Overactive Bladder dan Mengompol Saat Tidur Malam pada Anak: Peran Alergi, Alergi Makanan, Alergi Non-IgE Saluran Cerna, dan Konstipasi Berdasarkan Bukti Ilmiah
Overactive Bladder (OAB) merupakan salah satu gangguan berkemih yang paling sering ditemukan pada anak. Kondisi ini ditandai oleh rasa ingin berkemih yang mendadak (urgency), frekuensi berkemih meningkat, serta inkontinensia urin yang dapat terjadi pada siang maupun malam hari. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa OAB tidak hanya disebabkan oleh gangguan kandung kemih, tetapi juga dapat berhubungan dengan penyakit alergi, termasuk rinitis alergi, asma, dermatitis atopik, alergi makanan, dan alergi non-IgE saluran cerna. Aktivasi sel mast, pelepasan histamin, serta inflamasi kronis diduga meningkatkan sensitivitas saraf dan kontraksi otot detrusor sehingga memicu gejala OAB. Selain itu, konstipasi kronis yang sering menyertai alergi makanan juga dapat memperberat gangguan berkemih. Artikel ini membahas hubungan antara OAB, mengompol saat tidur malam, alergi, alergi makanan, alergi non-IgE, dan konstipasi berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Overactive Bladder (OAB) merupakan sindrom klinis yang ditandai oleh rasa ingin berkemih yang mendadak, frekuensi berkemih meningkat, dan kadang disertai inkontinensia urin tanpa adanya infeksi saluran kemih atau kelainan anatomi. International Children’s Continence Society (ICCS) melaporkan bahwa OAB merupakan salah satu penyebab tersering gangguan berkemih pada anak usia prasekolah dan sekolah.
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian menunjukkan bahwa gangguan ini tidak hanya berkaitan dengan sistem saluran kemih. Aktivasi sistem imun, inflamasi kronis, dan pelepasan mediator alergi ternyata juga dapat memengaruhi fungsi kandung kemih. Penelitian Yin dan kolega yang dipublikasikan di PubMed dan Frontiers in Pediatrics menemukan bahwa anak dengan penyakit alergi memiliki risiko lebih tinggi mengalami OAB dibandingkan anak tanpa alergi.
Temuan tersebut membuka paradigma baru bahwa evaluasi anak dengan gangguan berkemih sebaiknya tidak hanya berfokus pada kandung kemih, tetapi juga mempertimbangkan kemungkinan adanya penyakit alergi, alergi makanan, alergi non-IgE saluran cerna, dan konstipasi kronis yang sering menjadi penyakit penyerta.
Hubungan Alergi dan Overactive Bladder
Penelitian Yin L dkk. terhadap anak dengan OAB menunjukkan bahwa prevalensi penyakit alergi secara bermakna lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Penyakit alergi yang paling sering ditemukan meliputi:
- rinitis alergi
- asma
- dermatitis atopik
- alergi makanan
- peningkatan kadar IgE
- riwayat keluarga dengan penyakit alergi
Analisis multivariat menunjukkan bahwa penyakit alergi merupakan faktor yang berhubungan secara independen dengan kejadian OAB pada anak.
Secara biologis, aktivasi sel mast menyebabkan pelepasan histamin, leukotrien, prostaglandin, dan berbagai sitokin proinflamasi. Mediator tersebut dapat meningkatkan kontraksi otot detrusor, menurunkan ambang rangsang saraf kandung kemih, serta meningkatkan sensitivitas reseptor sensorik sehingga anak lebih mudah merasakan keinginan berkemih walaupun volume urin masih sedikit.
Mengapa Anak Dapat Mengompol Saat Tidur Malam?
Mengompol saat tidur malam atau nokturnal enuresis merupakan salah satu manifestasi yang dapat menyertai OAB.
Pada anak dengan OAB, kandung kemih menjadi lebih sensitif terhadap pengisian urin sehingga kontraksi otot detrusor dapat terjadi sebelum kandung kemih penuh. Saat tidur, kemampuan otak untuk menghambat kontraksi kandung kemih juga menurun sehingga urin keluar tanpa disadari.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak dengan penyakit alergi memiliki angka kejadian nokturnal enuresis yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Gangguan tidur akibat rinitis alergi, asma malam hari, atau inflamasi sistemik diduga ikut berperan dalam mekanisme tersebut.
Gejala Overactive Bladder pada Anak
Gejala yang sering ditemukan meliputi:
- rasa ingin berkemih yang sangat mendadak
- frekuensi berkemih lebih dari delapan kali pada siang hari
- sulit menahan kencing
- buang air kecil sedikit tetapi sering
- mengompol pada siang hari
- mengompol saat tidur malam (nokturnal enuresis)
- sering berlari ke toilet
- menyilangkan kaki atau memegang daerah genital untuk menahan kencing
- rasa berkemih tidak tuntas
- tidak ditemukan infeksi saluran kemih pada sebagian besar kasus
Peran Alergi Makanan dan Alergi Non-IgE
Selain alergi pernapasan, alergi makanan juga diduga berkontribusi terhadap gangguan kandung kemih.
Pada alergi non-IgE saluran cerna terjadi inflamasi kronis pada mukosa usus yang dimediasi oleh limfosit T dan berbagai sitokin inflamasi. Inflamasi kronis tersebut dapat meningkatkan aktivasi sistem imun sistemik sehingga diduga ikut memengaruhi fungsi saraf otonom yang mengatur kandung kemih.
Anak dengan alergi makanan sering mengalami:
- konstipasi kronis
- refluks gastroesofageal
- muntah
- mual
- nyeri perut
- diare kronis
- BAB berlendir
- BAB berdarah
- sulit makan
- berat badan sulit naik
Keluhan tersebut dapat terjadi bersamaan dengan gangguan berkemih sehingga evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh.
Konstipasi Memperberat Overactive Bladder
Hubungan antara konstipasi dan gangguan berkemih telah dibuktikan dalam berbagai penelitian.
Rektum yang penuh oleh tinja dapat menekan kandung kemih sehingga:
- kapasitas kandung kemih berkurang
- kontraksi detrusor meningkat
- rasa ingin berkemih muncul lebih cepat
- mengompol siang maupun malam menjadi lebih sering
Karena itu, pedoman ICCS dan ESPGHAN menekankan bahwa setiap anak dengan OAB harus dievaluasi terhadap kemungkinan konstipasi kronis.
Kapan Harus Mencurigai Peran Alergi?
Hubungan alergi perlu dipertimbangkan apabila anak dengan OAB atau mengompol juga mengalami:
- rinitis alergi
- hidung tersumbat kronis
- bersin berulang
- asma atau batuk berulang
- dermatitis atopik
- alergi makanan
- refluks
- mual
- muntah
- konstipasi kronis
- diare berulang
- nyeri perut
- berat badan sulit naik
- riwayat keluarga dengan penyakit alergi
Implikasi Klinis
Pendekatan terhadap anak dengan OAB dan nokturnal enuresis tidak cukup hanya memberikan obat untuk kandung kemih. Evaluasi perlu mencakup gangguan saluran cerna, konstipasi, penyakit alergi, kualitas tidur, dan pola makan. Pada anak yang dicurigai mengalami alergi makanan, diagnosis harus mengikuti pedoman internasional melalui anamnesis yang rinci, eliminasi makanan yang terarah, dan Oral Food Challenge bila diindikasikan. Penatalaksanaan multidisiplin yang menggabungkan uroterapi, terapi konstipasi, pengendalian alergi, dan intervensi nutrisi berpotensi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan terapi yang hanya berfokus pada gejala berkemih.
Tabel 1. Hubungan Penyakit Alergi dengan Gangguan Berkemih pada Anak
| Penyakit alergi | Mekanisme yang diduga | Manifestasi berkemih |
|---|---|---|
| Rinitis alergi | Histamin, gangguan tidur | Urgency, nokturnal enuresis |
| Asma | Inflamasi sistemik | Frekuensi berkemih meningkat |
| Dermatitis atopik | Aktivasi sel mast | OAB |
| Alergi makanan | Inflamasi sistemik | OAB, urgency |
| Alergi non-IgE saluran cerna | Aktivasi limfosit T dan sitokin | OAB disertai gangguan saluran cerna |
| Konstipasi akibat alergi makanan | Penekanan mekanis kandung kemih | Urgency, mengompol siang dan malam |
Kesimpulan
Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa Overactive Bladder dan mengompol saat tidur malam pada anak dapat berkaitan dengan penyakit alergi melalui mekanisme inflamasi, aktivasi sel mast, dan pelepasan histamin. Alergi makanan, terutama alergi non-IgE saluran cerna, serta konstipasi kronis juga dapat berkontribusi terhadap gangguan fungsi kandung kemih. Oleh karena itu, evaluasi anak dengan OAB dan nokturnal enuresis sebaiknya dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan kemungkinan penyakit alergi dan gangguan saluran cerna agar tata laksana lebih tepat sasaran.
Referensi
- Yin L, Zhang Z, Zheng Y, et al. Clinical Correlation Between Overactive Bladder and Allergy in Children. Front Pediatr. 2022;9:813161. doi:10.3389/fped.2021.813161.
- Austin PF, Bauer SB, Bower W, et al. The Standardization of Terminology of Lower Urinary Tract Function in Children and Adolescents. Neurourol Urodyn. 2016;35:471-481.
- Tabbers MM, Di Lorenzo C, Berger MY, et al. Evaluation and Treatment of Functional Constipation in Infants and Children. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2014;58:258-274.
- Vandenplas Y, et al. World Allergy Organization DRACMA Guideline Update. World Allergy Organ J. 2023;16:100797.










Leave a Reply