Imunoterapi Alergen pada Alergi Makanan: Harapan Baru agar Penderita Tidak Lagi Sangat Sensitif terhadap Makanan
Apa Itu Imunoterapi Alergen?
Selama bertahun-tahun, pengobatan alergi makanan hanya berfokus pada satu hal, yaitu menghindari makanan penyebab alergi. Cara ini memang dapat mencegah reaksi alergi, tetapi tidak mengurangi kepekaan sistem kekebalan tubuh terhadap makanan tersebut. Akibatnya, seseorang tetap berisiko mengalami reaksi alergi bila tanpa sengaja mengonsumsi makanan penyebab, bahkan dalam jumlah yang sangat sedikit.
Dalam beberapa tahun terakhir, berkembang metode pengobatan baru yang disebut imunoterapi alergen. Tujuannya bukan untuk menyembuhkan alergi secara instan, melainkan melatih sistem kekebalan tubuh agar tidak bereaksi berlebihan terhadap makanan penyebab alergi. Dengan terapi ini, tubuh secara bertahap dibiasakan menerima alergen dalam jumlah yang sangat kecil, kemudian dosisnya dinaikkan secara perlahan di bawah pengawasan dokter. Hasilnya, banyak pasien mampu mentoleransi makanan dalam jumlah yang lebih besar sehingga risiko reaksi berat akibat paparan yang tidak disengaja dapat berkurang.
Bagaimana Imunoterapi Bekerja?
Pada penderita alergi makanan, sistem kekebalan tubuh salah mengenali makanan tertentu sebagai zat yang berbahaya. Akibatnya, tubuh membentuk antibodi IgE yang akan memicu pelepasan histamin dan berbagai zat peradangan setiap kali makanan tersebut dikonsumsi. Proses inilah yang menyebabkan gatal, biduran, muntah, sesak napas, hingga anafilaksis.
Imunoterapi bekerja dengan “mendidik kembali” sistem kekebalan tubuh agar lebih toleran terhadap alergen. Setelah menjalani terapi selama beberapa bulan hingga beberapa tahun, respons alergi dapat berkurang sehingga pasien mampu mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sebelumnya tidak dapat ditoleransi. Pada sebagian kecil pasien, toleransi tersebut bahkan dapat bertahan setelah terapi dihentikan, meskipun kondisi ini masih terus diteliti.
Jenis Imunoterapi Alergi Makanan
Saat ini terdapat tiga metode imunoterapi yang paling banyak dipelajari.
1. Oral Immunotherapy (OIT)
- Pada metode ini, pasien mengonsumsi makanan penyebab alergi dalam dosis yang sangat kecil. Dosis kemudian dinaikkan secara bertahap hingga mencapai dosis pemeliharaan.
- OIT merupakan metode yang paling efektif dalam meningkatkan toleransi terhadap makanan seperti kacang tanah, susu sapi, dan telur. Namun, karena alergen dikonsumsi secara langsung, risiko munculnya reaksi alergi selama terapi juga lebih tinggi. Oleh karena itu, terapi harus dilakukan dengan pengawasan dokter yang berpengalaman.
2. Epicutaneous Immunotherapy (EPIT)
- EPIT menggunakan plester yang ditempelkan pada kulit. Plester tersebut mengandung alergen dalam jumlah sangat kecil sehingga sistem kekebalan tubuh dapat mengenalinya tanpa paparan langsung melalui saluran cerna.
- Metode ini memiliki tingkat keamanan yang sangat baik. Efek samping yang paling sering muncul hanyalah kemerahan atau gatal pada kulit di tempat plester ditempelkan. Namun, peningkatan toleransi umumnya tidak sebesar OIT.
3. Sublingual Immunotherapy (SLIT)
- SLIT dilakukan dengan meneteskan ekstrak alergen di bawah lidah selama beberapa menit setiap hari.
- Cara ini lebih nyaman bagi sebagian pasien dan memiliki risiko reaksi berat yang lebih rendah dibandingkan OIT. Namun, karena dosis alergen yang diberikan lebih kecil, peningkatan toleransi biasanya juga tidak sebesar terapi oral.
Perbandingan Ketiga Jenis Imunoterapi
| Aspek | OIT | EPIT | SLIT |
|---|---|---|---|
| Cara pemberian | Makanan diminum atau dimakan | Plester pada kulit | Tetes di bawah lidah |
| Efektivitas | Paling tinggi | Sedang | Sedang |
| Kecepatan hasil | Relatif cepat | Lebih lambat | Sedang |
| Risiko reaksi alergi | Paling tinggi | Paling rendah | Rendah |
| Efek samping tersering | Gatal, muntah, nyeri perut, reaksi alergi | Kemerahan dan gatal pada kulit | Gatal pada mulut atau lidah |
| Cocok untuk | Pasien dengan alergi menetap yang memenuhi syarat | Pasien yang mengutamakan keamanan | Pasien yang membutuhkan terapi dengan risiko lebih rendah |
| Kelebihan | Toleransi meningkat paling besar | Sangat aman | Seimbang antara keamanan dan efektivitas |
| Kekurangan | Membutuhkan pengawasan ketat | Efeknya lebih terbatas | Toleransi yang dicapai lebih rendah dibandingkan OIT |
Seberapa Efektif Imunoterapi?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa imunoterapi dapat meningkatkan jumlah makanan yang mampu ditoleransi oleh penderita alergi. Misalnya, anak yang sebelumnya bereaksi setelah mengonsumsi sedikit kacang tanah dapat menjadi mampu mentoleransi jumlah yang jauh lebih besar setelah menjalani terapi. Hal ini sangat penting karena sebagian besar reaksi alergi berat terjadi akibat paparan makanan yang tidak disengaja.
Namun, imunoterapi belum dapat dianggap sebagai obat yang menyembuhkan semua penderita alergi makanan. Respons setiap pasien berbeda. Ada yang memperoleh peningkatan toleransi yang sangat baik, ada pula yang hanya mengalami perbaikan sebagian. Oleh karena itu, terapi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Apa Tantangannya?
Walaupun hasil penelitian sangat menjanjikan, imunoterapi belum cocok untuk semua orang. Terapi memerlukan waktu yang panjang, kontrol rutin, kedisiplinan pasien dan keluarga, serta pengawasan tenaga kesehatan yang berpengalaman. Selama proses terapi masih dapat terjadi reaksi alergi sehingga pasien tetap harus memahami cara mengenali gejala dan mendapatkan penanganan bila diperlukan.
Selain itu, para peneliti masih berusaha mengetahui siapa yang paling mungkin memperoleh manfaat dari imunoterapi, berapa lama terapi harus diberikan, dan apakah toleransi yang terbentuk dapat bertahan seumur hidup setelah terapi dihentikan.
Penelitian Masa Depan
Penelitian saat ini berupaya membuat imunoterapi menjadi lebih aman dan lebih efektif. Salah satu caranya adalah menggabungkan imunoterapi dengan obat biologik yang dapat menurunkan risiko reaksi alergi selama pengobatan. Peneliti juga mengembangkan pemeriksaan yang dapat memprediksi pasien mana yang memiliki peluang terbesar untuk berhasil menjalani terapi sehingga pengobatan dapat disesuaikan dengan kondisi setiap individu.
Di masa mendatang, diharapkan imunoterapi tidak hanya mampu melindungi pasien dari reaksi alergi akibat paparan yang tidak disengaja, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan kemajuan penelitian yang terus berlangsung, imunoterapi diperkirakan akan menjadi salah satu pilar penting dalam penatalaksanaan alergi makanan.
Kesimpulan
Imunoterapi alergen merupakan salah satu kemajuan terbesar dalam pengobatan alergi makanan. Berbeda dengan pendekatan lama yang hanya menghindari makanan penyebab, terapi ini bertujuan melatih sistem kekebalan tubuh agar lebih toleran terhadap alergen. Oral immunotherapy memberikan hasil paling baik dalam meningkatkan toleransi, sedangkan epicutaneous immunotherapy dan sublingual immunotherapy menawarkan tingkat keamanan yang lebih tinggi. Walaupun belum dapat menggantikan semua pengobatan yang ada, imunoterapi memberikan harapan baru bagi banyak anak dan orang dewasa yang hidup dengan alergi makanan, terutama dalam mengurangi risiko reaksi alergi berat dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Referensi
- Marcucci F, Isidori C, Argentiero A, Neglia C, Esposito S. Therapeutic perspectives in food allergy. J Transl Med. 2020 Aug 5;18(1):302. doi: 10.1186/s12967-020-02466-x. PMID: 32758254; PMCID: PMC7405436.
- Zhang W, Sindher SB, Sampath V, Nadeau K. Comparison of sublingual immunotherapy and oral immunotherapy in peanut allergy. Allergo J Int. 2018 Sep;27(6):153-161. doi: 10.1007/s40629-018-0067-x. Epub 2018 Jun 6. PMID: 31440440; PMCID: PMC6705598.









Leave a Reply