Alpha-gal Syndrome: Alergi Daging Merah akibat Gigitan Kutu yang Semakin Banyak Dikenali
Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara
Alpha-gal syndrome (AGS) merupakan bentuk alergi makanan yang unik dan relatif baru dikenali dalam dunia kedokteran. Berbeda dengan sebagian besar alergi makanan yang dipicu oleh protein, AGS disebabkan oleh respons imunoglobulin E (IgE) terhadap galaktosa-α-1,3-galaktosa (α-gal), yaitu molekul karbohidrat yang terdapat pada jaringan mamalia nonprimata. Sensitisasi umumnya terjadi setelah gigitan kutu, kemudian memicu reaksi alergi beberapa jam setelah seseorang mengonsumsi daging merah atau produk mamalia. Dalam beberapa tahun terakhir, laporan kasus AGS terus meningkat di berbagai negara sehingga menjadi tantangan baru dalam bidang alergi dan imunologi klinis. Artikel ini mengulas perkembangan terkini mengenai epidemiologi, mekanisme penyakit, manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan AGS berdasarkan bukti ilmiah terbaru.
Selama bertahun-tahun, alergi makanan dipahami sebagai reaksi terhadap protein pada makanan seperti susu, telur, kacang, atau makanan laut. Penemuan alpha-gal syndrome mengubah pemahaman tersebut karena menunjukkan bahwa karbohidrat juga dapat menjadi alergen yang memicu reaksi berat. AGS pertama kali dikenali setelah ditemukan hubungan antara reaksi alergi terhadap obat cetuximab, gigitan kutu, dan timbulnya alergi terhadap daging merah. Saat ini AGS telah dilaporkan di Amerika Utara, Eropa, Australia, Asia, hingga beberapa negara tropis sehingga dipandang sebagai penyakit alergi yang terus berkembang secara global.
Epidemiologi
Kejadian AGS sangat dipengaruhi oleh distribusi spesies kutu yang mampu menyebabkan sensitisasi terhadap α-gal. Di Amerika Serikat, kasus paling banyak dikaitkan dengan gigitan Amblyomma americanum atau lone star tick. Di Eropa penyakit ini berhubungan dengan Ixodes ricinus, sedangkan di Australia berkaitan dengan Ixodes holocyclus. Meningkatnya populasi satwa liar, perubahan penggunaan lahan, urbanisasi, dan perubahan iklim diduga ikut memperluas habitat kutu sehingga meningkatkan risiko paparan pada manusia.
Bagaimana Gigitan Kutu Dapat Menyebabkan Alergi Daging?
Gigitan kutu tidak hanya menyebabkan iritasi pada kulit, tetapi juga memasukkan berbagai molekul biologis melalui saliva. Saliva tersebut mengandung α-gal dan berbagai mediator imunomodulator, termasuk prostaglandin E2, yang mengarahkan respons imun ke jalur T-helper 2 (Th2). Respons ini merangsang pembentukan antibodi IgE terhadap α-gal. Setelah sensitisasi terjadi, konsumsi daging mamalia seperti sapi, kambing, domba, babi, atau rusa dapat memicu aktivasi sel mast dan basofil sehingga melepaskan histamin serta mediator inflamasi lainnya. Karena α-gal berada pada glikolipid yang memerlukan proses pencernaan dan transport melalui kilomikron sebelum masuk ke sirkulasi darah, gejala biasanya baru muncul 2 hingga 6 jam setelah makan.
Manifestasi Klinis
Manifestasi AGS sangat beragam, mulai dari gatal-gatal, biduran, pembengkakan bibir atau kelopak mata, nyeri perut, mual, muntah, diare, hingga anafilaksis yang mengancam jiwa. Ciri yang paling khas adalah munculnya gejala beberapa jam setelah mengonsumsi daging merah, berbeda dengan alergi makanan lain yang umumnya timbul dalam hitungan menit. Sebagian pasien juga dapat bereaksi terhadap jeroan mamalia, gelatin, maupun obat dan produk biologik yang berasal dari jaringan mamalia, termasuk cetuximab. Tingkat keparahan reaksi berbeda pada setiap individu dan dapat dipengaruhi oleh jumlah makanan yang dikonsumsi, kadar IgE spesifik, aktivitas fisik, konsumsi alkohol, infeksi, atau faktor kofaktor lainnya.
Diagnosis
Diagnosis AGS memerlukan kombinasi riwayat klinis yang khas, riwayat gigitan kutu, serta pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan IgE spesifik terhadap α-gal merupakan metode diagnostik yang paling penting. Uji tusuk kulit menggunakan ekstrak daging memiliki sensitivitas yang lebih rendah dibandingkan pemeriksaan serologi. Pada kasus tertentu, oral food challenge dapat dilakukan di fasilitas kesehatan yang mampu menangani anafilaksis. Diagnosis dini sangat penting karena banyak pasien tidak menyadari bahwa keluhan yang muncul beberapa jam setelah makan sebenarnya merupakan reaksi alergi.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan AGS berfokus pada pencegahan reaksi alergi dan mengurangi risiko sensitisasi ulang. Pasien dianjurkan menghindari daging mamalia serta produk lain yang mengandung α-gal sesuai tingkat sensitivitas masing-masing. Pasien dengan riwayat anafilaksis perlu membawa epinefrin sebagai terapi darurat dan memahami cara penggunaannya. Pencegahan gigitan kutu melalui penggunaan pakaian pelindung, repelan serangga, dan pengendalian lingkungan merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar IgE terhadap α-gal dapat menurun apabila gigitan kutu tidak lagi terjadi.
Perkembangan Penelitian
Penelitian mengenai AGS berkembang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai studi meneliti mekanisme molekuler sensitisasi akibat saliva kutu, peran faktor genetik, biomarker diagnostik baru, serta hubungan perubahan iklim dengan meningkatnya distribusi kutu. Selain itu, penelitian juga diarahkan untuk mengembangkan strategi terapi yang lebih spesifik sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengurangi risiko anafilaksis.
Kesimpulan
Alpha-gal syndrome merupakan penyakit alergi yang mengubah konsep klasik alergi makanan karena melibatkan respons IgE terhadap karbohidrat dan dipicu oleh gigitan kutu. Penyakit ini ditandai oleh reaksi alergi yang muncul beberapa jam setelah konsumsi daging mamalia dan semakin sering dilaporkan di berbagai negara. Peningkatan pemahaman mengenai faktor risiko, mekanisme penyakit, dan metode diagnosis diharapkan dapat mempercepat pengenalan kasus serta meningkatkan keselamatan pasien. Di tengah perubahan lingkungan dan meluasnya habitat kutu, AGS diperkirakan akan menjadi salah satu topik penting dalam penelitian alergi makanan pada masa mendatang.
Referensi
- Platts-Mills TAE, Dunaway CA, Gangwar RS, Workman LJ, Wilson JM. The alpha-gal syndrome: Understanding the role of tick bites, and the delays in severe anaphylaxis. Allergy Asthma Proc. 2026 Jul 1;47(4):237-246. doi: 10.2500/aap.2026.47.260040. PMID: 42343501; PMCID: PMC13312947.
- Fischer J, Yazdi AS, Biedermann T. Clinical spectrum of α-Gal syndrome: from immediate-type to delayed immediate-type reactions to mammalian innards and meat. Allergo Journal International. 2016;25:55-62. doi:10.1007/s40629-016-0099-z.
- Román-Carrasco P, Hemmer W, Cabezas-Cruz A, Hodžić A, de la Fuente J, Swoboda I. The α-Gal syndrome and potential mechanisms. Front Allergy. 2021;2:783279. doi:10.3389/falgy.2021.783279












Leave a Reply