KLINIK DR WIDODO pediatrician

BETTER ALLERGY CARE, HEALTHIER CHILDHOOD

Adenoiditis pada Anak: Tinjauan Ilmiah Komprehensif

Adenoiditis pada Anak: Tinjauan Ilmiah Komprehensif

Adenoiditis adalah peradangan jaringan adenoid yang dapat bersifat akut maupun kronis. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab tersering obstruksi jalan napas atas pada anak, ditandai dengan hidung tersumbat kronis, napas melalui mulut, mendengkur, gangguan tidur, hingga gangguan pendengaran akibat disfungsi tuba Eustachius. Adenoiditis sering berkaitan dengan infeksi virus, bakteri, maupun inflamasi kronis yang dipengaruhi alergi. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, nasoendoskopi sebagai baku emas, serta radiografi lateral nasofaring bila endoskopi tidak tersedia. Penatalaksanaan meliputi terapi medikamentosa sesuai penyebab, pengobatan komorbid seperti rinitis alergi, dan adenoidektomi pada kasus yang memenuhi indikasi.


Anatomi Adenoid

Adenoid merupakan jaringan limfoid yang termasuk Waldeyer’s ring, terletak di atap dan dinding posterior nasofaring.

Fungsi utama:

  • Pertahanan imun mukosa
  • Produksi limfosit B
  • Produksi IgA sekretori
  • Pengenalan antigen inhalasi

Pertumbuhan maksimal:

  • usia 3–7 tahun
  • mengecil setelah pubertas

Tabel 1. Anatomi dan Fungsi Adenoid

Aspek Keterangan
Lokasi Atap nasofaring
Jaringan Limfoid
Bagian dari Waldeyer’s Ring
Fungsi Pertahanan imun mukosa
Imunoglobulin IgA dominan
Ukuran terbesar 3–7 tahun
Involusi Setelah pubertas

Definisi

Adenoiditis adalah inflamasi adenoid akibat infeksi akut maupun inflamasi kronis yang menyebabkan pembesaran adenoid disertai gejala klinis.

Harus dibedakan dari:

  • hipertrofi adenoid tanpa inflamasi
  • adenoid fisiologis pada anak

Epidemiologi

  • sangat sering pada usia 2–8 tahun
  • penyebab utama obstruksi hidung kronis anak
  • sering bersamaan dengan:
    • rinitis alergi
    • sinusitis
    • otitis media efusi
    • tonsilitis

Tabel 2. Faktor Risiko

Faktor Mekanisme
ISPA berulang stimulasi limfoid
Virus inflamasi akut
Bakteri infeksi kronis
Rinitis alergi edema mukosa
Asap rokok inflamasi kronis
Polusi udara iritasi mukosa
Refluks iritasi nasofaring
Imunitas rendah infeksi berulang

Etiologi

Virus

Paling sering:

  • Rhinovirus
  • Adenovirus
  • RSV
  • Influenza
  • Parainfluenza
  • Coronavirus

Bakteri

  • Streptococcus pneumoniae
  • Haemophilus influenzae
  • Moraxella catarrhalis
  • Staphylococcus aureus
  • Streptococcus pyogenes

Tabel 3. Penyebab Adenoiditis

Penyebab Frekuensi
Virus Sangat sering
Bakteri Sering
Biofilm bakteri Sering pada kronis
Alergi Faktor predisposisi
Refluks Faktor tambahan

Patofisiologi

Paparan mikroorganisme atau alergen menyebabkan:

Antigen

Aktivasi limfosit

Produksi sitokin

Edema mukosa

Hipertrofi adenoid

Obstruksi nasofaring

Disfungsi tuba Eustachius

Otitis media

Gangguan tidur


Peran Biofilm

Pada adenoiditis kronis sering ditemukan biofilm bakteri yang:

  • melindungi bakteri dari antibiotik
  • menyebabkan kekambuhan
  • mempertahankan inflamasi kronis

Tabel 4. Sitokin yang Berperan

Sitokin Fungsi
IL-1β inflamasi
IL-6 respon akut
IL-8 kemotaksis neutrofil
TNF-α inflamasi
IL-4 alergi
IL-5 eosinofil
IL-13 produksi mukus

Manifestasi Klinis

Gejala utama:

  • hidung tersumbat
  • napas mulut
  • mendengkur
  • tidur gelisah
  • pilek kronis
  • postnasal drip
  • batuk malam
  • suara sengau
  • bau mulut
  • demam (akut)

Tabel 5. Gejala Klinis

Gejala Akut Kronis
Demam +++ ±
Nyeri tenggorokan ++ ±
Hidung tersumbat ++ +++
Napas mulut + +++
Mendengkur + +++
Sleep apnea ± ++
Halitosis + ++
Batuk malam + ++

Hubungan dengan Otitis Media

Hipertrofi adenoid dapat:

  • menutup muara tuba Eustachius
  • menyebabkan tekanan negatif telinga tengah
  • otitis media efusi
  • gangguan pendengaran konduktif

Tabel 6. Komplikasi

Komplikasi Mekanisme
OME Disfungsi tuba
Otitis akut Penyebaran infeksi
Sinusitis Obstruksi ostium
Sleep apnea Obstruksi jalan napas
Gangguan pertumbuhan Gangguan tidur kronis
Gangguan belajar Hipoksia tidur

Diagnosis

Anamnesis

  • mendengkur
  • napas mulut
  • pilek kronis
  • gangguan tidur
  • infeksi berulang

Pemeriksaan Fisik

  • mulut terbuka
  • wajah adenoid
  • postnasal drip
  • hipertrofi tonsil

Pemeriksaan Penunjang

Gold Standard

  • Nasoendoskopi fleksibel.

Alternatif

  • Foto lateral nasofaring.

Bila dicurigai OSA

  • Polisomnografi.

Tabel 7. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Nilai
Endoskopi Baku emas
Foto lateral Alternatif
CT Scan Jarang diperlukan
MRI Indikasi khusus
Polisomnografi Sleep apnea

Gambaran Radiologi

Parameter:

  • Adenoid–Nasopharyngeal Ratio (A/N ratio)
  • Airway narrowing
  • Ketebalan adenoid

Interpretasi umum:

  • <50% obstruksi: ringan
  • 50–75%: sedang
  • 75%: berat


Tabel 8. Derajat Obstruksi Adenoid

Derajat Obstruksi
Ringan <50%
Sedang 50–75%
Berat >75%

Diagnosis Banding

  • Hipertrofi adenoid tanpa inflamasi
  • Rinitis alergi
  • Sinusitis kronis
  • Deviasi septum
  • Polip hidung
  • Tumor nasofaring (jarang)

Tabel 9. Diagnosis Banding

Penyakit Pembeda
Rinitis alergi Bersin dominan
Sinusitis Nyeri wajah
Polip Massa hidung
Hipertrofi adenoid Tanpa tanda inflamasi
Tumor Perdarahan unilateral

Tata Laksana

Terapi Medikamentosa

Bila infeksi bakteri dicurigai:

  • amoksisilin atau amoksisilin-klavulanat sesuai indikasi klinis dan pedoman lokal.

Terapi tambahan:

  • irigasi saline
  • analgesik/antipiretik
  • kortikosteroid intranasal pada pasien dengan hipertrofi adenoid yang berkaitan dengan rinitis alergi atau inflamasi kronis
  • tata laksana alergi bila ada

Antibiotik tidak dianjurkan untuk adenoiditis yang kemungkinan besar disebabkan oleh virus.


Indikasi Adenoidektomi

  • Obstruksi hidung persisten
  • Sleep apnea obstruktif
  • Otitis media efusi berulang
  • Sinusitis kronis refrakter
  • Gangguan tumbuh kembang akibat gangguan tidur
  • Kecurigaan keganasan (jarang)

Tabel 10. Indikasi Operasi

Indikasi Operasi
OSA Ya
OME berulang Ya
Sinusitis kronis Ya
Obstruksi berat Ya
Adenoiditis kronis refrakter Ya
Rinitis alergi saja Tidak

Prognosis

Sebagian besar anak membaik dengan terapi konservatif. Pada kasus dengan obstruksi berat atau komplikasi, adenoidektomi umumnya memberikan perbaikan gejala, kualitas tidur, dan fungsi telinga tengah. Meskipun adenoid dapat mengalami pertumbuhan kembali setelah operasi, kejadian ini relatif jarang dan lebih mungkin terjadi pada anak yang dioperasi pada usia sangat muda atau masih memiliki faktor inflamasi seperti alergi yang belum terkontrol.


Ringkasan Poin Penting

Aspek Ringkasan
Definisi Inflamasi adenoid akut atau kronis
Usia tersering 2–8 tahun
Penyebab Virus, bakteri, alergi sebagai faktor predisposisi
Gejala utama Hidung tersumbat, napas mulut, mendengkur
Pemeriksaan terbaik Nasoendoskopi
Radiologi Foto lateral nasofaring bila endoskopi tidak tersedia
Komplikasi OME, sinusitis, OSA, gangguan tidur
Terapi Simptomatik, antibiotik bila diindikasikan, kortikosteroid intranasal pada kasus tertentu, adenoidektomi bila memenuhi indikasi

Referensi ilmiah pilihan

  1. American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery. Clinical Practice Guidelines mengenai tonsil dan adenoid.
  2. European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EPOS 2020).
  3. American Academy of Pediatrics. Pedoman infeksi saluran napas atas dan otitis media.
  4. European Academy of Allergy and Clinical Immunology. Pedoman rinitis alergi dan penyakit saluran napas atas.
  5. Infectious Diseases Society of America. Pedoman sinusitis bakteri akut pada anak dan dewasa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *