Pertanyaan:
Anak saya sering mengalami muntah, diare, perut kembung, nyeri perut, atau sembelit setelah makan makanan tertentu. Kadang keluhan muncul beberapa menit setelah makan, tetapi kadang baru muncul beberapa jam bahkan keesokan harinya. Saya juga khawatir karena anak sering sulit makan, berat badannya sulit naik, dan beberapa kali mengalami batuk pilek berulang. Bagaimana cara membedakan apakah keluhan tersebut disebabkan oleh alergi makanan, intoleransi makanan, atau infeksi saluran cerna? Pemeriksaan apa yang diperlukan, dan bagaimana penanganan yang tepat agar anak tidak salah diagnosis maupun salah pengobatan?
Jawaban:
Alergi makanan, intoleransi makanan, dan infeksi saluran cerna merupakan tiga kondisi yang sering menimbulkan gejala yang hampir sama, tetapi penyebab, mekanisme, serta penanganannya sangat berbeda. Ketiganya dapat menyebabkan muntah, diare, nyeri perut, kembung, sembelit, atau penurunan nafsu makan sehingga sering sulit dibedakan hanya berdasarkan gejala. Alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap protein makanan tertentu. Intoleransi makanan terjadi karena gangguan pencernaan atau metabolisme makanan tanpa melibatkan sistem imun. Sementara itu, infeksi saluran cerna disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang menyerang saluran pencernaan.
Alergi makanan dapat menimbulkan gejala dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi makanan pemicu. Pada alergi non-IgE, gejala bahkan dapat muncul beberapa jam hingga beberapa hari kemudian sehingga hubungan dengan makanan sering tidak disadari. Selain muntah, diare, nyeri perut, refluks, sembelit, atau darah pada tinja, anak juga dapat mengalami eksim, biduran, bengkak pada bibir, pilek berulang, batuk kronis, mengi, gangguan tidur, sulit makan, dan berat badan sulit naik. Pada sebagian anak, peradangan kronis pada saluran cerna akibat alergi dapat mengganggu fungsi sawar usus dan penyerapan nutrisi. Kondisi ini dapat menyebabkan daya tahan tubuh mukosa menjadi kurang optimal sehingga anak lebih rentan mengalami infeksi saluran napas berulang dibandingkan anak tanpa peradangan saluran cerna.
Intoleransi makanan tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh. Penyebab tersering adalah kekurangan enzim, misalnya intoleransi laktosa akibat kekurangan enzim laktase. Gejala biasanya berupa perut kembung, banyak gas, diare, nyeri perut, atau rasa tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan tertentu. Keluhan umumnya bergantung pada jumlah makanan yang dikonsumsi. Semakin banyak makanan tersebut dikonsumsi, semakin berat gejalanya. Intoleransi makanan hampir tidak pernah menyebabkan biduran, pembengkakan, sesak napas, ataupun reaksi alergi berat. Gangguan ini juga tidak menyebabkan peradangan alergi kronis seperti yang terjadi pada alergi makanan.
Infeksi saluran cerna biasanya muncul secara mendadak dan sering disertai demam, muntah, diare cair, lemas, serta penurunan nafsu makan. Penyebab tersering pada anak adalah virus, sedangkan bakteri dan parasit lebih jarang. Riwayat anggota keluarga yang mengalami diare, konsumsi makanan yang kurang higienis, atau kontak dengan penderita lain dapat membantu mengarahkan diagnosis. Sebagian besar infeksi virus akan sembuh sendiri dalam beberapa hari dengan pemberian cairan yang cukup dan nutrisi yang adekuat. Antibiotik hanya diberikan bila terdapat dugaan kuat atau bukti infeksi bakteri tertentu, karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat justru dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus.
Membedakan ketiga kondisi tersebut memerlukan riwayat penyakit yang rinci, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Tes IgE spesifik atau uji tusuk kulit dapat membantu pada alergi makanan yang diperantarai IgE, tetapi hasilnya harus selalu dikaitkan dengan gejala klinis karena hasil positif tidak selalu berarti anak benar-benar alergi. Pada alergi non-IgE, kedua pemeriksaan tersebut sering memberikan hasil normal. Pemeriksaan IgG makanan tidak direkomendasikan untuk mendiagnosis alergi makanan karena tidak memiliki akurasi yang memadai. Untuk intoleransi laktosa dapat dipertimbangkan uji napas hidrogen atau eliminasi laktosa sesuai indikasi. Bila dicurigai infeksi, dokter dapat melakukan pemeriksaan darah atau tinja sesuai kebutuhan. Uji provokasi makanan oral yang dilakukan secara terkontrol tetap merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan.
Penanganan harus disesuaikan dengan penyebabnya. Pada alergi makanan, makanan pemicu yang telah terbukti harus dihindari sambil tetap menjaga kecukupan gizi agar pertumbuhan anak tidak terganggu. Pada intoleransi makanan, biasanya cukup dengan mengurangi jumlah makanan pemicu atau memberikan enzim pengganti pada kondisi tertentu. Pada infeksi saluran cerna, terapi utama adalah mencegah dehidrasi dan memberikan pengobatan sesuai penyebabnya. Orang tua sebaiknya tidak menghilangkan banyak jenis makanan hanya berdasarkan dugaan atau hasil pemeriksaan yang belum terbukti akurat, karena pembatasan makanan yang tidak perlu dapat menyebabkan kekurangan gizi, gangguan pertumbuhan, dan overdiagnosis alergi makanan. Bila keluhan berlangsung berulang, berat badan sulit naik, terdapat darah pada tinja, muntah terus-menerus, atau gejala tidak membaik, anak perlu dievaluasi oleh dokter agar diagnosis dan penanganan dapat dilakukan secara tepat.











Leave a Reply