Hubungan Infeksi Saluran Napas Atas Berulang dengan Gangguan THT dan Alergi Makanan pada Anak

Hubungan Infeksi Saluran Napas Atas Berulang dengan Gangguan THT dan Alergi Makanan pada Anak

Infeksi saluran napas atas (ISPA) berulang merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami anak dan menjadi penyebab utama kunjungan ke dokter. Selain dipengaruhi oleh infeksi virus, kejadian ISPA berulang juga berkaitan dengan berbagai gangguan telinga, hidung, dan tenggorok (THT), seperti rhinitis alergi, sinusitis, hipertrofi adenoid, dan otitis media. Pada sebagian anak, alergi makanan juga diduga berperan secara tidak langsung melalui inflamasi kronis, gangguan fungsi sawar mukosa, serta penurunan status gizi yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Artikel ini membahas hubungan ISPA berulang dengan gangguan THT dan alergi makanan berdasarkan Evidence-Based Medicine.

Anak usia dini dapat mengalami 6 hingga 8 episode ISPA setiap tahun, bahkan lebih sering pada anak yang bersekolah atau berada di tempat penitipan. Sebagian besar disebabkan oleh virus dan akan sembuh sendiri. Namun, bila infeksi terjadi berulang, berlangsung lama, atau disertai gangguan pertumbuhan dan gejala alergi, diperlukan evaluasi terhadap faktor predisposisi, termasuk gangguan THT, status gizi, paparan lingkungan, dan penyakit alergi.

Hubungan ISPA Berulang dengan Gangguan THT

  • Peradangan berulang pada mukosa saluran napas menyebabkan gangguan fungsi mukosiliar dan penyumbatan saluran napas atas. Kondisi ini meningkatkan risiko rhinitis alergi yang tidak terkontrol, sinusitis akut maupun kronis, otitis media akut, otitis media dengan efusi, serta pembesaran adenoid yang dapat menimbulkan hidung tersumbat kronis, mendengkur, hingga obstructive sleep apnea. Gangguan THT tersebut juga dapat mempertahankan siklus infeksi sehingga anak mengalami kekambuhan yang lebih sering.

Hubungan ISPA Berulang dengan Alergi Makanan

  • Alergi makanan bukan penyebab langsung ISPA, tetapi pada sebagian anak dapat menjadi faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi berulang. Inflamasi alergi pada saluran cerna dapat memengaruhi fungsi sistem imun, mengganggu integritas sawar mukosa, dan menyebabkan gangguan makan, malabsorpsi, serta defisiensi zat gizi yang berperan dalam pertahanan tubuh. Anak dengan alergi makanan juga sering memiliki penyakit alergi lain, seperti dermatitis atopik, rhinitis alergi, dan asma, yang semakin meningkatkan risiko gangguan saluran napas.
  • Tinjauan pustaka oleh Al-Abri dan kolega menyimpulkan bahwa bukti saat ini menunjukkan adanya hubungan antara alergi makanan dan rhinitis alergi, meskipun alergi makanan belum terbukti sebagai penyebab langsung. Hubungan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh faktor genetik, mekanisme imun, dan lingkungan sehingga masih diperlukan penelitian prospektif berskala besar.
  • Penelitian kohort menunjukkan sekitar 35 hingga 40 persen bayi dengan alergi makanan kemudian mengalami rhinitis alergi saat usia sekolah. Risiko semakin meningkat pada anak yang memiliki lebih dari satu alergi makanan atau disertai dermatitis atopik. Kondisi ini mendukung konsep atopic march, yaitu perjalanan penyakit alergi dari eksim dan alergi makanan pada masa bayi menuju asma dan rhinitis alergi pada usia yang lebih besar.
  • Rhinitis alergi terjadi akibat reaksi sistem kekebalan terhadap alergen yang terhirup, seperti tungau debu rumah, serbuk sari, bulu hewan, atau jamur. Sebaliknya, alergi makanan merupakan reaksi imun terhadap protein makanan tertentu, misalnya susu sapi, telur, kacang tanah, kedelai, atau gandum. Kedua penyakit ini memiliki mekanisme imunologis yang serupa sehingga sering muncul pada anak yang sama.
  • Penelitian Al-Rabia pada 100 pasien rhinitis alergi menemukan bahwa 63% memiliki sensitisasi terhadap alergen makanan. Namun, sensitisasi tidak selalu berarti seseorang benar-benar mengalami alergi makanan. Karena itu, hasil pemeriksaan laboratorium harus selalu disesuaikan dengan riwayat klinis.
  • Penelitian terhadap 435 pasien Asia juga menunjukkan bahwa sensitisasi makanan lebih sering ditemukan pada anak dibandingkan dewasa. Putih telur, susu sapi, dan kedelai merupakan alergen makanan yang paling sering ditemukan pada anak dengan rhinitis alergi. Temuan ini menunjukkan bahwa evaluasi alergi makanan perlu dipertimbangkan bila terdapat riwayat reaksi setelah mengonsumsi makanan tertentu, bukan sebagai pemeriksaan rutin pada semua pasien.

Diagnosis

  • Evaluasi anak dengan ISPA berulang meliputi anamnesis, pemeriksaan THT, penilaian status gizi dan pertumbuhan, identifikasi faktor lingkungan, serta penelusuran penyakit alergi. Pemeriksaan alergi makanan hanya dilakukan bila terdapat riwayat yang konsisten dengan reaksi alergi. Open Oral Food Challenge tetap merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan bila diperlukan.

Penatalaksanaan

  • Penanganan berfokus pada pengobatan infeksi sesuai penyebab, pengendalian penyakit THT yang mendasari, perbaikan status gizi, imunisasi, pengurangan paparan asap rokok dan polusi, serta pengelolaan alergi berdasarkan pedoman berbasis bukti. Eliminasi makanan hanya dilakukan bila alergi makanan telah terkonfirmasi agar tidak menimbulkan kekurangan gizi.

Hubungan ISPA Berulang dengan Gangguan THT dan Alergi Makanan

Faktor Dampak terhadap ISPA Berulang
Rhinitis alergi Sumbatan hidung dan inflamasi kronis meningkatkan kekambuhan
Sinusitis Menjadi sumber inflamasi dan infeksi persisten
Hipertrofi adenoid Menghambat aliran udara dan drainase saluran napas
Otitis media Sering menyertai infeksi saluran napas atas
Alergi makanan Dapat berkontribusi melalui inflamasi kronis dan gangguan nutrisi pada sebagian anak
Gangguan gizi Menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi
Asap rokok dan polusi Meningkatkan inflamasi saluran napas dan risiko infeksi

Hubungan Infeksi Saluran Napas Atas (ISPA) Berulang dengan Gangguan THT dan Alergi Makanan pada Anak

Aspek Keterangan
Definisi ISPA berulang adalah episode infeksi saluran napas atas yang terjadi berulang dalam satu tahun, terutama melibatkan hidung, nasofaring, faring, dan laring. Sebagian besar disebabkan oleh virus, tetapi kekambuhan dapat dipengaruhi oleh penyakit alergi, gangguan THT, status gizi, dan faktor lingkungan.
Penyebab Virus seperti rhinovirus, RSV, influenza, parainfluenza, adenovirus, dan coronavirus merupakan penyebab tersering. Infeksi bakteri sekunder dapat terjadi pada sebagian kasus.
Keluhan utama Batuk berulang, pilek, demam, hidung tersumbat, nyeri tenggorok, bersin, suara serak, mendengkur, penurunan nafsu makan, dan gangguan tidur.
Hubungan dengan gangguan THT ISPA berulang dapat menyebabkan atau memperberat rhinitis alergi, sinusitis, otitis media akut, otitis media dengan efusi, hipertrofi adenoid, tonsilitis, dan obstructive sleep apnea. Sebaliknya, gangguan THT tersebut juga dapat mempertahankan siklus infeksi sehingga kekambuhan semakin sering.
Hubungan dengan alergi makanan Alergi makanan bukan penyebab langsung ISPA berulang, tetapi pada sebagian anak dapat menjadi faktor yang berkontribusi melalui inflamasi kronis, gangguan fungsi sawar mukosa, perubahan respons imun, serta peningkatan risiko penyakit alergi lain seperti rhinitis alergi dan asma.
Hubungan dengan alergi saluran cerna Alergi makanan dapat menyebabkan muntah, diare, refluks, nyeri perut, konstipasi, enteropati, atau gangguan penyerapan nutrisi sehingga status gizi dan fungsi imun menurun, yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi berulang.
Faktor risiko Usia balita, paparan asap rokok, polusi udara, kepadatan hunian, penitipan anak, gizi kurang, defisiensi mikronutrien, imunisasi tidak lengkap, rhinitis alergi, asma, hipertrofi adenoid, penyakit kronis, dan paparan alergen lingkungan.
Diagnosis Berdasarkan frekuensi infeksi, anamnesis, pemeriksaan fisik, evaluasi THT, penilaian pertumbuhan dan status gizi, serta identifikasi faktor risiko. Evaluasi alergi makanan dilakukan bila terdapat riwayat reaksi yang konsisten atau infeksi berulang disertai manifestasi alergi.
Penatalaksanaan Terapi infeksi sesuai penyebab, tata laksana gangguan THT, nutrisi yang adekuat, imunisasi, irigasi saline, pengendalian faktor lingkungan, dan pengobatan penyakit alergi. Eliminasi makanan hanya dilakukan bila alergi makanan telah terkonfirmasi melalui evaluasi yang tepat, termasuk Open Oral Food Challenge bila diindikasikan.
Pencegahan Pemberian ASI, imunisasi lengkap, nutrisi seimbang, tidur yang cukup, aktivitas fisik, kebersihan tangan, menghindari asap rokok dan polusi, pengendalian alergi, serta deteksi dini gangguan THT dan gangguan gizi.
Kapan harus ke dokter ISPA terjadi sangat sering atau berkepanjangan, demam tinggi lebih dari tiga hari, sesak napas, nyeri telinga hebat, keluar cairan dari telinga, mendengkur disertai henti napas saat tidur, gangguan pertumbuhan, berat badan sulit naik, gangguan makan, atau terdapat dugaan alergi makanan maupun gangguan sistem imun.

Dampak dan Komplikasi Infeksi Saluran Napas Atas (ISPA) Berulang terhadap Gangguan THT pada Bayi, Anak, dan Remaja

Gangguan THT Mekanisme Dampak Klinis Komplikasi
Rhinitis kronis atau rhinitis alergi Inflamasi mukosa hidung berulang menyebabkan pembengkakan dan gangguan fungsi mukosiliar Hidung tersumbat, bersin, pilek kronis, gangguan penciuman Sinusitis kronis, gangguan tidur, penurunan kualitas hidup
Sinusitis akut dan kronis Sumbatan ostium sinus akibat edema mukosa menyebabkan retensi sekret Nyeri wajah, batuk kronis, sekret hidung kental, demam Sinusitis kronis, selulitis orbita, abses, komplikasi intrakranial meskipun jarang
Otitis media akut Disfungsi tuba Eustachius memudahkan infeksi telinga tengah Nyeri telinga, demam, rewel, otore Perforasi membran timpani, mastoiditis, gangguan pendengaran
Otitis media dengan efusi Cairan menetap di telinga tengah setelah inflamasi Pendengaran menurun, rasa penuh pada telinga Keterlambatan bicara, gangguan bahasa, penurunan prestasi belajar
Hipertrofi adenoid Inflamasi kronis menyebabkan pembesaran jaringan adenoid Hidung tersumbat, napas melalui mulut, mendengkur Obstructive sleep apnea, gangguan pertumbuhan wajah, infeksi berulang
Tonsilitis kronis Infeksi dan inflamasi berulang pada tonsil Nyeri tenggorok berulang, bau mulut, sulit menelan Abses peritonsil, gangguan makan, sleep-disordered breathing
Obstructive sleep apnea Obstruksi jalan napas akibat hipertrofi adenoid atau tonsil Mendengkur, henti napas saat tidur, tidur gelisah Gangguan perilaku, gangguan konsentrasi, gangguan pertumbuhan, hipertensi pulmonal pada kasus berat
Disfungsi tuba Eustachius Inflamasi nasofaring mengganggu ventilasi telinga tengah Telinga terasa penuh, pendengaran menurun Otitis media berulang dan efusi kronis
Gangguan pendengaran konduktif Otitis media berulang atau efusi menghambat hantaran suara Kesulitan mendengar, keterlambatan bicara Gangguan perkembangan bahasa, prestasi akademik menurun
Gangguan penciuman Inflamasi kronis hidung dan sinus Penurunan kemampuan mencium bau Nafsu makan menurun dan penurunan kualitas hidup
Gangguan makan Hidung tersumbat, nyeri menelan, dan gangguan penciuman mengurangi asupan makanan Sulit makan, pilih-pilih makanan, berat badan sulit naik Malnutrisi dan gagal tumbuh
Gangguan tumbuh kembang Infeksi berulang meningkatkan kebutuhan energi dan menurunkan asupan nutrisi Berat badan dan tinggi badan tidak optimal Gangguan pertumbuhan linear dan perkembangan anak
Penurunan kualitas hidup Gejala berulang mengganggu aktivitas sehari-hari Absen sekolah, aktivitas fisik berkurang, gangguan tidur Beban psikososial pada anak dan keluarga serta peningkatan biaya kesehatan

Kesimpulan

ISPA berulang pada anak merupakan kondisi multifaktorial yang tidak hanya dipengaruhi oleh infeksi virus, tetapi juga oleh gangguan THT, penyakit alergi, status gizi, dan faktor lingkungan. Alergi makanan bukan penyebab langsung ISPA, namun pada anak tertentu dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap infeksi berulang melalui mekanisme inflamasi dan gangguan nutrisi. Pendekatan yang komprehensif, diagnosis yang tepat, dan tata laksana berbasis Evidence-Based Medicine diperlukan untuk mengurangi kekambuhan, mencegah komplikasi, dan mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak yang optimal.

Daftar Pustaka

  1. Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to Future Research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018;18(1):e30-e33.
  2. Al-Rabia MW. Food-induced immunoglobulin E-mediated allergic rhinitis. J Microsc Ultrastruct. 2016;4(2):69-75.
  3. Pang KA, Pang KP, Pang EB, Tan YN, Chan YH, Siow JK. Food allergy and allergic rhinitis in 435 Asian patients: A descriptive review. Med J Malaysia. 2017;72(4):215-220.
  4. Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016 Apr;33(2):109-13. doi: 10.5114/ada.2016.59151. Epub 2016 May 16. PMID: 27279819; PMCID: PMC4884778.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *