Deteksi Dini Pertumbuhan, Perkembangan, dan Perilaku Anak

Deteksi Dini Pertumbuhan, Perkembangan, dan Perilaku Anak

Kenali Lebih Awal, Bantu Anak Tumbuh Optimal, Setiap Anak Berhak Mendapat Kesempatan Terbaik

Widodo Judarwanto, Sandiaz Yudhasmara

Banyak orang tua baru menyadari adanya masalah tumbuh kembang ketika anak mulai masuk sekolah. Misalnya, anak belum lancar berbicara, sulit berkonsentrasi, tidak mau bermain dengan teman, atau gurunya mengatakan anak terlalu aktif dibandingkan teman seusianya. Padahal, sebagian besar gangguan perkembangan sebenarnya sudah mulai tampak sejak usia bayi atau balita. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang anak berkembang lebih baik.

Lima tahun pertama kehidupan merupakan masa yang sangat menentukan bagi masa depan seorang anak. Pada periode ini, otak berkembang sangat cepat. Para ahli memperkirakan lebih dari satu juta hubungan antarsel saraf terbentuk setiap detik. Masa ini sering disebut sebagai masa emas atau golden period karena otak sangat mudah belajar, membentuk kemampuan baru, dan memperbaiki berbagai gangguan apabila ditangani sejak dini.

Sayangnya, berbagai penelitian menunjukkan sekitar 15 sampai 20 persen anak mengalami gangguan perkembangan, sedangkan 12 sampai 18 persen mengalami gangguan perilaku atau emosi. Yang lebih memprihatinkan, lebih dari 70 persen kasus baru diketahui setelah anak memasuki usia sekolah. Akibatnya, kesempatan memperoleh terapi pada masa ketika otak sedang berkembang paling pesat menjadi terlewatkan.

Karena itu, American Academy of Pediatrics (AAP), World Health Organization (WHO), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan agar setiap anak dipantau tumbuh kembangnya secara rutin sejak lahir. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan ketika anak sakit, tetapi juga saat kontrol kesehatan, imunisasi, atau pemantauan pertumbuhan. Bila ditemukan keterlambatan sekecil apa pun, anak sebaiknya segera menjalani pemeriksaan lebih lanjut agar dapat memperoleh penanganan sedini mungkin.


Mengapa Deteksi Dini Sangat Penting?

Bayangkan membangun sebuah rumah. Jika fondasi diperbaiki sejak awal, bangunan akan lebih kuat. Sebaliknya, bila kerusakan baru diketahui setelah rumah selesai dibangun, perbaikannya akan jauh lebih sulit. Hal yang sama terjadi pada perkembangan otak anak.

Sejak dalam kandungan hingga usia lima tahun, otak berkembang lebih cepat dibandingkan periode kehidupan lainnya. Pada masa inilah anak belajar mengenal suara, melihat wajah orang tua, berbicara, berjalan, bermain, berpikir, dan mengendalikan emosi. Setiap pelukan, ajakan berbicara, makanan bergizi, permainan, hingga tidur yang cukup ikut membentuk jutaan hubungan antarsel saraf yang akan digunakan sepanjang hidup.

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan terapi sebelum usia tiga tahun memiliki peluang lebih besar untuk mengejar keterlambatan bicara, kemampuan belajar, keterampilan sosial, dan perkembangan motorik dibandingkan anak yang baru mendapatkan terapi setelah usia lima tahun. Ekonom peraih Nobel James Heckman bahkan menunjukkan bahwa investasi terbesar dalam kehidupan seorang anak adalah intervensi pada usia dini karena manfaatnya bertahan hingga dewasa.

Tabel 1. Semakin Cepat Ditangani, Semakin Baik Hasilnya

Usia saat mulai intervensi Peluang perbaikan
Kurang dari 2 tahun Sangat besar
2 sampai 3 tahun Sangat baik
3 sampai 5 tahun Masih baik
Lebih dari 5 tahun Masih bermanfaat, tetapi biasanya membutuhkan terapi lebih lama

Pertumbuhan dan Perkembangan Tidak Sama

Masih banyak orang tua yang merasa tenang karena berat badan anak terus naik. Padahal, berat badan yang baik belum tentu berarti perkembangan anak juga berjalan sesuai usianya.

Pertumbuhan menggambarkan bertambahnya ukuran tubuh, seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan massa otot. Sementara itu, perkembangan menunjukkan bagaimana otak dan sistem saraf bekerja. Perkembangan terlihat dari kemampuan anak tengkurap, duduk, berjalan, berbicara, bermain, belajar, berinteraksi, hingga mengendalikan emosi.

Sebagai contoh, ada anak yang berat badannya normal tetapi pada usia dua tahun belum bisa mengucapkan dua kata sederhana atau tidak menoleh ketika dipanggil. Sebaliknya, ada anak dengan berat badan sedikit di bawah rata-rata tetapi mampu berbicara, bermain, dan belajar sesuai usianya. Karena itu, setiap anak perlu dipantau pertumbuhan sekaligus perkembangannya.

Tabel 2. Apa Bedanya Pertumbuhan dan Perkembangan?

Pertumbuhan Perkembangan
Berat badan Kemampuan bergerak
Tinggi badan Kemampuan berbicara
Lingkar kepala Kemampuan belajar
Status gizi Kemampuan berinteraksi
Massa tubuh Kemampuan mengendalikan emosi

Jangan Hanya Menimbang Berat Badan

  • Setiap kali datang ke posyandu atau dokter, orang tua biasanya bertanya, “Berat badannya naik, Dok?” Pertanyaan ini memang penting, tetapi belum cukup.
  • Dokter juga akan mengukur tinggi badan, lingkar kepala, dan menilai apakah pertumbuhan tersebut sesuai dengan kurva WHO. Anak yang pendek belum tentu hanya karena faktor keturunan. Anak yang gemuk juga belum tentu sehat karena obesitas dapat mengganggu perkembangan motorik dan meningkatkan risiko penyakit di kemudian hari.
  • Karena itu, semua ukuran pertumbuhan harus dinilai bersama, bukan hanya berat badan.

Perkembangan Anak Harus Dipantau Secara Rutin

  • Banyak gangguan perkembangan tidak langsung terlihat. Pada usia satu tahun, anak mungkin tampak sehat, tetapi ternyata belum mampu menunjuk benda yang diinginkan atau belum merespons ketika namanya dipanggil.
  • Karena itu, dokter tidak hanya mengamati anak, tetapi juga menanyakan berbagai hal kepada orang tua, seperti apakah anak sudah bisa duduk, berjalan, berbicara, bermain dengan orang lain, atau mengikuti perintah sederhana.
  • AAP menganjurkan agar perkembangan anak dipantau pada setiap kunjungan kesehatan. Selain itu, skrining perkembangan dilakukan secara rutin pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 24 atau 30 bulan. Skrining autisme dilakukan minimal pada usia 18 bulan dan 24 bulan meskipun anak tampak sehat.

Kapan Orang Tua Perlu Waspada?

Segera konsultasikan ke dokter bila anak menunjukkan salah satu tanda berikut.

  • • Belum bisa duduk, berjalan, atau berbicara sesuai usianya.
  • • Tidak menoleh saat dipanggil.
  • • Tidak ada kontak mata.
  • • Sering tantrum berlebihan.
  • • Sangat aktif dan sulit berkonsentrasi.
  • • Kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki.
  • • Sulit makan atau berat badan tidak naik.
  • • Sulit tidur hampir setiap malam.
  • • Guru mengeluhkan perilaku anak di sekolah.

Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin besar peluang anak berkembang secara optimal.


Pemeriksaan Tidak Selalu Berarti Anak Mengalami Gangguan

  • Banyak orang tua takut membawa anak untuk pemeriksaan karena khawatir mendapat diagnosis tertentu. Padahal, tujuan utama skrining adalah memastikan perkembangan anak berjalan sesuai usianya.
  • Bila hasil pemeriksaan normal, orang tua akan merasa lebih tenang. Bila ditemukan keterlambatan, penanganan dapat segera dimulai sebelum masalah menjadi lebih berat. Sebagian besar anak yang menjalani skrining ternyata berkembang normal, sedangkan anak yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh terapi lebih cepat.

Peran Orang Tua Sangat Besar

  • Tidak ada orang yang lebih mengenal anak selain orang tuanya. Bila Ayah atau Ibu merasa ada sesuatu yang berbeda, misalnya anak terlambat berbicara, sulit berinteraksi, sering tantrum, atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki, jangan menunggu sampai anak masuk sekolah.
  • Datanglah untuk berkonsultasi. Deteksi dini bukan bertujuan memberi label kepada anak, melainkan memberikan kesempatan agar anak memperoleh bantuan pada waktu yang paling tepat. Dengan pemantauan yang rutin, stimulasi yang sesuai, dan intervensi sejak dini bila diperlukan, setiap anak memiliki peluang yang lebih besar untuk tumbuh sehat, belajar dengan baik, dan mencapai potensi terbaiknya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *