KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

KETIKA SISTEM IMUN MENYERANG TUBUH SENDIRI: MENGENALI PENYAKIT AUTOIMUN PADA ANAK

 

KETIKA SISTEM IMUN MENYERANG TUBUH SENDIRI: MENGENALI DIAGNOSIS PENYAKIT AUTOIMUN PADA ANAK

Sistem imun seharusnya melindungi tubuh dari virus, bakteri, dan berbagai ancaman lain. Pada penyakit autoimun, sistem pertahanan ini kehilangan kemampuan mengenali jaringan tubuh sendiri sehingga respons imun dapat menyerang dan menimbulkan peradangan. Pada anak, penyakit autoimun dapat muncul dengan gejala yang sangat beragam. Demam berulang, nyeri sendi, ruam, sariawan, kelemahan otot, gangguan pertumbuhan, hingga kelainan ginjal dapat menjadi bagian dari gambaran klinis. Masalahnya, gejala tersebut juga dapat ditemukan pada banyak penyakit lain. Karena itu, diagnosis tidak dapat ditentukan hanya dari satu hasil pemeriksaan darah atau satu jenis autoantibodi. Dokter perlu melihat keseluruhan pola penyakit, melakukan pemeriksaan fisik, menilai organ yang terlibat, kemudian memilih pemeriksaan laboratorium yang sesuai. Pemahaman ini penting agar penyakit autoimun dapat dikenali tanpa terjebak pada pemeriksaan yang terlalu luas dan interpretasi hasil laboratorium yang keliru.

Tubuh anak memiliki sistem pertahanan yang sangat kompleks. Setiap hari sistem imun mengenali berbagai benda asing dan menentukan mana yang harus dilawan dan mana yang merupakan bagian normal dari tubuh. Kemampuan membedakan “milik sendiri” dan “bukan milik sendiri” disebut toleransi imun.

Pada penyakit autoimun, mekanisme tersebut mengalami gangguan. Sistem imun dapat mengenali komponen tubuh sendiri sebagai sasaran. Akibatnya muncul peradangan yang dapat berlangsung lama dan merusak jaringan.

Penyakit autoimun pada anak tidak selalu terlihat dramatis sejak awal. Seorang anak mungkin hanya mengalami demam berulang, nyeri sendi, mudah lelah, ruam, atau berat badan yang sulit bertambah. Karena gejalanya tidak khas, penyakit autoimun sering perlu dibedakan dari infeksi, penyakit darah, gangguan metabolik, penyakit autoinflamasi, atau kondisi lainnya.

PATOFISIOLOGI IMUN

  • Mengapa sistem imun bisa menyerang tubuh sendiri?
    • Sistem imun memiliki beberapa mekanisme pengaman. Saat limfosit berkembang, sel yang terlalu kuat mengenali jaringan tubuh sendiri biasanya dieliminasi atau dikendalikan. Proses ini disebut toleransi sentral.
    • Masih ada sel autoreaktif yang dapat lolos. Tubuh kemudian memiliki mekanisme pengendalian kedua yang disebut toleransi perifer. Regulatory T cells, sinyal penghambat imun, dan mekanisme lainnya membantu menjaga agar sel tersebut tetap terkendali.
  • Pada autoimunitas, keseimbangan ini dapat terganggu.
    • Sel T dapat menjadi aktif terhadap antigen tubuh sendiri. Sel B kemudian dapat menghasilkan autoantibodi. Pada penyakit tertentu, autoantibodi membentuk kompleks imun yang mengaktifkan komplemen dan memicu inflamasi.
    • Sel imun dan sitokin juga dapat mempertahankan proses peradangan. Akibatnya, kerusakan jaringan dapat terjadi pada organ yang berbeda, tergantung penyakitnya.
  • Mengapa gangguan ini terjadi?
    • Tidak ada satu penyebab yang berlaku untuk semua penyakit autoimun. Faktor genetik dapat meningkatkan kerentanan. Faktor lingkungan, infeksi tertentu, perubahan regulasi imun, hormon, dan faktor lainnya dapat berperan pada individu yang memiliki predisposisi.
    • Namun, adanya faktor risiko tidak berarti seorang anak pasti mengalami penyakit autoimun.

TANDA DAN GEJALA

Penyakit autoimun dapat muncul dengan wajah yang berbeda pada setiap anak.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan adalah:

  • • Demam berkepanjangan atau berulang tanpa penyebab infeksi yang jelas.
  • • Nyeri atau pembengkakan sendi.
  • • Kaku sendi, terutama setelah bangun tidur.
  • • Ruam kulit yang menetap atau berulang.
  • • Ruam yang memburuk setelah paparan sinar matahari pada kondisi tertentu.
  • • Sariawan berulang.
  • • Rambut rontok yang tidak biasa.
  • • Kelemahan otot, misalnya anak sulit naik tangga, berlari, atau mengangkat kedua lengan.
  • • Mata merah atau nyeri yang berulang.
  • • Berat badan sulit naik atau pertumbuhan terganggu.
  • • Pembengkakan kelopak mata atau tungkai.
  • • Urin berbusa atau terdapat darah dalam urin.
  • • Nyeri perut atau diare kronis pada penyakit autoimun tertentu.

Satu gejala saja biasanya belum cukup untuk mengatakan bahwa seorang anak mengalami autoimun.

Yang lebih penting adalah pola. Misalnya, anak mengalami demam berulang disertai artritis, ruam, kelainan darah, dan kelainan urin. Kombinasi seperti ini memberikan alasan yang lebih kuat untuk melakukan evaluasi penyakit sistemik dibandingkan satu gejala yang berdiri sendiri.

DIAGNOSIS

  • Diagnosis autoimun bukanlah diagnosis berdasarkan “satu angka”.
  • Dokter memulai dengan pertanyaan sederhana. Apa gejalanya? Berapa lama berlangsung? Apakah terjadi berulang? Organ apa yang terkena? Apakah terdapat tanda peradangan? Apakah ada penurunan berat badan atau gangguan pertumbuhan?
  • Setelah itu pemeriksaan laboratorium dipilih berdasarkan dugaan klinis.
  • Pemeriksaan dasar dapat meliputi darah lengkap, LED atau ESR, CRP, fungsi hati, fungsi ginjal, dan urinalisis.
  • Pemeriksaan autoantibodi diberikan bila terdapat alasan klinis yang mendukung.

ANA

  • ANA atau antinuclear antibody merupakan salah satu pemeriksaan yang sering dibicarakan dalam penyakit autoimun anak. ANA dapat membantu evaluasi penyakit jaringan ikat tertentu, terutama bila gejalanya mendukung.
  • Namun, ANA positif tidak sama dengan diagnosis autoimun.
  • ANA dapat ditemukan pada sebagian anak tanpa penyakit autoimun. Karena itu, pemeriksaan ANA tanpa indikasi klinis dapat menghasilkan kebingungan.

AUTOANTIBODI LAIN

Pemeriksaan yang lebih spesifik dapat dipilih sesuai penyakit yang dicurigai.

  • Pada dugaan systemic lupus erythematosus, dokter dapat mempertimbangkan anti-dsDNA, anti-Sm, C3, C4, pemeriksaan darah, urinalisis, dan fungsi ginjal.
  • Pada artritis, pemeriksaan ANA, rheumatoid factor, atau anti-CCP dapat digunakan dalam konteks tertentu.
  • Pada dugaan vaskulitis, ANCA dapat dipertimbangkan bersama pemeriksaan organ yang sesuai.
  • Pada penyakit tiroid autoimun, TSH, free T4, anti-TPO, dan antibodi terhadap thyroglobulin dapat membantu evaluasi.
  • Pada dugaan penyakit celiac, pemeriksaan anti-tTG IgA dan total IgA menjadi bagian penting dari evaluasi.

TABEL PENDEKATAN KLINIS

Kelompok penyakit Organ atau sistem utama Tanda dan gejala yang perlu diperhatikan Pemeriksaan yang dapat membantu
SLE anak Multisistem Demam, mudah lelah, ruam, fotosensitivitas, sariawan, artritis, kelainan darah, urin abnormal ANA, anti-dsDNA, anti-Sm, C3/C4, darah lengkap, urinalisis, fungsi ginjal
Artritis idiopatik juvenil Sendi Sendi bengkak, nyeri, kaku pagi hari, keterbatasan gerak ESR/CRP, ANA, RF, anti-CCP sesuai indikasi
Dermatomiositis juvenil Otot dan kulit Kelemahan otot, sulit naik tangga, sulit mengangkat tangan, ruam khas CK, aldolase, AST/ALT, antibodi spesifik, MRI otot
Vaskulitis Pembuluh darah dan berbagai organ Demam, ruam, nyeri sendi, nyeri perut, gangguan ginjal, hipertensi Darah lengkap, ESR/CRP, urinalisis, fungsi ginjal, ANCA pada indikasi
Tiroiditis autoimun Kelenjar tiroid Gangguan pertumbuhan, mudah lelah, perubahan berat badan, intoleransi dingin atau panas TSH, free T4, anti-TPO, anti-thyroglobulin
Penyakit celiac Usus dan sistem imun Diare kronis, kembung, nyeri perut, anemia, berat badan sulit naik, gangguan pertumbuhan Anti-tTG IgA, total IgA, pemeriksaan lanjutan sesuai pedoman
Hepatitis autoimun Hati Mudah lelah, nyeri perut, kuning, urin gelap, atau tanpa gejala AST, ALT, bilirubin, IgG, ANA, SMA, pemeriksaan hati lanjutan
Penyakit inflamasi usus Saluran cerna Diare kronis, darah pada tinja, nyeri perut, berat badan sulit naik Darah lengkap, CRP/ESR, pemeriksaan tinja, endoskopi sesuai indikasi
Uveitis terkait penyakit autoimun Mata Mata merah, nyeri, silau, penglihatan menurun, kadang tanpa keluhan Pemeriksaan dokter mata dengan slit lamp
Skleroderma juvenil Kulit dan jaringan ikat Kulit mengeras atau menebal, perubahan warna jari, nyeri sendi, gangguan organ tertentu ANA, antibodi spesifik, evaluasi organ sesuai gejala

Tabel penting untuk membaca hasil pemeriksaan:

Temuan Apa artinya? Apa yang tidak boleh disimpulkan?
ANA positif Dapat mendukung evaluasi penyakit jaringan ikat tertentu bila gejalanya sesuai Tidak otomatis berarti anak mengalami penyakit autoimun
ANA negatif Mengurangi kemungkinan beberapa penyakit tertentu Tidak menyingkirkan seluruh penyakit autoimun
Anti-dsDNA positif Dapat mendukung SLE dalam konteks klinis yang sesuai Tidak boleh berdiri sendiri sebagai diagnosis
CRP atau ESR meningkat Menunjukkan adanya proses inflamasi Tidak membedakan secara otomatis infeksi dan autoimun
Leukopenia atau anemia Dapat ditemukan pada penyakit autoimun tertentu Tidak spesifik untuk autoimun
Protein atau darah dalam urin Dapat menunjukkan keterlibatan ginjal Tidak otomatis berarti nefritis autoimun
CK meningkat Menunjukkan kerusakan atau stres otot Tidak otomatis berarti dermatomiositis
Anti-TPO positif Mendukung autoimunitas tiroid dalam konteks fungsi tiroid Tidak selalu berarti anak mengalami gangguan fungsi tiroid

Prinsip utamanya: diagnosis autoimun pada anak harus menggabungkan gejala, pemeriksaan fisik, perjalanan penyakit, pemeriksaan laboratorium, autoantibodi, dan bukti keterlibatan organ.

AUTOIMUN ATAU BUKAN?

Ini bagian yang sering menimbulkan masalah.

  • Demam berulang tidak otomatis berarti autoimun.
  • Nyeri sendi tidak otomatis berarti artritis autoimun.
  • ANA positif tidak otomatis berarti lupus.
  • CRP tinggi juga tidak otomatis berarti penyakit autoimun.

Infeksi dapat memberikan gambaran yang mirip. Penyakit darah, keganasan, penyakit metabolik, gangguan endokrin, imunodefisiensi, dan penyakit autoinflamasi juga dapat menghasilkan gejala serupa.

Karena itu, dokter perlu menentukan probabilitas klinis sebelum memilih pemeriksaan.

KESALAHAN YANG SERING TERJADI

  • Pemeriksaan autoimun yang terlalu luas dapat menghasilkan banyak temuan yang sebenarnya tidak bermakna.
  • Misalnya, seorang anak memiliki keluhan yang tidak spesifik kemudian dilakukan berbagai pemeriksaan antibodi. Salah satu hasil ternyata positif. Hasil tersebut kemudian dianggap sebagai penyebab semua keluhan.
  • Cara berpikir seperti ini dapat menyesatkan.
  • Pertanyaan yang lebih tepat adalah: apakah hasil laboratorium tersebut sesuai dengan pola penyakit anak?
  • Diagnosis harus bergerak dari gejala menuju hipotesis, kemudian menuju pemeriksaan yang tepat.

BUKAN SEKADAR MENCARI ANTIBODI

  • Autoimunitas merupakan proses biologis yang kompleks. Autoantibodi merupakan salah satu bagian dari proses tersebut, bukan seluruh penyakit.
  • Pada beberapa penyakit, autoantibodi sangat membantu diagnosis. Pada penyakit lain, diagnosis lebih banyak bertumpu pada gambaran klinis.
  • Karena itu, dokter anak perlu menilai anak secara utuh. Riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pertumbuhan, hasil laboratorium, fungsi organ, dan perjalanan penyakit harus dibaca sebagai satu kesatuan.

KESIMPULAN

  • Penyakit autoimun pada anak muncul ketika sistem imun kehilangan toleransi terhadap jaringan tubuh sendiri. Proses tersebut dapat melibatkan sel T, sel B, autoantibodi, komplemen, sitokin, dan berbagai mekanisme inflamasi.
  • Gejalanya sangat beragam dan sering menyerupai penyakit lain. Diagnosis karena itu tidak cukup dengan satu pemeriksaan darah. ANA atau autoantibodi lain harus ditafsirkan berdasarkan gambaran klinis.
  • Prinsip yang penting bagi orang tua sederhana. Jangan mengejar diagnosis hanya berdasarkan hasil antibodi. Kenali pola gejala anak. Nilai organ yang terkena. Gunakan pemeriksaan yang sesuai dengan dugaan klinis. Dengan pendekatan tersebut, dokter dapat mencari penyakit autoimun secara lebih terarah sekaligus mengurangi risiko overdiagnosis.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *