Terapi Tetes di Bawah Lidah (Imunoterapi SubLingual) , Harapan Baru bagi Anak dengan Alergi Makanan
Alergi makanan semakin sering ditemukan pada anak. Makanan seperti kacang tanah, susu sapi, telur, gandum, kedelai, ikan, dan makanan laut dapat menimbulkan reaksi yang ringan hingga berat. Selama ini, pengobatan utama adalah menghindari makanan penyebab alergi. Cara ini memang dapat mencegah reaksi, tetapi sering kali membuat anak dan keluarga merasa cemas karena paparan makanan dapat terjadi secara tidak sengaja.
Kini para peneliti sedang mengembangkan metode baru yang disebut Sublingual Immunotherapy atau SLIT. Pada terapi ini, alergen diberikan dalam jumlah sangat kecil dalam bentuk tetesan atau cairan yang diletakkan di bawah lidah. Dosisnya kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai pengawasan dokter. Tujuannya bukan untuk menghilangkan alergi secara instan, tetapi melatih sistem kekebalan tubuh agar tidak bereaksi berlebihan terhadap makanan tersebut.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada tahun 2026 menunjukkan hasil yang menggembirakan, terutama pada anak dengan alergi kacang tanah. Setelah menjalani terapi secara teratur, banyak anak mampu mentoleransi paparan kacang tanah dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Hal ini sangat penting karena sebagian besar reaksi alergi berat terjadi akibat paparan yang tidak disengaja, misalnya makanan yang tercampur sedikit alergen.
Hasil yang lebih baik bahkan ditemukan pada balita usia 1 hingga 4 tahun. Pada kelompok usia ini, sistem kekebalan tubuh masih berkembang sehingga lebih mudah dibentuk menjadi toleran terhadap alergen. Beberapa anak bahkan tetap mempertahankan toleransi selama beberapa bulan setelah terapi dihentikan. Temuan ini menunjukkan bahwa penanganan sejak usia dini mungkin memberikan hasil yang lebih baik.
Selain kacang tanah, penelitian awal juga menunjukkan manfaat SLIT pada alergi susu sapi, hazelnut, dan buah persik. Walaupun penelitian masih berlangsung, hasilnya memberikan harapan bahwa metode ini suatu hari nanti dapat digunakan untuk berbagai jenis alergi makanan.
Salah satu keunggulan SLIT adalah keamanannya. Sebagian besar efek samping hanya berupa rasa gatal atau sedikit tidak nyaman di mulut dan biasanya hilang dengan sendirinya. Reaksi alergi berat jauh lebih jarang dibandingkan beberapa jenis imunoterapi lainnya. Meski demikian, terapi ini tetap harus dilakukan di bawah pengawasan dokter yang berpengalaman dalam menangani alergi.
Penting untuk dipahami bahwa SLIT belum menjadi pengobatan rutin bagi semua penderita alergi makanan. Tidak semua pasien cocok menjalani terapi ini, dan dokter akan mempertimbangkan usia anak, jenis alergi, hasil pemeriksaan, serta riwayat reaksinya sebelum menentukan pilihan terapi. Selama menjalani pengobatan, anak tetap harus menghindari makanan penyebab alergi sesuai anjuran dokter.
Perkembangan imunoterapi sublingual memberikan harapan baru bagi keluarga yang memiliki anak dengan alergi makanan. Jika penelitian terus menunjukkan hasil yang baik, terapi ini dapat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko reaksi alergi, meningkatkan rasa aman, dan memperbaiki kualitas hidup anak. Masa depan pengobatan alergi makanan tidak lagi hanya menghindari makanan penyebab, tetapi juga membantu tubuh belajar menerima makanan tersebut dengan lebih baik.
Daftar Pustaka
- Ilyasova AA, Kim EH. Sublingual Immunotherapy for Food Allergy: Updates in Safety, Efficacy, and Future Considerations. Curr Allergy Asthma Rep. 2026;26(1):1. doi:10.1007/s11882-025-01244-3.













Leave a Reply