Temper Tantrum pada Anak. Kapan Masih Normal, Kapan Orang Tua Perlu Waspada?

Temper Tantrum pada Anak. Kapan Masih Normal, Kapan Orang Tua Perlu Waspada?

Widodo Judarwanto, Sandiaz Yudhasmara

Hampir semua orang tua pernah menghadapi anak yang tiba-tiba menangis keras, berguling di lantai, berteriak, melempar mainan, atau menolak diajak pulang dari taman bermain. Kondisi ini dikenal sebagai temper tantrum. Pada sebagian besar anak usia 1 hingga 4 tahun, tantrum merupakan bagian normal dari proses belajar mengendalikan emosi. Namun, tantrum yang terlalu sering, berlangsung lama, disertai perilaku menyakiti diri sendiri atau orang lain, atau tetap berlanjut setelah usia sekolah dapat menjadi tanda adanya masalah yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. Penyebabnya tidak hanya berkaitan dengan pola asuh, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kurang tidur, rasa lapar, gangguan perkembangan, hingga penyakit yang menyebabkan anak merasa tidak nyaman, seperti konstipasi, refluks, atau alergi makanan. Artikel ini membahas penyebab, tanda bahaya, dan cara menghadapi temper tantrum berdasarkan rekomendasi ilmiah dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang tua.

Banyak orang tua merasa panik ketika anak tiba-tiba menangis keras di pusat perbelanjaan karena tidak dibelikan mainan. Ada juga anak yang berguling di lantai saat diminta berhenti bermain, memukul orang tua ketika keinginannya tidak dituruti, atau melempar makanan saat jam makan. Situasi seperti ini sering membuat orang tua bingung. Sebagian menganggap anak terlalu manja, sementara yang lain khawatir anak mengalami gangguan perilaku.

Sebenarnya, temper tantrum merupakan bagian dari perkembangan yang normal. Anak usia balita belum mampu mengendalikan emosi sebaik orang dewasa. Mereka sudah memiliki banyak keinginan, tetapi belum mampu menjelaskan apa yang dirasakan atau diinginkan dengan kata-kata. Akibatnya, rasa kecewa, marah, lapar, lelah, atau tidak nyaman sering diekspresikan melalui tangisan dan ledakan emosi. Yang perlu dipahami orang tua adalah tidak semua tantrum memerlukan pengobatan. Namun, ada beberapa kondisi yang menjadi tanda bahwa anak perlu diperiksa lebih lanjut.

Apa Itu Temper Tantrum?

  • Temper tantrum adalah ledakan emosi yang terjadi ketika anak merasa kecewa, marah, lelah, takut, atau keinginannya tidak terpenuhi. Bentuknya dapat berupa menangis keras, berteriak, memukul, menendang, menggigit, melempar barang, menolak bergerak, hingga berguling di lantai.
  • Bayangkan seorang anak berusia dua tahun yang sedang asyik bermain di taman. Ketika orang tuanya mengajak pulang karena hari mulai sore, anak langsung menangis, memeluk ayunan, lalu berguling di tanah. Contoh lain adalah anak yang menangis sambil melempar sendok karena ingin terus bermain, padahal sudah waktunya makan. Perilaku seperti ini sering membuat orang tua malu atau merasa gagal mendidik anak. Padahal, pada usia tersebut, reaksi seperti itu masih sering dijumpai.

Mengapa Anak Mengalami Tantrum?

  • Otak anak balita masih dalam tahap berkembang. Bagian otak yang berfungsi mengendalikan emosi, menunggu giliran, dan mengontrol kemarahan belum bekerja sebaik pada anak yang lebih besar atau orang dewasa. Karena itu, ketika anak merasa kecewa, respons emosinya dapat muncul secara berlebihan.
  • Selain perkembangan otak, ada banyak hal yang dapat memicu tantrum. Anak lebih mudah marah ketika lapar, mengantuk, terlalu lelah setelah bepergian, sedang demam, atau berada di tempat yang terlalu ramai. Anak juga dapat menjadi lebih sensitif bila mengalami sembelit, nyeri perut, refluks lambung, hidung tersumbat karena alergi, atau gatal akibat eksim sehingga tidurnya terganggu. Dalam kondisi tersebut, anak sebenarnya sedang merasa tidak nyaman, tetapi belum mampu menjelaskan keluhannya.

Tabel 1. Penyebab Temper Tantrum yang Sering Ditemukan

Penyebab Contoh dalam kehidupan sehari-hari
Lapar Anak belum sempat makan lalu diajak berbelanja
Mengantuk Bermain hingga malam dan menolak pulang
Kelelahan Seharian bepergian lalu rewel di perjalanan pulang
Keinginan tidak terpenuhi Tidak dibelikan mainan atau permen
Sulit berkomunikasi Ingin sesuatu tetapi belum bisa mengatakannya
Perubahan rutinitas Pindah rumah, masuk sekolah, atau bepergian jauh
Gangguan tidur Sering terbangun malam sehingga mudah marah pada siang hari
Gangguan pencernaan Sembelit, refluks, nyeri perut, atau sering kembung
Alergi makanan Anak tampak tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan tertentu

Kapan Tantrum Masih Normal?

  • Pada sebagian besar anak, tantrum merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Biasanya muncul pada usia 1 hingga 4 tahun, terjadi ketika anak kecewa, dan akan berhenti setelah beberapa menit.
  • Misalnya, anak menangis karena es krimnya jatuh. Setelah dipeluk atau dialihkan dengan aktivitas lain, anak kembali bermain seperti biasa. Kejadian seperti ini umumnya tidak perlu dikhawatirkan.

Tabel 2. Perbedaan Tantrum Normal dan Tantrum yang Perlu Diwaspadai

Tantrum masih normal Tantrum yang perlu diperiksa
Terjadi pada usia 1 hingga 4 tahun Masih sering terjadi setelah usia 5 tahun
Berlangsung kurang dari 10 sampai 15 menit Berlangsung lebih dari 20 sampai 30 menit
Ada penyebab yang jelas Terjadi tanpa penyebab yang jelas
Anak cepat tenang Sangat sulit ditenangkan
Tidak melukai diri sendiri Memukul kepala, menggigit diri, atau melukai orang lain
Tidak mengganggu aktivitas sehari-hari Mengganggu sekolah, bermain, dan kehidupan keluarga

Jangan Hanya Menyalahkan Pola Asuh

  • Tidak semua anak yang sering tantrum disebabkan oleh pola asuh yang salah. Pada sebagian anak, penyebabnya justru berasal dari kondisi kesehatan yang belum dikenali.
  • Sebagai contoh, anak yang mengalami sembelit selama beberapa hari dapat menjadi lebih mudah marah karena setiap kali buang air besar terasa nyeri. Anak dengan refluks lambung mungkin sering menangis setelah makan karena dada terasa panas. Anak yang mengalami alergi makanan dapat mengalami nyeri perut, kembung, gangguan tidur, atau eksim yang kambuh sehingga lebih mudah rewel sepanjang hari. Bila penyebab utamanya diatasi, perilaku anak sering kali ikut membaik.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?

  • Saat anak sedang tantrum, orang tua perlu tetap tenang. Berteriak balik atau memukul anak justru membuat ledakan emosi semakin besar. Pastikan anak berada di tempat yang aman, tunggu hingga emosinya mereda, kemudian ajak berbicara ketika anak sudah tenang.
  • Buat jadwal tidur dan makan yang teratur, karena lapar dan kurang tidur merupakan pemicu tantrum yang paling sering. Berikan pujian ketika anak mampu mengendalikan emosinya. Bila anak sering tantrum setelah makan makanan tertentu, mengalami sembelit, muntah berulang, batuk malam, gangguan tidur, atau pertumbuhan kurang baik, konsultasikan ke dokter untuk mencari kemungkinan penyebab medis.

Tabel 3. Cara Menghadapi Anak yang Sedang Tantrum

Yang sebaiknya dilakukan Yang sebaiknya dihindari
Tetap tenang Ikut berteriak
Pastikan anak aman Memukul atau mencubit
Berbicara setelah anak tenang Memaksa anak langsung diam
Berikan aturan yang konsisten Mengubah aturan setiap hari
Berikan pujian saat anak berperilaku baik Hanya memperhatikan saat anak marah
Cari penyebab bila tantrum sering terjadi Menganggap semua tantrum hanya karena anak manja

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?

Segera konsultasikan apabila tantrum terjadi hampir setiap hari, berlangsung lebih dari 20 hingga 30 menit, anak sering melukai diri sendiri atau orang lain, masih sering terjadi setelah usia sekolah, disertai keterlambatan bicara, sulit berinteraksi, gangguan tidur, gangguan makan, atau keluhan pencernaan seperti sembelit, muntah berulang, nyeri perut, diare kronis, maupun tinja berdarah. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah terdapat gangguan perkembangan, gangguan perilaku, atau penyakit medis yang memerlukan penanganan khusus.

Kesimpulan

Temper tantrum merupakan bagian normal dari perkembangan emosi pada sebagian besar anak usia dini. Namun, frekuensi yang sangat sering, durasi yang lama, atau munculnya gejala lain seperti gangguan tidur, gangguan makan, keterlambatan perkembangan, maupun keluhan saluran cerna perlu mendapat perhatian lebih. Orang tua tidak hanya perlu mengajarkan anak mengelola emosi, tetapi juga perlu memastikan bahwa anak tidak sedang mengalami kondisi medis yang menyebabkan rasa tidak nyaman. Pendekatan yang sabar, konsisten, dan disertai evaluasi terhadap penyebab yang mendasari akan memberikan hasil yang lebih baik dalam membantu anak berkembang secara optimal.

Daftar Pustaka

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *