Rhinitis Alergi dan Alergi Makanan pada Anak, Apa Hubungannya?

 

Rhinitis Alergi dan Alergi Makanan pada Anak, Apa Hubungannya?

Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara

Rhinitis Alergi Sangat Sering Terjadi pada Anak

  • Rhinitis alergi atau pilek alergi merupakan salah satu penyakit alergi yang paling sering dialami anak. Keluhannya berupa bersin berulang, pilek bening, hidung gatal, dan hidung tersumbat, terutama pada pagi hari atau saat terpapar debu. Gejala ini sering mengganggu tidur, membuat anak mudah lelah, sulit berkonsentrasi di sekolah, dan menurunkan kualitas hidup. Penyebab utamanya adalah alergen yang terhirup, seperti tungau debu rumah, bulu hewan, jamur, atau serbuk sari.

Apakah Alergi Makanan Menyebabkan Rhinitis Alergi?

  • Banyak orang tua mengira setiap pilek yang sering kambuh disebabkan oleh makanan, seperti susu, telur, atau makanan dingin. Berdasarkan penelitian, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Alergi makanan bukan penyebab langsung rhinitis alergi. Namun, anak yang memiliki alergi makanan sejak usia dini lebih berisiko mengalami rhinitis alergi ketika bertambah besar dibandingkan anak yang tidak memiliki alergi makanan.

Mengapa Keduanya Sering Berkaitan?

  • Hubungan ini dikenal sebagai atopic march, yaitu perjalanan alami penyakit alergi. Pada sebagian anak, alergi dimulai dari dermatitis atopik atau eksim dan alergi makanan saat bayi, kemudian berkembang menjadi asma dan rhinitis alergi pada usia sekolah. Risiko ini lebih tinggi pada anak dengan riwayat alergi dalam keluarga. Penelitian menunjukkan sekitar 35 hingga 40 persen anak dengan alergi makanan dapat mengalami rhinitis alergi di kemudian hari. Alergi terhadap susu sapi, telur, dan kacang tanah merupakan jenis yang paling sering dikaitkan dengan kondisi tersebut.

Kapan Perlu Mencurigai Alergi Makanan?

  • Tidak semua anak dengan rhinitis alergi memerlukan pemeriksaan alergi makanan. Evaluasi lebih lanjut perlu dipertimbangkan bila setiap kali mengonsumsi makanan tertentu anak selalu mengalami bentol, bibir bengkak, muntah, diare, sesak, eksim yang memburuk, atau keluhan yang berulang dengan pola yang sama. Sebaliknya, bila gejala hanya berupa bersin dan hidung tersumbat tanpa hubungan yang jelas dengan makanan, penyebabnya lebih sering berasal dari alergen yang terhirup.

Bagaimana Menegakkan Diagnosis?

  • Diagnosis alergi makanan tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan skin prick test, pemeriksaan IgE spesifik, atau panel alergi. Pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan adanya sensitisasi, bukan selalu berarti makanan tersebut benar-benar menyebabkan alergi. Diagnosis harus didasarkan pada riwayat gejala yang jelas setelah mengonsumsi makanan tertentu. Bila masih meragukan, Open Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan apakah makanan tersebut benar-benar menjadi penyebab alergi.

Penanganan yang Tepat

  • Rhinitis alergi ditangani dengan mengurangi paparan alergen, menjaga kebersihan lingkungan, mencuci hidung dengan larutan saline bila diperlukan, serta menggunakan obat sesuai anjuran dokter. Bila alergi makanan telah dipastikan melalui evaluasi yang tepat, makanan penyebab dihindari secara selektif sambil tetap memenuhi kebutuhan gizi anak. Pembatasan makanan tanpa diagnosis yang jelas dapat menyebabkan kekurangan nutrisi dan mengganggu pertumbuhan.

Pesan untuk Orang Tua

Tidak semua pilek alergi disebabkan oleh makanan, dan tidak semua hasil tes alergi berarti anak benar-benar alergi. Pemeriksaan serta pengobatan harus disesuaikan dengan riwayat keluhan dan dilakukan berdasarkan Evidence-Based Medicine. Dengan diagnosis yang tepat, anak dapat terhindar dari pantangan makanan yang tidak perlu, memperoleh terapi yang sesuai, serta tumbuh dan berkembang secara optimal.

Daftar Pustaka

  • Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to Future Research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018;18(1):e30-e33. doi:10.18295/squmj.2018.18.01.005.
  • Al-Rabia MW. Food-induced immunoglobulin E-mediated allergic rhinitis. J Microsc Ultrastruct. 2016 Apr-Jun;4(2):69-75. doi: 10.1016/j.jmau.2015.11.004. Epub 2015 Dec 14. PMID: 30023212; PMCID: PMC6014210.
  • Pang KA, Pang KP, Pang EB, Tan YN, Chan YH, Siow JK. Food allergy and allergic rhinitis in 435 asian patients – A descriptive review. Med J Malaysia. 2017 Aug;72(4):215-220. PMID: 28889132.
  • Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to future research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018 Feb;18(1):e30-e33. doi: 10.18295/squmj.2018.18.01.005. Epub 2018 Apr 4. PMID: 29666678; PMCID: PMC5892810.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *