkan interaksi antara sistem imun, pembuluh darah, dan jantung. Dengan diagnosis yang akurat, edukasi keluarga, serta penanganan yang tepat, risiko komplikasi akibat alergi makanan dapat dikurangi.

Referensi

  • Ruiz-Garcia M, Bartra J, Alvarez O, Lakhani A, Patel S, Tang A, et al. Cardiovascular changes during peanut-induced allergic reactions in human subjects. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2021;147(2):633-642. doi:10.1016/j.jaci.2020.06.033. PMID:32707226. PMCID:PMC7858218.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *