Alergi Makanan, Infeksi Berulang, dan Gangguan THT pada Anak

Alergi Makanan, Infeksi Berulang, dan Gangguan THT pada Anak

Alergi makanan dapat berhubungan dengan peningkatan kecenderungan terjadinya gangguan saluran napas atas melalui mekanisme inflamasi kronis pada mukosa. Aktivasi jalur imun Th2, peningkatan produksi IgE spesifik, pelepasan histamin, leukotrien, interleukin-4 (IL-4), IL-5, dan IL-13 dapat menyebabkan edema mukosa, peningkatan produksi lendir, serta gangguan fungsi epitel saluran napas. Kondisi inflamasi yang menetap dapat mengganggu mekanisme pertahanan mukosiliar sehingga meningkatkan risiko kolonisasi mikroorganisme, infeksi saluran napas berulang, dan memperburuk penyakit THT yang sudah ada. Namun, alergi makanan bukan merupakan penyebab utama semua infeksi berulang. Evaluasi tetap harus mempertimbangkan faktor lain seperti paparan infeksi, imunitas, anatomi saluran napas, kualitas tidur, refluks, dan lingkungan.

Pada anak dengan alergi atau penyakit atopik, inflamasi kronis pada daerah nasofaring dapat menyebabkan pembengkakan jaringan limfoid seperti adenoid dan tonsil. Hipertrofi adenoid dapat menyebabkan sumbatan hidung, bernapas melalui mulut, mendengkur, gangguan tidur, serta gangguan ventilasi telinga tengah akibat hambatan fungsi tuba Eustachius. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko otitis media dengan efusi atau otitis media akut berulang. Hipertrofi tonsil juga dapat menyebabkan penyempitan jalan napas atas, gangguan menelan, suara berubah, dan berkontribusi terhadap obstructive sleep apnea pada anak. Pada sebagian pasien dengan alergi, pembengkakan mukosa hidung juga dapat menyebabkan hipertrofi konka inferior sehingga memperburuk hidung tersumbat dan gangguan pernapasan melalui hidung.

Hubungan alergi makanan dengan sinusitis kronis dan infeksi THT berulang masih memiliki bukti yang lebih terbatas dibandingkan alergi inhalan seperti tungau debu rumah atau serbuk sari. Pada pasien tertentu, inflamasi alergi dapat memperberat pembengkakan mukosa sinus dan menghambat drainase sinus sehingga meningkatkan risiko keluhan sinus berulang. Oleh karena itu, evaluasi alergi makanan pada anak dengan infeksi THT berulang harus dilakukan secara selektif berdasarkan gejala yang sesuai, bukan sebagai pemeriksaan rutin pada semua kasus. Pendekatan yang tepat diperlukan agar pasien tidak mendapatkan diet eliminasi yang tidak diperlukan dan tetap memperoleh tata laksana terhadap penyebab utama gangguan THT.

Imunopatofisiologi

Alergi makanan merupakan reaksi imunologis yang terjadi setelah tubuh mengenali protein makanan tertentu sebagai zat yang berbahaya, meskipun pada individu normal makanan tersebut tidak menimbulkan gangguan. Respons imun ini dapat melibatkan mekanisme yang diperantarai imunoglobulin E (IgE), mekanisme non-IgE, maupun kombinasi keduanya. Manifestasi klinis alergi makanan sangat beragam, mulai dari gangguan kulit seperti urtikaria dan dermatitis atopik, gangguan saluran cerna seperti muntah, nyeri perut, diare, hingga gangguan sistem pernapasan seperti mengi dan anafilaksis. Selain organ tersebut, alergi makanan juga dapat berhubungan dengan berbagai keluhan pada area telinga, hidung, tenggorok, serta kepala-leher melalui proses inflamasi mukosa, aktivasi sel mast, pelepasan mediator alergi, dan infiltrasi sel inflamasi seperti eosinofil. Keluhan yang dapat muncul antara lain rasa gatal pada rongga mulut, edema bibir, sensasi mengganjal di tenggorok, perubahan suara, gangguan menelan, hingga reaksi berat berupa edema laring pada anafilaksis.

Meskipun alergi makanan dapat berperan pada beberapa gangguan THT, sebagian besar penyakit telinga, hidung, tenggorok, dan kepala-leher tidak disebabkan oleh alergi makanan. Kondisi seperti rinitis kronis, sinusitis, otitis media, atau gangguan tenggorok memiliki berbagai penyebab lain, termasuk infeksi, faktor anatomi, paparan lingkungan, refluks, dan gangguan fungsional. Oleh karena itu, diagnosis alergi makanan tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan gejala yang tidak spesifik atau hasil pemeriksaan laboratorium tanpa korelasi klinis. Pendekatan berbasis bukti diperlukan dengan mengintegrasikan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan alergi yang tervalidasi, serta konfirmasi melalui pemeriksaan seperti oral food challenge bila diperlukan. Pendekatan yang tepat dapat mencegah overdiagnosis, menghindari eliminasi makanan yang tidak diperlukan, mempertahankan kecukupan nutrisi, dan memastikan pasien mendapatkan terapi sesuai penyebab yang sebenarnya.

Hubungan Alergi Makanan dengan Gangguan THT dan Infeksi Berulang

Kondisi THT Mekanisme yang Diduga Berhubungan dengan Alergi Makanan Hubungan Bukti Ilmiah Manifestasi Klinis
Infeksi saluran napas berulang Inflamasi mukosa kronis, gangguan pertahanan mukosiliar Terbatas Batuk pilek berulang, hidung tersumbat, sekret hidung
Hipertrofi adenoid Inflamasi kronis jaringan limfoid, stimulasi imun lokal Terbatas Napas mulut, mendengkur, tidur terganggu, suara sengau
Hipertrofi tonsil Aktivasi inflamasi mukosa dan jaringan limfoid Terbatas Tonsil membesar, sulit menelan, sleep apnea
Otitis media akut (OMA) Gangguan fungsi tuba Eustachius akibat edema nasofaring Terbatas Nyeri telinga, demam, gangguan pendengaran
Otitis media dengan efusi Obstruksi tuba Eustachius akibat inflamasi mukosa Sedang pada pasien atopik Rasa penuh di telinga, gangguan pendengaran
Hipertrofi konka inferior Inflamasi mukosa hidung, edema vaskular Lebih kuat pada alergi inhalan Hidung tersumbat kronis
Rinitis kronis Inflamasi Th2 dan mediator alergi Sedang, terutama bukan alergi makanan primer Bersin, rinore, gatal hidung
Sinusitis kronis Edema mukosa dan gangguan drainase sinus Terbatas Nyeri wajah, sekret purulen, hidung tersumbat
Eosinophilic esophagitis Inflamasi eosinofil akibat respons terhadap makanan Sangat kuat Disfagia, makanan tersangkut, muntah

Peran Alergi Makanan pada Adenoid, Tonsil, dan Infeksi THT Berulang

Pada anak dengan keluhan infeksi THT berulang, evaluasi harus membedakan antara infeksi akibat paparan patogen yang sering terjadi pada masa kanak-kanak dengan inflamasi akibat penyakit alergi. Alergi makanan dapat menjadi salah satu faktor yang mempertahankan inflamasi mukosa, tetapi jarang menjadi satu-satunya penyebab pembesaran adenoid, tonsil, atau infeksi berulang. Sebagian besar hipertrofi adenoid dan tonsil terjadi akibat respons imun lokal terhadap paparan antigen berulang pada saluran napas.

Anak dengan hipertrofi adenoid, tonsil besar, rinitis kronis, dan gejala alergi perlu dievaluasi secara menyeluruh. Pemeriksaan alergi makanan hanya dilakukan bila terdapat riwayat reaksi yang konsisten setelah konsumsi makanan tertentu, gangguan kulit, gangguan cerna, atau gejala sistemik yang mendukung. Pemeriksaan IgE tanpa indikasi klinis dapat menghasilkan diagnosis alergi palsu dan menyebabkan pembatasan makanan yang berlebihan.

Pendekatan Klinis pada Anak dengan Alergi Makanan dan Gangguan THT

Keluhan Utama Evaluasi yang Dipertimbangkan
Infeksi THT berulang Riwayat infeksi, imunodefisiensi, alergi inhalan, anatomi jalan napas
Mendengkur dan tidur terganggu Pemeriksaan adenoid, tonsil, berat badan, sleep apnea
Hidung tersumbat kronis Rinitis alergi, hipertrofi konka, polip, kelainan anatomi
Otitis media berulang Fungsi tuba Eustachius, adenoid, faktor alergi
Sinusitis berulang Evaluasi rinitis, anatomi sinus, inflamasi kronis
Gejala setelah makanan tertentu Skin prick test, serum specific IgE, oral food challenge bila diperlukan

Kesimpulan

Alergi makanan dapat berkontribusi terhadap inflamasi saluran napas atas dan memperberat beberapa gangguan THT melalui mekanisme imunologis, tetapi hubungan sebab akibat tidak sama kuat pada semua penyakit. Bukti paling kuat terdapat pada manifestasi alergi akut seperti edema laring dan kondisi inflamasi eosinofilik seperti eosinophilic esophagitis. Pada hipertrofi adenoid, hipertrofi tonsil, otitis media akut, sinusitis, dan infeksi THT berulang, alergi makanan hanya berperan pada kelompok pasien tertentu dan tidak dapat dijadikan diagnosis utama tanpa bukti klinis. Pendekatan berbasis bukti diperlukan untuk menentukan pasien yang membutuhkan evaluasi alergi dan mencegah diagnosis berlebihan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Missal SC. Food allergy in ear, nose, and throat disease. Otolaryngol Clin North Am. 1971;4(3):479-490.
  • Ferguson BJ, Golla S. Allergic disorders interface with ear, nose, and throat disorders. Otolaryngol Clin North Am. 2011;44(3):xv-xvi. doi:10.1016/j.otc.2011.04.002.
  • Cardona V, Ansotegui IJ, Ebisawa M, El-Gamal Y, Fernandez Rivas M, Fineman S, et al. World Allergy Organization anaphylaxis guidance 2020. World Allergy Organ J. 2020;13(10):100472. doi:10.1016/j.waojou.2020.100472.
  • Muraro A, Worm M, Alviani C, Cardona V, DunnGalvin A, Garvey LH, et al. EAACI guidelines: Anaphylaxis. Allergy. 2022;77(2):357-377. doi:10.1111/all.15032.
  • Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, Jones SM, Sampson HA, Wood RA, et al. Guidelines for the diagnosis and management of food allergy in the United States: Report of the NIAID-sponsored expert panel. J Allergy Clin Immunol. 2010;126(6 Suppl):S1-S58. doi:10.1016/j.jaci.2010.10.007.
  • Sampson HA, Aceves S, Bock SA, James J, Jones S, Lang D, et al. Food allergy: A practice parameter update 2014. J Allergy Clin Immunol. 2014;134(5):1016-1025.e43. doi:10.1016/j.jaci.2014.05.013.
  • Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003.
  • Fiocchi A, Brożek J, Schünemann HJ, Bahna SL, von Berg A, Beyer K, et al. World Allergy Organization (WAO) Diagnosis and Rationale for Action against Cow’s Milk Allergy (DRACMA) Guideline Update. World Allergy Organ J. 2023;16(9):100799. doi:10.1016/j.waojou.2023.100799.
  • Venter C, Brown T, Meyer R, Walsh J, Shah N, Nowak-Węgrzyn A, et al. Better recognition, diagnosis and management of non-IgE-mediated food allergy in childhood. Clin Transl Allergy. 2023;13:e12234. doi:10.1002/clt2.12234.
  • Dellon ES, Liacouras CA, Molina-Infante J, Furuta GT, Spergel JM, Zevit N, et al. Updated international consensus diagnostic criteria for eosinophilic esophagitis: Proceedings of the AGREE Conference. Gastroenterology. 2018;155(4):1022-1033.e10. doi:10.1053/j.gastro.2018.07.009.
  • Hirano I, Chan ES, Rank MA, Sharaf RN, Stollman NH, Stukus DR, et al. AGA Institute and the Joint Task Force on Allergy-Immunology Practice Parameters Clinical Guidelines for the Management of Eosinophilic Esophagitis. Gastroenterology. 2020;158(6):1776-1786. doi:10.1053/j.gastro.2020.02.038.
  • Dellon ES, Muir AB, Katzka DA, Furuta GT, Falk GW, Gonsalves N, et al. ACG Clinical Guideline: Diagnosis and Management of Eosinophilic Esophagitis. Am J Gastroenterol. 2025;120(1):31-59. doi:10.14309/ajg.0000000000003194.
  • Wise SK, Orlandi RR, Alt JA, et al. International Consensus Statement on Allergy and Rhinology: Allergic Rhinitis. Int Forum Allergy Rhinol. 2023;13(Suppl 1):S1-S126. doi:10.1002/alr.23090.
  • Peters AT, Spector S, Hsu J, et al. Diagnosis and management of rhinosinusitis: Practice parameter update. Ann Allergy Asthma Immunol. 2022;128(1):5-32. doi:10.1016/j.anai.2021.09.004.
  • Brożek JL, Bousquet J, Agache I, Agarwal A, Bachert C, Bosnic-Anticevich S, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) guidelines, 2020 revision. J Allergy Clin Immunol. 2020.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *