KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Influenza A pada Anak: Manifestasi Klinis, Diagnosis, Komplikasi, Terapi, dan Pencegahan

Influenza A pada Anak: Manifestasi Klinis, Diagnosis, Komplikasi, Terapi, dan Pencegahan

Influenza A merupakan infeksi saluran napas akut yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Pada anak, penyakit ini dapat berlangsung ringan dan sembuh sendiri, tetapi sebagian anak dapat mengalami pneumonia, dehidrasi, kejang demam, ensefalopati, miokarditis, atau komplikasi lain. Anak usia di bawah 5 tahun, terutama di bawah 2 tahun, serta anak dengan penyakit kronis memiliki risiko komplikasi lebih tinggi. (World Health Organization)

  • Influenza A termasuk kelompok virus influenza yang memiliki kemampuan menyebabkan infeksi musiman dan wabah. Subtipe yang beredar pada manusia antara lain H1N1 dan H3N2. Berbeda dari influenza B, influenza A juga memiliki reservoir pada berbagai hewan dan memiliki karakteristik epidemiologis yang lebih kompleks.
  • Infeksi menyebar terutama melalui partikel respirasi saat penderita batuk, bersin, berbicara, atau melalui tangan dan permukaan yang terkontaminasi. Masa inkubasi umumnya 1 sampai 4 hari, dengan rata-rata sekitar 2 hari. (World Health Organization)

Gambaran klinis

  • Influenza pada anak sering muncul lebih mendadak dibandingkan common cold. Gejala dapat berupa demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, lemas, nyeri otot, menggigil, dan penurunan aktivitas.
  • Pada bayi dan anak kecil, gambaran klinis dapat lebih tidak khas. Anak dapat menjadi rewel, sulit makan atau minum, muntah, diare, tidur lebih banyak, atau tampak sangat lemah.
  • Batuk dapat bertahan lebih lama daripada demam. WHO menyebutkan bahwa sebagian besar penderita mengalami perbaikan dalam sekitar satu minggu, meskipun batuk dapat menetap selama dua minggu atau lebih. (World Health Organization)
  • Tabel gambaran klinis influenza A pada anak
Manifestasi Gambaran
Demam Sering muncul mendadak dan dapat tinggi
Batuk Sering menonjol, dapat menetap hingga beberapa minggu
Pilek Dapat terjadi, tetapi tidak selalu dominan
Nyeri tenggorokan Sering ditemukan
Nyeri otot Lebih jelas pada anak yang lebih besar
Sakit kepala Dapat terjadi
Lemas Dapat cukup berat
Nafsu makan turun Sering terjadi
Muntah Lebih sering ditemukan pada anak dibandingkan dewasa
Diare Dapat terjadi, terutama pada anak kecil
Rewel Dapat menjadi manifestasi pada bayi
Kejang demam Komplikasi neurologis yang dapat terjadi
Sesak napas Mengarah pada keterlibatan saluran napas bawah dan perlu evaluasi
Penurunan kesadaran Tanda bahaya yang membutuhkan evaluasi segera

Influenza A atau common cold?

  • Influenza tidak dapat dibedakan secara pasti hanya berdasarkan satu gejala. Demam tinggi, onset mendadak, lemas berat, nyeri otot, dan batuk lebih mendukung influenza, tetapi virus lain seperti RSV, adenovirus, rhinovirus, parainfluenza, dan SARS-CoV-2 juga dapat menyebabkan gambaran yang menyerupai influenza. (World Health Organization)
  • Karena itu, diagnosis klinis harus mempertimbangkan usia anak, pola gejala, kontak dengan penderita, musim atau aktivitas influenza di masyarakat, serta kondisi medis anak.

Tabel perbandingan klinis

Karakteristik Influenza Common cold
Awitan Sering mendadak Biasanya bertahap
Demam Sering Tidak selalu
Batuk Sering dan dapat berat Biasanya lebih ringan
Lemas Dapat berat Biasanya ringan
Nyeri otot Lebih sering Jarang
Sakit kepala Dapat terjadi Lebih jarang
Pilek Dapat terjadi Sangat sering
Komplikasi berat Dapat terjadi Relatif lebih jarang

Tabel ini bersifat klinis dan tidak dapat digunakan sebagai pengganti pemeriksaan dokter atau pemeriksaan laboratorium.

Diagnosis

  • Diagnosis influenza dapat dilakukan secara klinis, terutama ketika influenza sedang banyak beredar. Namun, pemeriksaan laboratorium diperlukan bila hasil pemeriksaan akan mengubah tata laksana atau ketika diagnosis perlu dipastikan.
  • RT-PCR atau metode molecular nucleic acid amplification mempunyai sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi dibandingkan sebagian besar rapid antigen test. Rapid influenza diagnostic tests memiliki sensitivitas yang lebih rendah sehingga hasil negatif tidak selalu menyingkirkan influenza. (World Health Organization)
  • AAP 2025 sampai 2026 juga menyatakan bahwa pemberian antivirus pada kondisi tertentu tidak harus menunggu hasil tes positif apabila gambaran klinis dan epidemiologi mendukung influenza. (American Academy of Pediatrics)

Influenza A dapat menyebabkan komplikasi

  • Sebagian besar anak sembuh tanpa komplikasi. Namun, influenza dapat menyebabkan pneumonia viral, pneumonia bakteri sekunder, dehidrasi, eksaserbasi asma, kejang demam, ensefalopati, miokarditis, dan komplikasi multisistem yang lebih jarang.
  • WHO menyebutkan bahwa influenza berat dapat berkembang menjadi pneumonia dan sepsis. Anak berusia di bawah 5 tahun termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit berat. (World Health Organization)
  • Komplikasi neurologis
    • Komplikasi neurologis influenza pada anak mencakup kejang demam, kejang tanpa demam, ensefalopati, ensefalitis, meningitis aseptik, dan kondisi neurologis lainnya.
    • Dalam studi terhadap 29.676 anak yang dirawat di rumah sakit karena influenza, 7,6% mempunyai diagnosis komplikasi neurologis. Komplikasi yang paling sering adalah kejang demam 5,0%, ensefalopati 1,7%, dan kejang nonfebril 1,2%. (PubMed)
    • Angka tersebut berasal dari anak yang sudah dirawat di rumah sakit. Angka tersebut tidak dapat diterapkan langsung pada seluruh anak dengan influenza di masyarakat.
  • Pneumonia dan infeksi bakteri sekunder
    • Pneumonia merupakan salah satu komplikasi penting influenza. Infeksi virus dapat merusak epitel saluran napas dan mengganggu pertahanan lokal sehingga mempermudah infeksi bakteri sekunder.
    • Anak dengan penyakit kronis mempunyai risiko lebih tinggi mengalami komplikasi tertentu. Meta-analisis pada anak dengan kondisi medis berisiko menemukan peningkatan risiko masuk ICU dan pneumonia bakteri dibandingkan anak tanpa kondisi medis berisiko, meskipun kualitas bukti untuk beberapa outcome masih rendah. (PubMed)
  • Kelompok anak berisiko tinggi
    • AAP 2025 sampai 2026 memasukkan anak berusia kurang dari 5 tahun sebagai kelompok dengan risiko komplikasi lebih tinggi. Risiko juga meningkat pada anak dengan penyakit kronis tertentu. (American Academy of Pediatrics)
    • Meta-analisis pada 14.086 anak menemukan beberapa faktor yang berhubungan dengan peningkatan risiko rawat inap, termasuk usia kurang dari 2 tahun, prematuritas, gangguan neurologis, diabetes, imunosupresi, dan penyakit sel sabit. (PubMed)
Faktor risiko Mengapa penting
Usia <5 tahun Risiko komplikasi lebih tinggi
Usia <2 tahun Risiko lebih tinggi dibandingkan anak yang lebih besar
Prematuritas Berhubungan dengan peningkatan risiko rawat inap
Penyakit neurologis Risiko komplikasi neurologis dan respiratorik meningkat
Asma atau penyakit paru tertentu Dapat memperberat gangguan respirasi
Penyakit jantung Meningkatkan risiko penyakit berat
Diabetes Meningkatkan risiko komplikasi
Imunosupresi Kemampuan mengendalikan infeksi lebih rendah
Penyakit ginjal atau metabolik Dapat meningkatkan risiko penyakit berat
Kontak rumah tangga berisiko tinggi Mempengaruhi pertimbangan terapi
  • Tata laksana
    • Sebagian besar anak dengan influenza ringan membutuhkan terapi suportif. Istirahat, cairan yang cukup, nutrisi sesuai toleransi, serta pengendalian demam dapat membantu menjaga kondisi anak.
    • Antibiotik tidak mengobati influenza karena penyebab utamanya adalah virus. Antibiotik hanya dipertimbangkan bila terdapat bukti atau kecurigaan infeksi bakteri sekunder.
    • Terapi antivirus mempunyai peran penting pada kelompok tertentu. AAP merekomendasikan terapi antivirus sesegera mungkin pada anak yang dirawat di rumah sakit, mengalami penyakit berat, komplikasi, atau penyakit progresif. Terapi juga direkomendasikan pada anak dengan influenza yang berusia kurang dari 5 tahun atau mempunyai kondisi yang meningkatkan risiko komplikasi. (American Academy of Pediatrics)
    • Oseltamivir
      • Oseltamivir merupakan antivirus yang paling banyak digunakan pada anak. AAP menyebut oseltamivir sebagai antivirus pilihan untuk influenza A dan B karena pengalaman penggunaannya pada anak, kemudahan pemberian, dan pertimbangan biaya. (American Academy of Pediatrics)
      • Manfaat terapi paling besar bila dimulai dalam 48 jam pertama. Namun, pada anak yang dirawat di rumah sakit, mengalami penyakit berat, progresif, atau memiliki risiko tinggi, terapi tetap dapat bermanfaat meskipun sudah lebih dari 48 jam sejak onset. (American Academy of Pediatrics)
      • Dosis harus disesuaikan dengan usia dan berat badan anak. Jangan menggunakan dosis dewasa atau menghitung dosis sendiri tanpa evaluasi dokter.

Terapi antivirus, dosis, dan penanganan lebih lanjut

  • Tidak semua anak dengan influenza A memerlukan antivirus. Pada anak sehat dengan penyakit ringan, terapi suportif dapat mencukupi. Sebaliknya, antivirus perlu segera dipertimbangkan pada anak yang dirawat di rumah sakit, mengalami penyakit berat atau progresif, mempunyai komplikasi influenza, atau mempunyai faktor risiko komplikasi. AAP 2026 sampai 2027 menempatkan oseltamivir sebagai antivirus pilihan untuk influenza A dan B pada anak karena pengalaman penggunaannya yang luas pada pediatri dan kemudahan pemberian. (American Academy of Pediatrics)
  • Oseltamivir merupakan inhibitor neuraminidase yang diberikan secara oral atau melalui feeding tube. Untuk anak usia 1 tahun atau lebih, dosis terapi ditentukan berdasarkan berat badan. Anak dengan berat ≤15 kg mendapat 30 mg dua kali sehari selama 5 hari. Berat >15 sampai 23 kg mendapat 45 mg dua kali sehari selama 5 hari. Berat >23 sampai 40 kg mendapat 60 mg dua kali sehari selama 5 hari. Berat >40 kg mendapat 75 mg dua kali sehari selama 5 hari. Skema ini tercantum dalam rekomendasi CDC dan AAP. (CDC)
  • Untuk bayi cukup bulan usia 0 sampai 8 bulan, AAP menggunakan oseltamivir 3 mg/kgBB per dosis, dua kali sehari selama 5 hari. Pada usia 9 sampai 11 bulan, rekomendasi AAP menggunakan 3,5 mg/kgBB per dosis, dua kali sehari selama 5 hari. Bayi prematur membutuhkan pertimbangan khusus karena farmakokinetiknya berbeda dan dosis bergantung pada usia gestasional serta postmenstrual age. Karena itu, dosis bayi prematur sebaiknya ditentukan dokter yang menangani. (American Academy of Pediatrics)

Tabel dosis terapi oseltamivir dapat diringkas sebagai berikut:

Usia atau berat badan Dosis terapi Lama terapi
0 sampai 8 bulan, cukup bulan 3 mg/kgBB/dosis, 2 kali sehari 5 hari
9 sampai 11 bulan 3,5 mg/kgBB/dosis, 2 kali sehari 5 hari
≥1 tahun, ≤15 kg 30 mg, 2 kali sehari 5 hari
>15 sampai 23 kg 45 mg, 2 kali sehari 5 hari
>23 sampai 40 kg 60 mg, 2 kali sehari 5 hari
>40 kg 75 mg, 2 kali sehari 5 hari

Dosis di atas merupakan dosis terapi influenza, bukan dosis profilaksis. Dosis profilaksis mempunyai frekuensi dan indikasi berbeda. Selain itu, gangguan fungsi ginjal dapat memerlukan penyesuaian dosis. Karena itu, berat badan, usia, status prematuritas, fungsi ginjal, formulasi obat, dan tujuan terapi harus diperiksa sebelum menentukan resep individual. (CDC)

Waktu pemberian sangat penting. Efek klinis paling optimal bila antivirus dimulai dalam 48 jam pertama setelah onset gejala. Namun, lebih dari 48 jam bukan berarti terapi otomatis tidak berguna. Anak dengan penyakit berat, progresif, komplikasi, atau risiko komplikasi tinggi tetap dapat memperoleh manfaat dari terapi antivirus yang dimulai setelah 48 jam. Pada pasien rawat inap atau penyakit berat, keterlambatan terapi karena menunggu hasil pemeriksaan dapat merugikan. (American Academy of Pediatrics)

Terapi suportif harus berjalan bersamaan dengan terapi antivirus ketika antivirus memang diindikasikan. Hidrasi oral menjadi pilihan pada anak yang masih mampu minum. Cairan diberikan sedikit tetapi sering bila anak mual. Nutrisi diberikan sesuai toleransi. Demam dapat ditangani dengan antipiretik sesuai usia, berat badan, dan kondisi klinis. Anak tidak perlu dipaksa makan dalam jumlah besar selama fase akut, tetapi asupan cairan dan pemantauan urine harus menjadi perhatian utama. Pada dehidrasi sedang sampai berat atau ketika anak tidak mampu minum, dokter dapat mempertimbangkan cairan enteral atau intravena.

Antibiotik tidak mempunyai aktivitas terhadap virus influenza A. Antibiotik hanya diberikan bila terdapat bukti klinis, radiologis, atau laboratoris yang mendukung infeksi bakteri sekunder. Kecurigaan tersebut dapat muncul pada anak dengan pneumonia, otitis media tertentu, sepsis, atau perburukan klinis setelah periode perbaikan. Pemberian antibiotik secara rutin pada semua anak dengan influenza A tidak sesuai dengan prinsip antimicrobial stewardship.

Oseltamivir umumnya dapat menyebabkan mual dan muntah. Pemberian bersama makanan dapat membantu mengurangi keluhan gastrointestinal pada sebagian pasien. Efek samping lain yang dapat muncul antara lain sakit kepala dan reaksi kulit. AAP juga mencantumkan diare pada anak berusia kurang dari 1 tahun sebagai efek yang dapat terjadi. Bila muncul reaksi alergi berat atau gejala yang mengkhawatirkan, obat harus dievaluasi kembali oleh dokter. (American Academy of Pediatrics)

Obat antivirus lain mempunyai tempat tertentu dalam terapi influenza. Baloxavir merupakan pilihan oral dosis tunggal untuk pasien usia tertentu, tetapi penggunaannya pada anak mempunyai batas usia dan pertimbangan klinis khusus. Zanamivir merupakan antivirus inhalasi yang dapat digunakan pada anak usia tertentu, tetapi perlu kehati-hatian pada pasien dengan asma atau penyakit saluran napas karena risiko bronkospasme. Peramivir diberikan secara intravena dan dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu. AAP menempatkan oseltamivir sebagai pilihan utama, terutama pada anak yang dirawat di rumah sakit. (American Academy of Pediatrics)

Tabel pilihan antivirus pediatrik:

Antivirus Usia pediatrik Regimen terapi Catatan
Oseltamivir Termasuk bayi dengan pertimbangan klinis khusus Umumnya 2 kali sehari selama 5 hari Pilihan utama AAP
Zanamivir ≥7 tahun untuk terapi 10 mg inhalasi, 2 kali sehari selama 5 hari Hindari atau hati-hati pada penyakit saluran napas tertentu
Peramivir ≥6 bulan 12 mg/kgBB IV dosis tunggal, maksimum 600 mg Digunakan pada kondisi tertentu
Baloxavir ≥5 tahun Dosis tunggal berdasarkan berat badan Bukan pilihan untuk semua pasien

Untuk baloxavir, AAP mencantumkan dosis tunggal 2 mg/kgBB untuk berat <20 kg, 40 mg untuk berat 20 sampai <80 kg, dan 80 mg untuk berat ≥80 kg. Obat ini tidak menggantikan oseltamivir pada semua situasi klinis. Pada anak yang dirawat di rumah sakit, AAP secara khusus menempatkan oseltamivir sebagai obat antivirus pilihan. (American Academy of Pediatrics)

Anak dengan influenza A harus segera dievaluasi di fasilitas kesehatan bila mengalami sesak, napas cepat, retraksi dada, sianosis, saturasi oksigen rendah, tidak mampu minum, dehidrasi, muntah berulang, kejang, perubahan kesadaran, nyeri dada, atau perburukan setelah sempat membaik. Pada kondisi berat, tata laksana tidak berhenti pada antivirus. Dokter perlu melakukan penilaian oksigenasi, hidrasi, perfusi, status neurologis, kemungkinan pneumonia, infeksi bakteri sekunder, dan komplikasi organ lain. Pemeriksaan darah, foto toraks, pemeriksaan gas darah, kultur, atau pemeriksaan neurologis dilakukan berdasarkan indikasi klinis.

Pencegahan tetap menjadi komponen penting. AAP 2026 sampai 2027 merekomendasikan vaksin influenza tahunan bagi anak mulai usia 6 bulan yang tidak mempunyai kontraindikasi medis. Vaksin tidak menjamin bahwa anak tidak akan pernah terinfeksi influenza, tetapi bertujuan mengurangi risiko influenza dan komplikasi berat. Pencegahan juga mencakup ventilasi yang baik, kebersihan tangan, etika batuk, menghindari kontak dekat ketika sedang sakit, serta perlindungan khusus bagi anak yang mempunyai faktor risiko komplikasi. (American Academy of Pediatrics)

Untuk penerapan klinis, prinsip utamanya adalah menilai tiga hal secara bersamaan, yaitu berat penyakit, faktor risiko anak, dan waktu sejak onset. Anak sehat dengan influenza ringan dapat membutuhkan terapi suportif saja. Anak dengan risiko tinggi atau penyakit berat memerlukan ambang yang lebih rendah untuk pemberian antivirus. Oseltamivir paling efektif bila diberikan sedini mungkin, tetapi terapi tetap perlu dipertimbangkan setelah 48 jam pada penyakit berat, progresif, komplikasi, atau kelompok berisiko. Keputusan akhir harus disesuaikan dengan usia, berat badan, fungsi ginjal, komorbiditas, status klinis, serta pola resistensi influenza yang sedang beredar. (American Academy of Pediatrics)

Tabel prinsip penggunaan antivirus

Kondisi anak Antivirus
Rawat inap dengan influenza Direkomendasikan
Penyakit berat Direkomendasikan
Penyakit progresif Direkomendasikan
Komplikasi influenza Direkomendasikan
Usia <5 tahun dengan influenza Direkomendasikan untuk dipertimbangkan sesuai evaluasi klinis
Penyakit kronis berisiko tinggi Direkomendasikan bila influenza dicurigai atau terkonfirmasi
Anak sehat dengan gejala ringan Dapat dipertimbangkan, terutama bila dimulai ≤48 jam
Gejala sudah >48 jam pada anak sehat dan ringan Keputusan individual
Tes influenza negatif tetapi klinis sangat mendukung Tidak otomatis menyingkirkan influenza

AAP menekankan bahwa terapi antivirus tidak selalu harus menunggu hasil pemeriksaan influenza positif bila kondisi klinis dan epidemiologis mendukung. (American Academy of Pediatrics)

Kapan anak harus segera dibawa ke rumah sakit?

  • Perhatian khusus diperlukan bila muncul sesak atau napas cepat, retraksi dinding dada, kebiruan, sulit dibangunkan, penurunan kesadaran, kejang, dehidrasi berat, tidak mampu minum, muntah terus-menerus, nyeri dada, atau kondisi anak memburuk setelah sempat membaik.
  • Tanda seperti gangguan kesadaran, kejang berulang, atau kesulitan bernapas membutuhkan evaluasi segera karena dapat menunjukkan komplikasi berat.

Tabel tanda bahaya

Tanda Makna klinis
Sesak napas Kemungkinan keterlibatan saluran napas bawah
Napas sangat cepat Dapat menunjukkan distress respirasi
Retraksi dada Tanda peningkatan kerja napas
Bibir kebiruan Kemungkinan hipoksemia
Sulit dibangunkan Gangguan sistem saraf atau penyakit berat
Kejang Dapat berupa kejang demam atau komplikasi neurologis
Tidak mau minum Risiko dehidrasi
Urine sangat berkurang Tanda dehidrasi
Muntah terus-menerus Risiko dehidrasi dan gangguan elektrolit
Nyeri dada Perlu evaluasi komplikasi respiratorik atau kardiak
Demam atau kondisi memburuk kembali Pertimbangkan komplikasi atau infeksi sekunder

Influenza dan kejang demam

  • Influenza A dapat berhubungan dengan kejang demam pada anak, terutama pada usia yang rentan terhadap kejang demam.
  • Dalam sebuah studi pada anak yang dirawat karena influenza A, sekitar 19,5% mengalami kejang demam. Namun, angka tersebut berasal dari populasi rawat inap dan tidak menggambarkan risiko pada seluruh anak yang terkena influenza di masyarakat. (PubMed)
  • Kejang pertama pada anak, kejang berlangsung lama, kejang berulang, kejang tanpa demam, atau anak tidak kembali sadar seperti semula memerlukan evaluasi medis segera.

Influenza dan gangguan makan

  • Influenza dapat menyebabkan anak mengalami penurunan nafsu makan sementara. Demam, nyeri tenggorokan, batuk, mual, muntah, hidung tersumbat, dan kelelahan dapat membuat anak menolak makanan.
  • Pada kebanyakan anak, nafsu makan kembali secara bertahap setelah infeksi membaik.
  • Jika anak memiliki riwayat feeding difficulty, picky eating, gangguan pertumbuhan, atau penyakit gastrointestinal, infeksi akut dapat menyebabkan penurunan asupan yang lebih bermakna. Fokus awal adalah menjaga hidrasi dan memantau kondisi klinis, bukan memaksa anak menghabiskan makanan.

Pencegahan

  • Vaksinasi influenza merupakan strategi utama untuk mencegah influenza dan mengurangi risiko penyakit berat. AAP merekomendasikan vaksin influenza tahunan untuk anak mulai usia 6 bulan, selama tidak terdapat kontraindikasi medis. (American Academy of Pediatrics)
  • Pencegahan juga mencakup mencuci tangan, etika batuk, mengurangi kontak dekat ketika sedang sakit, ventilasi yang baik, serta tidak membawa anak yang sedang mengalami infeksi akut ke lingkungan ramai bila kondisi memungkinkan.
  • WHO menyebut vaksinasi sebagai cara terbaik untuk mencegah influenza. (World Health Organization)

Tabel ringkas untuk orang tua

Pertanyaan Jawaban
Apakah influenza A selalu berat? Tidak. Sebagian besar anak mengalami penyakit ringan dan sembuh
Apakah influenza A dapat menyebabkan pneumonia? Ya
Apakah dapat menyebabkan kejang? Ya, terutama kejang demam pada anak rentan
Apakah dapat menyebabkan gangguan otak? Jarang, tetapi ensefalopati atau ensefalitis dapat terjadi
Apakah antibiotik diperlukan? Tidak untuk influenza virus tanpa bukti infeksi bakteri
Apakah semua anak perlu oseltamivir? Tidak
Kapan antivirus paling efektif? Sedini mungkin, terutama dalam 48 jam pertama
Apakah antivirus masih berguna setelah 48 jam? Ya, terutama pada penyakit berat, progresif, rawat inap, atau kelompok berisiko
Apakah rapid test negatif menyingkirkan influenza? Tidak selalu
Apakah anak sehat dapat mengalami komplikasi? Ya, walaupun risiko lebih rendah
Apakah anak <5 tahun perlu perhatian khusus? Ya, kelompok ini memiliki risiko komplikasi lebih tinggi
Apakah vaksin influenza dapat mencegah semua infeksi? Tidak selalu, tetapi vaksin membantu mengurangi risiko influenza dan penyakit berat

Inti klinis

  • Influenza A pada anak umumnya merupakan infeksi akut yang dapat sembuh sendiri. Namun, usia kecil dan penyakit penyerta mengubah profil risikonya.
  • Tiga hal penting perlu diperhatikan. Pertama, kenali anak berisiko tinggi. Kedua, jangan terlambat mempertimbangkan antivirus pada anak dengan indikasi. Ketiga, pantau tanda bahaya seperti sesak, dehidrasi, kejang, penurunan kesadaran, dan kondisi yang memburuk.
  • Untuk musim influenza 2026 sampai 2027, AAP telah menerbitkan technical report terbaru pada Agustus 2026. Dokumen tersebut menjadi pembaruan penting untuk rekomendasi vaksinasi dan antivirus pada anak. (American Academy of Pediatrics)

Daftar pustaka

  • American Academy of Pediatrics, Committee on Infectious Diseases. Recommendations for Prevention and Control of Influenza in Children, 2026–2027: Technical Report. Pediatrics. 2026. doi:10.1542/peds.2026-078779. (American Academy of Pediatrics)
  • World Health Organization. Influenza (seasonal). WHO Fact Sheet. 28 February 2025. (World Health Organization)
  • Gill PJ, Ashdown HF, Wang K, et al. Identification of children at risk of influenza-related complications in primary and ambulatory care: a systematic review and meta-analysis. Lancet Respir Med. 2015;3(2):139-149. doi:10.1016/S2213-2600(14)70252-8. PMID:25481379. (PubMed)
  • Nair H, Brooks WA, Katz M, et al. Global burden of respiratory infections due to seasonal influenza in young children: a systematic review and meta-analysis. Lancet. 2011;378:1917-1930.
  • Gill PJ, Ashdown HF, Wang K, et al. Identification of children at risk of influenza-related complications in primary and ambulatory care: a systematic review and meta-analysis. Lancet Respir Med. 2015;3(2):139-149. doi:10.1016/S2213-2600(14)70252-8. PMID:25481379.
  • Esposito S, Daleno C, Baldanti F, et al. Influenza in children. Curr Opin Pediatr. 2017;29(1):75-81. doi:10.1097/MOP.0000000000000495. PMID:28346272. (PubMed)
  • Fiore AE, Fry A, Shay D, et al. Antiviral agents for the treatment and chemoprophylaxis of influenza. MMWR Recomm Rep. 2011;60(RR-01):1-24.
  • AAP Committee on Infectious Diseases. Recommendations for Prevention and Control of Influenza in Children, 2026-2027. Pediatrics. 2026.
  • Bassett KH, Rao S, Beck J, et al. Variability of Clinician Recommendations for Oseltamivir in Children Hospitalized With Influenza. Pediatrics. 2025;155(5):e2024069111. doi:10.1542/peds.2024-069111. (PubMed)
  • World Health Organization. Influenza (seasonal). WHO. 2025. (World Health Organization)
  • World Health Organization. How can I avoid getting the flu? WHO. 2026. (World Health Organization)
  • World Health Organization. Global Influenza Surveillance and Response System and vaccine virus recommendations. WHO Global Influenza Programme. 2026. (World Health Organization)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *